Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
PendidikanRagam Daerah

100 Pemuda Majalengka Siap Kuliah dan Bekerja di Jepang Lewat Program SDSS

118
×

100 Pemuda Majalengka Siap Kuliah dan Bekerja di Jepang Lewat Program SDSS

Sebarkan artikel ini
Bupati Majalengka H Eman Suherman Resmi Luncurkan Program Ssatu Desa Satu Sarjana di SMK PUI Majalengka, Pada Kamis (08/10/2026)

Majalengka, Jabar | secondnewsupdate.co.id — Lembaran baru program pendidikan bagi pemuda Kabupaten Majalengka resmi dimulai. 

Sebanyak 100 pemuda terpilih dari berbagai desa mendapatkan kesempatan mengikuti program Satu Desa Satu Sarjana (SDSS) dengan skema kuliah sekaligus bekerja di Jepang.

Example 300x600

Program yang digagas Pemerintah Kabupaten Majalengka bersama Universitas Teknologi Bandung (UTB) tersebut diluncurkan Bupati Majalengka H. Eman Suherman, Kamis (8/10/2026).

Program ini menyasar anak-anak desa, khususnya dari keluarga prasejahtera pada kelompok desil 1 hingga 4. Para peserta terlebih dahulu akan menjalani pelatihan selama enam bulan sebelum diberangkatkan ke Jepang.

Dalam program tersebut, peserta tidak hanya dipersiapkan untuk menempuh pendidikan tinggi, tetapi juga dibekali kemampuan bahasa Jepang, kesiapan mental, kedisiplinan serta keterampilan kerja.

“Hari ini kita saksikan sejarah baru. Seratus pemuda dari desa-desa kita melangkah menuju negeri yang jauh, untuk menimba ilmu sekaligus bekerja untuk menopang ekonomi keluarga,” ujar Eman.

Menurut Eman, program tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemkab Majalengka dengan UTB sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat kurang mampu.

Ia menyebut persoalan pendidikan masih menjadi tantangan yang harus mendapatkan perhatian serius. Saat ini, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) masyarakat Majalengka berada di angka 7,81 tahun, sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Majalengka tercatat 72,37.

“Ini menjadi tantangan kita bersama. Karena itu, pendidikan harus menjadi salah satu prioritas. Kita ingin anak-anak Majalengka, khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu, memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” katanya.

Target Lahirkan Sarjana dari Setiap Desa

Eman menjelaskan, program Satu Desa Satu Sarjana merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk memperluas kesempatan masyarakat Majalengka mendapatkan pendidikan tinggi.

Dalam lima tahun masa kepemimpinannya, Pemkab Majalengka menargetkan sedikitnya 343 sarjana dari 334 desa/kelurahan dapat lahir melalui program tersebut.

“Target kita minimal ada sarjana dari setiap desa dan kelurahan. Sampai tahun 2026 baru ada 170. Ini adalah bagian dari komitmen kita agar anak-anak Majalengka mempunyai kesempatan untuk kuliah, terutama mereka yang secara ekonomi memang membutuhkan dukungan,” ungkap Eman.

Namun, konsep SDSS tahun ini memiliki perbedaan dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Jika sebelumnya lebih menitikberatkan pada kesempatan kuliah, kini program dikembangkan dengan konsep kuliah sekaligus bekerja di Jepang.

“Kita tidak ingin anak-anak hanya mendapatkan ijazah. Mereka juga harus memiliki keterampilan dan pengalaman kerja. Dengan kuliah sambil bekerja di Jepang, mudah-mudahan ketika pulang ke Majalengka mereka sudah mempunyai ilmu, pengalaman dan bekal ekonomi,” jelasnya.

Pemkab Siapkan Skema Pembiayaan

Untuk mendukung keberangkatan peserta, Pemkab Majalengka juga berupaya memberikan kemudahan dari sisi pembiayaan.

Eman mengatakan pemerintah daerah bekerja sama dengan pihak perbankan untuk memfasilitasi kebutuhan peserta, sehingga orang tua tidak terbebani biaya besar ataupun harus mencari pinjaman secara mandiri.

“Kita berusaha agar orang tua tidak terbebani. Pemerintah daerah bersama pihak terkait akan memfasilitasi kebutuhan keberangkatan melalui skema yang sudah disiapkan,” katanya.

Di hadapan para penerima beasiswa, Eman berpesan agar kesempatan tersebut dimanfaatkan secara sungguh-sungguh.

Ia meminta seluruh peserta mengikuti pelatihan selama enam bulan dengan disiplin, terutama dalam pembelajaran bahasa Jepang, pembentukan mental serta keterampilan kerja.

“Jangan mudah menyerah. Jangan mundur di tengah jalan. Ini kesempatan emas yang belum tentu datang dua kali. Manfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh untuk masa depan kalian dan keluarga,” pesan Eman.

UTB Siapkan Peserta untuk Lingkungan Internasional

Sementara itu, Rektor Universitas Teknologi Bandung (UTB), Muhammad Naseer, mengapresiasi visi dan komitmen Pemkab Majalengka dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, kerja sama tersebut tidak sekadar memberikan kesempatan kepada masyarakat kurang mampu untuk mengenyam pendidikan tinggi, tetapi juga mempersiapkan mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja internasional.

“Kami sangat mengapresiasi visi dan komitmen Pemkab Majalengka dalam meningkatkan kualitas SDM daerah. Melalui program kolaborasi ini, para mahasiswa tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik hingga meraih gelar sarjana, tetapi juga dibekali keterampilan bahasa serta pengalaman kerja internasional di Jepang,” ujar Naseer.

Ia menambahkan, UTB akan memberikan pendampingan intensif selama masa persiapan enam bulan.

Materi pendampingan meliputi kesiapan mental, kemampuan bahasa, kompetensi serta berbagai pembekalan yang dibutuhkan peserta sebelum menjalani pendidikan dan pekerjaan di Jepang.

“Kami berkomitmen mendampingi dan mendidik para mahasiswa selama enam bulan pelatihan ini agar mereka siap secara mental, bahasa dan kompetensi sebelum diberangkatkan,” katanya.

Dari Desa Menuju Negeri Sakura

Bagi para peserta, kesempatan tersebut menjadi pintu menuju pengalaman baru yang sebelumnya mungkin hanya menjadi impian.

Salah seorang penerima beasiswa SDSS asal Kecamatan Sindangwangi, Rita, mengaku bersyukur mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program kuliah sekaligus bekerja di Jepang.

“Saya sangat bersyukur dan tidak menyangka bisa mendapatkan kesempatan emas ini. Bagi kami yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, bisa kuliah saja sudah menjadi impian besar, apalagi mendapatkan kesempatan untuk belajar dan bekerja di Jepang,” tutur Rita.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Majalengka dan UTB yang telah membuka akses pendidikan tersebut.

“Kami akan belajar dengan tekun dan fokus selama enam bulan pelatihan ini. Kami tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan dari pemerintah dan doa orang tua,” katanya.

Program Satu Desa Satu Sarjana diharapkan tidak berhenti pada keberangkatan peserta ke Jepang. 

Para pemuda tersebut diproyeksikan kembali ke Majalengka dengan membawa ilmu, pengalaman, keterampilan serta wawasan baru untuk kemudian berkontribusi bagi daerah.

Semangat yang dibangun melalui program ini adalah pergi untuk belajar, pulang untuk membangun.

Para peserta diharapkan mampu mendirikan usaha, mengembangkan potensi desa, menciptakan lapangan kerja maupun menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya.

Dengan demikian, investasi pemerintah daerah di bidang pendidikan tidak hanya menghasilkan sarjana, tetapi juga sumber daya manusia yang memiliki pengalaman internasional dan dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan Kabupaten Majalengka menuju Majalengka Langkung Sae. (Ast)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600