Jakarta//secondnewsupdate.co.id – Kisah cinta Ismail Marzuki dan Eulis Zuraidah bukan sekadar romansa, tetapi sumber inspirasi lahirnya lagu-lagu legendaris Indonesia yang abadi hingga kini.
Nama Ismail Marzuki dikenal luas sebagai maestro musik Indonesia yang melahirkan deretan lagu legendaris.
Namun, di balik karya-karyanya yang monumental, tersimpan kisah cinta mendalam bersama sang istri, Eulis Zuraidah, sosok yang tak hanya menjadi pendamping hidup, tetapi juga sumber inspirasi utama dalam perjalanan kreatifnya.
Hubungan keduanya menjadi bukti bahwa cinta dan seni dapat berjalan seiring, saling menguatkan, dan meninggalkan jejak abadi bagi bangsa.
Kisah cinta Ismail Marzuki dan Eulis Zuraidah bermula pada penghujung 1930-an, saat geliat seni pertunjukan dan radio menjadi ruang bertemunya para musisi.
Ismail kala itu aktif sebagai komponis di Orkes Lief Java, sementara Eulis—penyanyi keroncong asal Bandung—tampil memikat dengan suara khasnya.
Pertemuan mereka terjadi secara alami di panggung seni dan siaran radio. Bukan hanya kecantikan yang membuat Ismail jatuh hati, melainkan kualitas vokal Eulis yang mampu menerjemahkan emosi lagu-lagu ciptaannya dengan sempurna.
Dari kolaborasi musikal itulah benih asmara tumbuh hingga akhirnya mereka menikah pada 1940 dan menetap di Jakarta.
Ismail Marzuki dikenal sebagai pribadi yang tidak banyak bicara, namun mampu menumpahkan perasaan melalui komposisi musik.
Bagi sang maestro, Eulis adalah muse, sumber ilham yang memberi nyawa pada lirik dan melodi.
Sejumlah lagu bertema cinta yang ia ciptakan diyakini merupakan refleksi perasaan terdalamnya kepada sang istri.
Salah satu kisah yang kerap dikenang adalah latar emosional lagu Halo-Halo Bandung.
Sebelum dikenal sebagai lagu perjuangan, karya tersebut awalnya lahir dari rasa rindu Ismail terhadap Eulis dan kota kelahirannya, Bandung, ungkapan personal yang kemudian bertransformasi menjadi simbol nasionalisme.
Kesetiaan di Tengah Masa Sulit
Perjalanan rumah tangga mereka tidak selalu berada dalam kemapanan.
Masa perjuangan kemerdekaan dan kondisi kesehatan Ismail yang kian memburuk akibat penyakit paru-paru menjadi ujian berat.
Namun, Eulis tetap setia mendampingi, menjadi sandaran di saat sang maestro berada di titik terlemah.
Kesetiaan itu mencapai puncaknya pada 25 Mei 1958. Di rumah sederhana mereka di kawasan Tanah Abang, Ismail Marzuki menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan sang istri.
Sebelum wafat, ia menitipkan pesan agar Eulis menjaga karya-karyanya serta merawat putri angkat mereka, Rachmi.
Penjaga Warisan Sang Maestro
Setelah kepergian Ismail Marzuki, Eulis Zuraidah mengambil peran penting sebagai penjaga warisan seni sang suami.
Ia dikenal sangat tegas dalam menjaga keaslian dan martabat lagu-lagu ciptaan Ismail, memastikan karya tersebut tidak diperlakukan sembarangan.
Hingga akhir hayatnya, Eulis berdiri sebagai simbol kesetiaan dan dedikasi, bukan hanya kepada suaminya, tetapi juga kepada khazanah musik Indonesia.
Cinta yang Tak Pernah Usai
Kisah Ismail Marzuki dan Eulis Zuraidah bukan sekadar cerita romantis, melainkan potret bagaimana cinta mampu melahirkan karya besar yang melampaui zaman.
Melalui nada dan lirik yang abadi, romansa mereka terus hidup, mengalun di hati generasi demi generasi sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa. (Megy)















