Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
ArtikelBudayaInformatikaRagam Daerah

Hotel Tjimahi Dijual: Jejak 99 Tahun Sejarah Militer, Presiden, hingga Tragedi yang Terlupakan

857
×

Hotel Tjimahi Dijual: Jejak 99 Tahun Sejarah Militer, Presiden, hingga Tragedi yang Terlupakan

Sebarkan artikel ini
Hotel Tjimahi, hotel tertua di Kota Cimahi yang berdiri sejak 1927, kini berada di persimpangan jalan sejarah.

Cimahi//secondnewsupdate.co.id –Di tengah lalu lintas padat Jalan Amir Machmud, berdiri sebuah bangunan tua yang nyaris luput dari perhatian. Tak banyak yang menyangka, hotel sederhana itu menyimpan cerita panjang tentang kolonialisme, militer, tokoh nasional, hingga ironi sejarah yang berujung pada penjualan aset berusia hampir satu abad.

Hotel Tjimahi, hotel tertua di Kota Cimahi yang berdiri sejak 1927, kini berada di persimpangan jalan sejarah. 

Example 300x600

Setelah 99 tahun bertahan melewati berbagai rezim dan krisis, sang pemilik memutuskan melepas hotel legendaris tersebut.

Keputusan itu bukan tanpa sebab. Di balik dinding-dinding tuanya, tersimpan kisah kejayaan sekaligus pahitnya perjalanan sebuah usaha keluarga yang menjadi saksi hidup sejarah Indonesia.

Dari Villa Mawar hingga Hotel Bersejarah

Hotel Tjimahi awalnya bukanlah penginapan. Bangunan ini merupakan vila dan kebun mawar milik pasangan Nyi Rd. Fatimah Singawinata dan suaminya, Veen, seorang warga Belanda. 

Seiring waktu, rumah tinggal itu beralih fungsi menjadi pension, sebelum akhirnya resmi berstatus hotel pada 1927.

Lokasinya yang berada di jantung Cimahi membuat hotel ini strategis, terlebih saat kota tersebut berfungsi sebagai garnisun dan pusat pendidikan militer pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan.

Tempat Singgah Tokoh Nasional dan Nama Kontroversial

Pada dekade 1950–1960-an, Hotel Tjimahi berada di puncak kejayaan. Kamar-kamarnya nyaris tak pernah kosong, dipenuhi keluarga prajurit TNI yang menjalani pendidikan militer di Cimahi dan sekitarnya.

Beberapa nama besar pernah menghuni hotel ini. Di antaranya keluarga Sarwo Edhie Wibowo, termasuk putrinya, Kristiani Herrawati yang kelak dikenal sebagai Ani Yudhoyono, serta keluarga Doni Monardo, mantan Kepala BNPB.

Tak hanya itu, hotel ini juga menyimpan bab gelap sejarah. Raymond Westerling, tokoh yang dikenal atas kejahatan kemanusiaan di Sulawesi, pernah bersembunyi dan menginap di salah satu kamar hotel ini pada masa pelariannya.

Zaman Emas yang Runtuh Tanpa Ganti Rugi

Masa keemasan Hotel Tjimahi berlangsung saat negara menanggung biaya penginapan para tentara. 

Hotel ramai, ekonomi keluarga pemilik pun sejahtera, namun perubahan politik nasional membawa dampak besar.

Pergantian kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Soeharto menjadi titik balik yang pahit.

Pembayaran penginapan tentara terhenti, meninggalkan piutang negara yang tak pernah terbayarkan.

Hotel tetap penuh, tetapi kas kosong. Beban ekonomi justru menghimpit keluarga pemilik.

Ironisnya, hotel bersejarah itu menjadi saksi kemiskinan yang lahir bukan karena utang, melainkan piutang yang tak pernah dilunasi.

Bertahan hingga Pandemi, Lalu Menyerah

Generasi demi generasi berusaha mempertahankan Hotel Tjimahi, namun usia bangunan yang menua, biaya operasional yang tinggi, serta minimnya regenerasi membuat beban semakin berat.

Pandemi COVID-19 menjadi pukulan terakhir, Hotel terpaksa tutup tanpa bantuan signifikan dari pemerintah daerah. 

Meski demikian, pemilik memilih tetap mempertahankan karyawan lama, meski harus menanggung kerugian besar.

Pajak bumi dan bangunan yang mencapai puluhan juta rupiah per tahun menjadi tekanan tambahan. Sementara itu, tak satu pun dari anak-anak pemilik yang berminat melanjutkan pengelolaan hotel bersejarah tersebut.

Rp35 Miliar untuk 99 Tahun Sejarah

Pada 2026, kabar penjualan Hotel Tjimahi mencuat ke publik setelah beredar di media sosial. Hotel yang berdiri di atas lahan seluas lebih dari 3.200 meter persegi itu ditawarkan dengan harga sekitar Rp35 miliar.

Keputusan menjual bukan sekadar soal uang, melainkan kelelahan emosional setelah puluhan tahun mempertahankan warisan sejarah sendirian.

Kini, Hotel Tjimahi menunggu takdir barunya: apakah akan tetap berdiri sebagai saksi sejarah, atau berubah wajah mengikuti arus zaman. (Bagdja)

Example 120x600