Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaLingkungan HidupRagam DaerahWisata

Lawung Lingkung 2026: Keri Lestari Serukan Pelestarian Alam Jadi Budaya

114
×

Lawung Lingkung 2026: Keri Lestari Serukan Pelestarian Alam Jadi Budaya

Sebarkan artikel ini
Ketua Penyelenggara Lawung Lingkung 2026, Keri Lestari

Garut, Jabar l secondnewsupdate.co.id – Upaya menjaga kelestarian lingkungan dinilai tidak cukup hanya mengandalkan aturan, regulasi maupun pengawasan. 

Kesadaran untuk merawat alam harus tumbuh menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat.

Example 300x600

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Lawung Lingkung 2026 bertema “Kerja Budaya untuk Semesta Bumi” yang berlangsung di Pendopo Garut, Rabu (30/9/2026).

Ketua Penyelenggara Lawung Lingkung 2026, Keri Lestari, mengatakan persoalan lingkungan membutuhkan perubahan cara pandang. 

Menurutnya, kepedulian terhadap alam semestinya lahir dari kesadaran bersama dan diterapkan dalam berbagai aktivitas kehidupan.

“Menjaga lingkungan itu bukan hanya berdasarkan regulasi, tetapi harus menjadi budaya kita dalam setiap gerakan dan pekerjaan yang kita lakukan,” ujar Keri saat ditemui wartawan secondnewsupdate.co.id, seusai kegiatan.

Ia mencontohkan masyarakat adat yang selama ini memiliki kearifan dalam menjaga keseimbangan alam. 

Praktik tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan kuat ketika dilandasi kesadaran dan budaya, bukan hanya karena adanya larangan ataupun pengawasan.

Keri juga menekankan pentingnya menempatkan aspek lingkungan dalam setiap proses pembangunan. 

Pertumbuhan ekonomi, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan keberlanjutan agar pembangunan hari ini tidak justru meninggalkan persoalan bagi generasi yang akan datang.

“Mari kita mewariskan mata air, jangan mewariskan air mata. Apa yang kita lakukan hari ini jangan sampai menjadi pekerjaan rumah bagi generasi berikutnya,” tegasnya.

Ia berharap Lawung Lingkung 2026 tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, kalangan akademisi, masyarakat adat, komunitas lingkungan serta berbagai elemen masyarakat.

Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk mendorong pelestarian lingkungan menjadi bagian dari budaya dan kebiasaan sehari-hari.

“Menjaga lingkungan harus menjadi peradaban, bukan hanya dilakukan ketika ada aturan atau ketika ada yang mengawasi,” pungkasnya. (Asan)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600