Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaEkonomiInformatikaRagam Daerah

Panen Fantastis! Lapas Garut Hasilkan 17,7 Ton Ayam Pedaging, Warga Binaan Jadi Motor Ketahanan Pangan

115
×

Panen Fantastis! Lapas Garut Hasilkan 17,7 Ton Ayam Pedaging, Warga Binaan Jadi Motor Ketahanan Pangan

Sebarkan artikel ini
Melalui program pembinaan kemandirian di bidang peternakan, Lapas Garut berhasil melaksanakan panen raya ayam pedaging dengan total bobot mencapai sekitar 17.742 kilogram atau 17,7 ton.

Garut, Jabar | secondnewsupdate.co.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut membuktikan bahwa pembinaan warga binaan mampu menghasilkan sesuatu yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat. 

Melalui program pembinaan kemandirian di bidang peternakan, Lapas Garut berhasil melaksanakan panen raya ayam pedaging dengan total bobot mencapai sekitar 17.742 kilogram atau 17,7 ton.

Example 300x600

Panen yang berlangsung secara bertahap pada 8–14 Oktober 2026 tersebut menghasilkan 8.990 ekor ayam pedaging dari populasi awal sebanyak 9.400 ekor.

Ayam yang dipanen memiliki bobot rata-rata sekitar 1,97 kilogram per ekor.

Kegiatan peternakan ini melibatkan tujuh warga binaan yang berpartisipasi langsung dalam proses pemeliharaan hingga panen di kawasan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Kelas IIA Garut.

Capaian tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), sekaligus memperlihatkan potensi pembinaan di lingkungan pemasyarakatan dalam menciptakan kegiatan ekonomi produktif.

Dari hasil panen tersebut, sebanyak 50 ekor ayam disalurkan kepada masyarakat di sekitar lapas sebagai bentuk kepedulian sosial. Sementara itu, sebanyak 360 ekor ayam tercatat mengalami kematian selama masa pemeliharaan.

Keberhasilan panen ini merupakan hasil pengelolaan peternakan yang dilaksanakan melalui kerja sama dengan PT Barokah Restu Utama.

Kepala Lapas Garut: Warga Binaan Bisa Berkontribusi bagi Ketahanan Pangan

Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, menyampaikan bahwa kegiatan panen raya ayam pedaging tersebut merupakan bagian dari komitmen jajaran pemasyarakatan dalam mendukung program prioritas Kemenimipas, khususnya penguatan ketahanan pangan melalui pemberdayaan warga binaan.

Menurutnya, keberhasilan menghasilkan 17,7 ton ayam pedaging tidak semata-mata diukur dari besarnya jumlah produksi. 

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa warga binaan dapat memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan berkontribusi melalui kegiatan yang memberikan manfaat ekonomi maupun sosial.

“Panen 17,7 ton ayam ini bukan hanya sekadar capaian produksi, melainkan bukti bahwa warga binaan mampu menjadi bagian dari solusi dalam ketahanan pangan,” ujar Rusdedy.

Ia menegaskan, lapas harus menjadi ruang pembinaan yang produktif, tempat warga binaan mendapatkan keterampilan, membangun kemandirian, serta mempersiapkan masa depan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.

Melalui kegiatan peternakan tersebut, warga binaan diharapkan tidak hanya menjalani proses pembinaan, tetapi juga memiliki bekal pengetahuan dan pengalaman kerja yang dapat dimanfaatkan ketika kembali ke tengah masyarakat.

Tujuh Warga Binaan Terlibat Langsung dalam Proses Peternakan

Sementara itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) Lapas Garut, Asep Supriatna, menjelaskan bahwa keterlibatan tujuh warga binaan dalam program peternakan ayam pedaging merupakan bagian penting dari proses pembelajaran keterampilan secara langsung.

Para peserta mendapatkan pengalaman mulai dari pemeliharaan ayam, pengelolaan dan pemberian pakan, pemantauan pertumbuhan, pengawasan kondisi ternak, hingga pelaksanaan panen.

Dengan pola pembinaan berbasis praktik, warga binaan diharapkan mampu memahami proses kerja peternakan secara menyeluruh, termasuk kedisiplinan, tanggung jawab, pengelolaan waktu, serta pentingnya menjaga kualitas pemeliharaan ternak.

“Kami tidak hanya mengejar hasil produksi, tetapi juga memastikan setiap proses menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan. Pengalaman ini sekaligus membuka peluang usaha maupun pekerjaan setelah mereka kembali ke masyarakat,” ungkap Asep.

Pembinaan tersebut dinilai penting untuk membantu warga binaan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah menjalani masa pidana.

Keterampilan di bidang peternakan diharapkan dapat menjadi modal awal untuk bekerja, mengembangkan usaha mandiri, atau berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi produktif di lingkungan tempat tinggal mereka.

Berpotensi Memberikan Manfaat Ekonomi dan Sosial

Selain mendukung ketersediaan pangan, program peternakan ayam pedaging di Lapas Garut juga diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi melalui kontribusi terhadap penerimaan negara bukan pajak (PNBP), serta pemberian premi kepada warga binaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dengan demikian, kegiatan peternakan tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran mengenai proses usaha, produktivitas, dan nilai ekonomi dari suatu kegiatan kerja.

Penyaluran 50 ekor ayam kepada masyarakat sekitar turut memperlihatkan dimensi sosial program tersebut. Di tengah pelaksanaan pembinaan, Lapas Garut berupaya menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan pula oleh lingkungan di sekitarnya.

Ke depan, kegiatan peternakan ayam pedaging di kawasan SAE diharapkan dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan melalui penguatan pengelolaan, peningkatan keterampilan warga binaan, serta kerja sama dengan mitra yang mendukung kegiatan produktif.

Pembinaan Produktif untuk Mempersiapkan Masa Depan

Panen raya ayam pedaging sebanyak 17,7 ton ini menjadi salah satu gambaran nyata bahwa pembinaan di lingkungan pemasyarakatan dapat diarahkan pada kegiatan yang produktif dan memiliki nilai tambah.

Keberhasilan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk belajar, bekerja, dan mengembangkan kemampuan selama menjalani masa pembinaan.

Melalui program pembinaan kemandirian, Lapas Kelas IIA Garut berupaya mempersiapkan warga binaan agar memiliki keterampilan yang berguna, meningkatkan rasa tanggung jawab, serta membangun kepercayaan diri untuk kembali menjalani kehidupan bermasyarakat.

Sinergi antara pembinaan keterampilan, pengembangan peternakan, dan dukungan terhadap ketahanan pangan diharapkan mampu menciptakan manfaat berkelanjutan, baik bagi warga binaan, negara, maupun masyarakat luas.

Dengan langkah tersebut, program pemasyarakatan tidak hanya menjadi ruang pembinaan, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan individu yang lebih mandiri, produktif, dan siap memperbaiki masa depan. (Agung)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600