Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaRagam DaerahWisata

Situ Sarkanjut Garut Mengering! 150 Hektare Sawah Terancam, Kades Dungusiku Minta Pemerintah Turun Tangan

114
×

Situ Sarkanjut Garut Mengering! 150 Hektare Sawah Terancam, Kades Dungusiku Minta Pemerintah Turun Tangan

Sebarkan artikel ini
Situ Sarkanjut yang selama ini menjadi tumpuan sumber air untuk membantu mengairi lahan pertanian warga kini mengering, memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan aktivitas pertanian dan perekonomian masyarakat setempat.

Garut, Jabar | secondnewsupdate.co.id – Kemarau panjang mulai membawa dampak serius bagi kehidupan masyarakat di Desa Dungusiku, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. 

Situ Sarkanjut yang selama ini menjadi tumpuan sumber air untuk membantu mengairi lahan pertanian warga kini mengering, memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan aktivitas pertanian dan perekonomian masyarakat setempat.

Example 300x600

Pantauan kondisi di kawasan situ memperlihatkan genangan air yang sebelumnya menjadi bagian penting dari kehidupan warga kini tidak lagi terlihat. 

Dasar situ terbuka, sementara perahu angsa yang biasanya digunakan untuk menunjang aktivitas wisata hanya terparkir tanpa bisa dioperasikan.

Mengeringnya Situ Sarkanjut bukan sekadar mengubah wajah kawasan tersebut. 

Dampaknya turut dirasakan para petani yang selama ini mengandalkan ketersediaan air situ untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawah mereka.

Kondisi ini menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat Desa Dungusiku, mengingat sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama mata pencaharian warga, baik sebagai petani maupun buruh tani.

Situ Sarkanjut Andalkan Air Hujan

Kepala Desa Dungusiku, Karno, menjelaskan bahwa Situ Sarkanjut tidak memiliki sumber mata air permanen. 

Selama ini, keberadaan air di situ sangat bergantung pada curah hujan yang mengisi kawasan penampungan tersebut.

Ketika hujan turun dan volume air mencukupi, Situ Sarkanjut dapat dimanfaatkan untuk membantu mengairi sekitar 150 hektare lahan persawahan milik masyarakat.

Namun, ketika kemarau berlangsung berkepanjangan dan persediaan air menyusut, kemampuan pengairan pun ikut terganggu.

“Situ Sarkanjut itu tidak ada sumbernya, itu cuma penampungan air hujan. Karena memang di situ tidak ada sumber air dan mungkin musim kemarau lumayan panjang,” ungkap Karno.

Ketiadaan sumber air alternatif membuat persoalan kekeringan semakin dirasakan warga. 

Tanpa pasokan air yang memadai, petani menghadapi kesulitan dalam mengolah lahan maupun menjalankan aktivitas pertanian sesuai kebutuhan musim tanam.

Situasi tersebut menempatkan petani pada kondisi yang tidak mudah. Ketika air tidak tersedia, kegiatan pertanian berpotensi terhenti dan pendapatan masyarakat yang bergantung pada sektor tersebut ikut terdampak.

Kades Dungusiku Berharap Ada Solusi Pengairan

Karno berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap persoalan kekeringan dan kebutuhan infrastruktur pengairan di wilayahnya.

Menurutnya, diperlukan langkah konkret untuk mencari sumber air alternatif atau membangun saluran pengairan yang dapat membantu masyarakat ketika Situ Sarkanjut mengalami penyusutan air.

“Kalau air nggak ada, ya otomatis petani tidak bisa tani karena nggak ada saluran airnya. Harapan kami mungkin sebagai kepala desa, inginnya tolonglah perhatikan wilayah Desa Dungusiku khususnya,” tuturnya.

Harapan tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat terhadap sistem pengairan yang lebih berkelanjutan. 

Ketergantungan sepenuhnya pada air hujan membuat aktivitas pertanian rentan terganggu ketika musim kemarau berlangsung lebih lama.

Karena itu, dukungan pemerintah dalam mengkaji kebutuhan air, menyiapkan alternatif pengairan, serta mencari solusi sesuai kondisi geografis wilayah dinilai penting untuk membantu menjaga keberlangsungan mata pencaharian warga.

Wisata Ikut Terhenti, Warga Menanti Hujan

Dampak mengeringnya Situ Sarkanjut juga merambah sektor wisata. Perahu angsa yang biasanya menjadi salah satu fasilitas rekreasi kini tidak dapat digunakan akibat tidak tersedianya genangan air.

Terhentinya aktivitas wisata tersebut berpotensi mengurangi peluang ekonomi masyarakat yang berkaitan dengan kegiatan di sekitar situ. 

Dengan demikian, kekeringan tidak hanya menjadi persoalan pertanian, tetapi juga memengaruhi pemanfaatan kawasan situ sebagai ruang rekreasi warga.

Masyarakat Desa Dungusiku kini berharap musim kemarau segera berakhir agar air kembali mengisi Situ Sarkanjut. 

Namun, di tengah harapan turunnya hujan, kebutuhan akan solusi pengairan jangka panjang tetap menjadi perhatian penting.

Bagi warga, keberadaan Situ Sarkanjut bukan sekadar bentang alam penampung air hujan. 

Situ tersebut memiliki peran nyata dalam mendukung kegiatan pertanian dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Kekeringan yang terjadi menjadi pengingat bahwa ketersediaan air merupakan faktor penting bagi keberlangsungan kehidupan warga. 

Upaya mencari alternatif sumber air dan memperkuat sistem pengairan diharapkan dapat menjadi langkah untuk mengurangi risiko serupa ketika musim kemarau kembali melanda.(Agung)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600