InformatikaOlah RagaRagam Daerah

Boling ke-20 di Soreang, Ketua DPRD Kabupaten Bandung Serap Aspirasi: Gading Tutuka Diusulkan Jadi Malioboro, Sampah Jadi Sorotan!

119
Ketua DPRD Kabupaten Bandung Hj. Renie Rahayu Fauzi, sampaikan paparan terkait kegiatan "Boling" di Pendopo kecamatan Soreang, Rabu (4/11/2026)

Kabupaten Bandung, Jabar secondnewsupdate.co.id – Penjaringan aspirasi masyarakat melalui program Rebo Keliling (Boling) kembali digelar. 

Kali ini, Kecamatan Soreang menjadi lokasi kunjungan ke-20 Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Hj. Renie Rahayu Fauzi, dalam dialog Forum Tokoh Masyarakat Lintas Sektor yang berlangsung di Pendopo Kecamatan Soreang, Rabu (4/11/2026).

Pertemuan tersebut berlangsung dinamis dengan menghadirkan berbagai unsur tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan.

Sejumlah persoalan strategis yang berkaitan dengan pembangunan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga penanganan sampah menjadi pembahasan utama dalam forum tersebut.

Renie, yang memimpin langsung kegiatan itu menjelaskan bahwa program Boling atau Rebo Keliling merupakan salah satu agenda yang dilaksanakannya sepanjang 2026 untuk menjaring aspirasi masyarakat secara langsung.

Menurut Renie, pertemuan dengan para tokoh masyarakat di setiap kecamatan menjadi ruang komunikasi sekaligus sarana untuk mengetahui berbagai kebutuhan dan persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

“Rebo Keliling atau Boling ini adalah program saya di tahun 2026. Tujuannya adalah untuk menghimpun aspirasi para tokoh masyarakat yang hadir,” ungkap Renie.

Ia menegaskan, berbagai masukan dan usulan yang disampaikan dalam forum tersebut akan menjadi bahan perhatian untuk diteruskan kepada pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait sesuai dengan kewenangan masing-masing.

Renie berharap dialog tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menghasilkan masukan konkret yang dapat ditindaklanjuti pemerintah daerah demi kepentingan masyarakat.

“Ya, saya akan bawa aspirasi ini karena memang kegiatan ini sengaja dilaksanakan untuk menghimpun aspirasi masyarakat di Kecamatan Soreang,” tegasnya.

Gading Tutuka Diusulkan Jadi Malioboro Kabupaten Bandung

Salah satu aspirasi menarik datang dari, Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Cingcin. H. Wawan Hermawan.

Ia mengusulkan agar kawasan Jalan Gading Tutuka, Soreang, Desa Cingcin, dapat dikembangkan menjadi kawasan wisata ekonomi dan pusat aktivitas UMKM dengan konsep menyerupai Jalan Malioboro di Yogyakarta.

Menurut Wawan, kawasan Gading Tutuka memiliki potensi ekonomi yang cukup besar karena terdapat banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjalankan aktivitas ekonomi di sepanjang kawasan tersebut.

Ia menilai, apabila ditata dan dikembangkan secara terencana oleh pemerintah daerah, Gading Tutuka berpeluang menjadi salah satu ikon ekonomi kerakyatan sekaligus destinasi yang dapat menarik kunjungan masyarakat.

“Momen ini sangat tepat. Apalagi yang saya sampaikan ini kepada Ketua DPRD Kabupaten Bandung yang bisa mengakomodir keinginan masyarakatnya. Memang cukup beralasan jika Jalan Gading Tutuka yang kaya dengan pelaku UMKM-nya dijadikan Malioboronya Kabupaten Bandung,” ujar Wawan.

Ia berharap usulan tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah, baik eksekutif maupun legislatif, sehingga potensi kawasan Gading Tutuka dapat dikembangkan menjadi ruang publik yang produktif, tertata, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

“Saya yakin jika pemerintah daerah, baik bupati maupun DPRD, bisa mengakomodir aspirasi ini. Semoga saja bisa ditindaklanjuti oleh wakil rakyat kami di parlemen,” harapnya.

Sampah Soreang Capai 58 Ton per Hari, Penanganan Belum Maksimal

Sementara itu, Camat Soreang, Haris Taufik, mengungkapkan bahwa persoalan yang dihadapi Kecamatan Soreang sebagai ibu kota Kabupaten Bandung terbilang kompleks. 

Salah satu persoalan yang hingga kini membutuhkan perhatian bersama adalah penanganan sampah.

Ia memaparkan, produksi sampah masyarakat di Kecamatan Soreang mencapai sekitar 58 ton setiap hari. 

Namun, dari jumlah tersebut, kapasitas penanganan yang tersedia baru sekitar 40 ton per hari. 

Artinya, masih terdapat sekitar 18 ton sampah yang belum tertangani secara optimal.

Kondisi tersebut, menurut Haris, membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar persoalan sampah tidak semakin meluas dan berdampak terhadap kebersihan serta kesehatan lingkungan.

“Masalah sampah ini menjadi tanggung jawab bersama. Sampah yang dihasilkan masyarakat setiap harinya mencapai 58 ton, sedangkan baru dapat teratasi sebanyak 40 ton. Jadi, sisanya sekitar 20 ton masih belum tertangani. Mari kita jaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan,” pesannya.

Haris juga menyoroti keterbatasan daya tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

Sementara itu, fasilitas pengolahan sampah regional Legok Nangka di Kecamatan Nagreg belum beroperasi.

Situasi tersebut membuat penanganan sampah menjadi tantangan tersendiri bagi wilayah Soreang yang memiliki aktivitas masyarakat cukup tinggi sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Bandung.

Ia mengajak masyarakat mulai membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah, mengurangi sampah yang dibuang ke tempat pembuangan, serta meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

“Mari kita memilah dan memilih sampah agar tidak dibuang dengan seenaknya. Selama ini penumpukan sampah di mana-mana belum ada solusinya. Kalau dibiarkan, sampah semakin menjadi masalah di Kecamatan Soreang. Mari kita bangun pentahelix dalam penanganan sampah,” pungkas Haris.

Kolaborasi Jadi Kunci Menjawab Persoalan Daerah

Dialog Forum Tokoh Masyarakat Lintas Sektor melalui program Boling ke-20 ini memperlihatkan beragam kebutuhan masyarakat Kecamatan Soreang, mulai dari pengembangan kawasan UMKM Gading Tutuka hingga penanganan persoalan sampah yang membutuhkan solusi berkelanjutan.

Aspirasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pembahasan dan tindak lanjut pemerintah daerah bersama DPRD Kabupaten Bandung serta OPD terkait.

Dengan komunikasi lintas sektor dan keterlibatan masyarakat, berbagai potensi daerah diharapkan dapat dikembangkan, sementara persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat dapat ditangani melalui langkah konkret dan berkesinambungan. (Apih)

Exit mobile version