Jawa Barat, Cimahi l secondnewsupdate.co.id – Paradigma pengelolaan sampah di Kota Cimahi mulai diarahkan ke level yang lebih produktif.
Sampah tak lagi semata-mata dipandang sebagai persoalan kebersihan dan lingkungan, tetapi juga didorong menjadi sumber keterampilan, lapangan kerja, bahkan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Langkah tersebut diwujudkan Pemerintah Kota Cimahi melalui kolaborasi dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Bandung Barat), Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, dalam program Pelatihan Green Jobs Bidang Pengelolaan Sampah bagi masyarakat Kota Cimahi.
Program ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Cimahi memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus mendukung target Cimahi Zero to TPA, dengan mendorong masyarakat memiliki kemampuan mengolah sampah sejak dari sumbernya.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana mengatakan, persoalan sampah membutuhkan perubahan cara pandang.
Menurutnya, sampah yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan justru dapat memiliki nilai tambah apabila dikelola dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat.
“Sampah saat ini tidak boleh lagi kita pandang hanya sebagai persoalan kebersihan. Sampah juga memiliki potensi ekonomi,” ujar Ngatiyana.
Dalam pelatihan tersebut, masyarakat mendapatkan pembekalan keterampilan yang aplikatif, di antaranya pengolahan sampah organik serta pembudidayaan maggot Black Soldier Fly (BSF).
Keterampilan tersebut dinilai memiliki prospek untuk dikembangkan menjadi kegiatan produktif di tengah masyarakat.
Pengolahan sampah organik dapat membantu mengurangi timbulan sampah, sementara budidaya maggot BSF berpotensi dikembangkan sebagai usaha yang menghasilkan nilai ekonomi.
Tak berhenti pada pelatihan teknis, peserta juga mendapatkan kesempatan mengikuti uji kompetensi dan sertifikasi yang diakui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Sebanyak 80 peserta dilibatkan Pemkot Cimahi dalam program tersebut. Mereka dibagi ke dalam lima batch pelatihan, masing-masing terdiri atas 16 peserta.
Dari lima batch tersebut, tiga batch difokuskan pada pengolahan sampah organik, sedangkan dua batch lainnya pada pembudidayaan maggot BSF.
Ngatiyana menegaskan, keberhasilan program tidak semestinya hanya diukur dari jumlah peserta yang memperoleh sertifikat.
Lebih dari itu, ilmu dan keterampilan yang diperoleh harus benar-benar diterapkan sehingga memberikan manfaat bagi peserta maupun lingkungan sekitarnya.
“Kuasai ilmunya, praktikkan keterampilannya, dan manfaatkan sebagai modal untuk meningkatkan daya saing,” pesannya.
Pemkot Cimahi berharap peserta mampu membawa pengetahuan tersebut ke lingkungan masing-masing.
Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berkembang menjadi gerakan nyata pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Dari sisi lingkungan, keterampilan tersebut diharapkan mampu membantu mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke tempat pemrosesan akhir.
Sementara dari sisi ekonomi, masyarakat memiliki peluang untuk mengembangkan keterampilan menjadi usaha maupun aktivitas produktif.
“Kita ingin pelatihan ini menghasilkan dampak nyata. Sampah berkurang, lingkungan lebih baik, dan masyarakat semakin produktif,” tegas Ngatiyana.
Kepala BPVP Bandung Barat Iman Riswandi, turut mendorong kolaborasi bersama Pemerintah Kota Cimahi tersebut sebagai bagian dari pengembangan kompetensi masyarakat.
Kolaborasi Pemkot Cimahi dan BPVP Bandung Barat diharapkan dapat memperkuat ekosistem Green Jobs di Kota Cimahi.
Konsep ini tidak hanya menempatkan pengelolaan sampah sebagai bagian dari agenda pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka ruang bagi peningkatan keterampilan, produktivitas, kesempatan kerja, serta nilai ekonomi masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah di Kota Cimahi diarahkan bukan sekadar untuk mengurangi persoalan lingkungan, tetapi juga menciptakan masyarakat yang semakin terampil, mandiri, dan produktif. (Bagdja)
