Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BudayaGaya hidupInformatikaRagam DaerahWisata

Candi Cangkuang Garut, Perpaduan Peradaban Hindu dan Islam yang Potensial Jadi Wisata Edukasi Unggulan

143
×

Candi Cangkuang Garut, Perpaduan Peradaban Hindu dan Islam yang Potensial Jadi Wisata Edukasi Unggulan

Sebarkan artikel ini
Candi Cangkuang Garut, perpaduan peradaban Hindu dan Islam yang potensial Jadi wisata edukasi unggulan

Garut//secondnewsupdate.co.id– Candi Cangkuang, situs sejarah yang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, menyimpan jejak penting perpaduan peradaban Hindu dan Islam di wilayah Priangan Timur.

Hingga kini, kawasan cagar budaya tersebut masih terawat dengan baik dan dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi unggulan di Kabupaten Garut.

Example 300x600

Candi peninggalan Hindu abad ke-8 ini berada di tengah Situ Cangkuang, dikelilingi bentang alam pedesaan yang asri dengan udara sejuk. 

Untuk mencapai lokasi candi, pengunjung harus menyeberangi danau menggunakan rakit bambu, alat transportasi tradisional yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Candi Cangkuang, situs sejarah yang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, menyimpan jejak penting perpaduan peradaban Hindu dan Islam di wilayah Priangan Timur

Sebelum memasuki kawasan candi, wisatawan akan disambut tujuh sumber mata air kehidupan yang berada di kawasan Kampung Pulo. 

Kampung adat tersebut terdiri dari enam rumah adat dan satu surau, yang hingga kini masih dihuni oleh keturunan Embah Dalem Arief Muhammad, tokoh penyebar agama Islam di Kabupaten Garut.

Selain menikmati keindahan alam, wisatawan juga dapat menelusuri sejarah melalui museum situs Candi Cangkuang yang menyimpan berbagai artefak peninggalan masa lalu. 

Kawasan seluas sekitar 25,5 hektare ini menjadi simbol harmonisasi budaya Hindu dan peradaban Islam yang masih lestari hingga sekarang.

Dengan nilai sejarah, budaya, dan religi yang kuat, Candi Cangkuang menjadi satu-satunya candi Hindu di Tatar Sunda. 

Keunikan tersebut dinilai layak menjadikan kawasan ini sebagai ikon wisata budaya Garut. Namun demikian, sejumlah pengunjung menilai minimnya promosi dan pengembangan fasilitas masih menjadi kendala utama dalam meningkatkan kunjungan wisatawan, khususnya dari luar daerah.

“Daya tariknya sangat kuat, tapi informasi sejarah, pusat edukasi, area parkir, hingga akses transportasi masih perlu ditingkatkan. Paket wisata terpadu juga belum dikemas maksimal,” ujar salah seorang pengunjung Deni pada wartawan secondnewsupdate.co.id, Wilayah Garut, Agung. Selasa (6/1/2026).

Tokoh masyarakat Kampung Pulo menyebutkan, Candi Cangkuang memiliki potensi besar sebagai wisata edukasi lintas peradaban, di mana wisatawan dapat mempelajari sejarah masuknya agama Hindu dan Islam di Jawa Barat, sekaligus mengenal tradisi adat yang masih dijaga secara turun-temurun. 

Namun, keterbatasan anggaran dan perhatian membuat pengelolaan kawasan belum optimal.

Harapan serupa disampaikan para pelaku UMKM lokal, yang meyakini bahwa pengembangan wisata secara serius dapat membuka peluang usaha baru, mulai dari kerajinan, kuliner khas, hingga jasa pemandu wisata.

Peningkatan kunjungan wisatawan diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

Kampung Pulo Garut yang asri dan resik membuat betah para wisatawan yang berkunjung ke Candi Cangkuang

Sementara itu, pemerhati pariwisata Garut menilai diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, pengelola situs, dan masyarakat untuk mengangkat kembali pamor Candi Cangkuang. 

Upaya tersebut dapat dilakukan melalui revitalisasi sarana prasarana, penguatan promosi digital, serta penyelenggaraan event budaya secara rutin.

Dengan pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan, Candi Cangkuang diyakini mampu menjadi destinasi unggulan wisata sejarah di Jawa Barat, sekaligus sarana pelestarian warisan budaya dan penggerak ekonomi lokal. (Agung)

banner
Example 120x600