Kab Tangerang// secondnewsupdate.co.id – Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip (Disperpusip) menggelar Forum Group Discussion (FGD) sejarah sebagai langkah strategis dalam menyusun narasi sejarah daerah yang komprehensif.
Kegiatan ini berlangsung di Hotel Lemo, FGD tersebut bertujuan menggali, menyusun, dan merumuskan sejarah Kabupaten Tangerang secara lebih utuh sebagai fondasi dalam membangun identitas daerah di masa depan. Kamis (23/6/2026).
Dalam forum ini, Disperpusip menghadirkan tiga narasumber kompeten, yakni M. Taufik, (praktisi kearsipan), Mufti Ali, (sejarawan), serta Mushab Abdu Asy Syahid.
Kehadiran para ahli ini diharapkan mampu memperkaya perspektif sekaligus menjamin validitas narasi sejarah yang disusun.
Asisten Daerah Bidang Administrasi Umum (Asda III) Kabupaten Tangerang, Firzada Mahalli, yang membuka kegiatan tersebut menegaskan pentingnya sejarah sebagai bagian dari identitas daerah.

“Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga fondasi jati diri masyarakat. Di tengah arus globalisasi, pelestarian arsip dan sejarah lokal menjadi sangat penting agar kita tidak kehilangan identitas,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa penulisan sejarah harus dilakukan secara objektif dan tidak berpihak pada satu sudut pandang.
“Sejarah harus dirangkai dari berbagai perspektif agar utuh dan tidak bias, sebagaimana arsip yang menjadi sumber utamanya,” tambahnya.
Salah satu output utama FGD ini adalah penyusunan konten diorama sejarah Kabupaten Tangerang.
Pemerintah daerah berupaya menghadirkan sejarah dalam bentuk visual yang lebih interaktif dan edukatif, sehingga lebih mudah dipahami oleh masyarakat, khususnya generasi muda.
Melalui diorama, sejarah diharapkan tidak lagi sekadar teks, tetapi menjadi pengalaman visual yang mampu menumbuhkan rasa bangga dan kepemilikan terhadap daerah.
“Mari kita jadikan momentum ini sebagai langkah nyata untuk memperkuat identitas dan budaya Kabupaten Tangerang,” tutup Firzada.
Sementara itu, Kepala Disperpusip Kabupaten Tangerang, Nurul Hayati, menyampaikan bahwa daerahnya memiliki sejarah panjang yang mencerminkan dinamika sosial, budaya, dan perjuangan masyarakat dari masa ke masa.
Namun, ia mengakui bahwa penyusunan sejarah daerah yang sistematis masih memerlukan penguatan, baik dari sisi data, arsip, maupun kajian akademik.
“FGD ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya arsip sebagai memori kolektif daerah, sekaligus menjadi sarana edukasi yang lebih menarik bagi masyarakat,” pungkasnya. (Dia)
















