Cimahi/secondnewsupdate.co.id – Dalam rangka menyambut Hari Perpustakaan Nasional 2026 yang diperingati setiap 17 Mei, Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Disarpusda) Kota Cimahi menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter bertajuk Menolak Punah bersama komunitas literasi Read Aloud Cimahi.
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Gedung B Pemerintah Kota Cimahi, Jalan Daeng Hardjakusumah No.1, Cimahi Utara, dan dihadiri masyarakat umum, pegiat literasi, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), hingga pegiat lingkungan. Minggu (10/5/2026).
Nobar ini menjadi salah satu rangkaian awal menuju peringatan Hari Perpustakaan Nasional dan Hari Kearsipan yang jatuh pada 18 Mei mendatang.
Kepala Disarpusda Kota Cimahi, Dyah Anjuni Lukitosari, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah daerah dengan komunitas literasi dalam menghadirkan ruang edukasi publik yang lebih menarik dan relevan dengan isu kekinian.

“Film dokumenter ini bukan sekadar tontonan, tetapi sarana edukasi bagi masyarakat terkait bagaimana kita lebih bijak dalam mengelola sampah dan membangun kesadaran lingkungan,” ujar Dyah.
Menurutnya, persoalan persampahan saat ini menjadi isu serius yang membutuhkan keterlibatan semua pihak, bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat.
Ia menilai edukasi publik harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih dekat dan mudah diterima, salah satunya melalui film dokumenter dan diskusi komunitas.
“Kalau melihat kondisi pengelolaan sampah hari ini, memang tidak baik-baik saja. Karena itu perlu ada publikasi dan edukasi yang terus dilakukan agar masyarakat sadar pentingnya mengurangi sampah sejak dari rumah,” katanya.
Film Menolak Punah sendiri mengangkat isu lingkungan dan gaya hidup konsumtif, khususnya dampak budaya fast fashion terhadap meningkatnya limbah tekstil.
Dalam dokumenter tersebut dijelaskan bagaimana kebiasaan membeli pakaian berlebihan tanpa perencanaan memicu penumpukan sampah pakaian, pencemaran air, polusi udara, emisi karbon, hingga mikroplastik yang berdampak pada kesehatan manusia.
Selain persoalan lingkungan, film ini juga menyoroti sisi kemanusiaan dalam industri fashion, termasuk nasib pekerja tekstil dan garmen yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kepala Bidang Perpustakaan Disarpusda Kota Cimahi, Rusli Sudarmadi, menambahkan bahwa perpustakaan saat ini tidak lagi hanya identik dengan membaca buku, tetapi juga menjadi ruang belajar, diskusi, dan penguatan literasi masyarakat.

“Literasi hari ini bukan hanya membaca dan menulis, tetapi memahami persoalan di sekitar lalu bersama-sama mencari solusi. Isu sampah dan lingkungan ini salah satu bentuk literasi kehidupan,” ujarnya.
Rusli menegaskan pihaknya siap memfasilitasi berbagai kegiatan komunitas yang berdampak positif bagi masyarakat Kota Cimahi.
Menurutnya, kolaborasi dengan komunitas menjadi strategi penting untuk meningkatkan minat baca di tengah dominasi gadget, media sosial, dan budaya digital.
Sementara itu, Founder sekaligus Ketua Read Aloud Cimahi, Fitri Lailatul Mubarokah, menjelaskan komunitasnya fokus pada gerakan membaca nyaring atau read aloud kepada anak-anak dan orang tua.

Berbeda dengan mendongeng biasa, metode ini mengajak anak berinteraksi langsung dengan buku agar tumbuh minat baca sejak dini.
“Komunitas kami ingin membangun budaya literasi keluarga. Anak-anak tidak cukup hanya diajak membaca, tetapi orang tuanya juga harus diedukasi agar budaya membaca bisa hidup di rumah,” kata Fitri.
Ia menyebut Read Aloud Cimahi berdiri sejak 2022 dan kini memiliki lebih dari 150 anggota aktif serta sekitar 1.400 pengikut di Instagram.
Selain kegiatan rutin membaca bersama, komunitas ini juga menggelar pelatihan membaca nyaring bagi guru, orang tua, serta pendampingan bagi pengelola taman bacaan masyarakat.
Fitri berharap kegiatan nobar seperti ini bisa menjadi agenda rutin dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Harapannya bukan hanya menonton, tetapi ada refleksi bersama. Bagaimana kita lebih peduli terhadap lingkungan, terhadap pekerja, dan lebih bijak dalam konsumsi sehari-hari,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Ketua Forum TBM Kota Cimahi Febri, komunitas literasi, serta masyarakat umum yang antusias mengikuti pemutaran film hingga diskusi.
Melalui kegiatan ini, Disarpusda Kota Cimahi berharap perpustakaan semakin dikenal sebagai pusat edukasi publik yang adaptif, kreatif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat modern.
Tidak hanya meningkatkan minat baca, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan, mengurangi sampah, dan menumbuhkan budaya hidup berkelanjutan. (Bagdja)
















