Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaHukumPeristiwaSejarah

HUT ke-25 Kota Cimahi Disorot, LSM Penjara Kritik Wawalkot Adhitia dan Ketua DPRD, Tak Singgung Perjuangan Tokoh Pendiri Cimahi: Jangan Lupakan Sejarah!

2524
×

HUT ke-25 Kota Cimahi Disorot, LSM Penjara Kritik Wawalkot Adhitia dan Ketua DPRD, Tak Singgung Perjuangan Tokoh Pendiri Cimahi: Jangan Lupakan Sejarah!

Sebarkan artikel ini
HUT Kota Cimahi ke 25 Jangan Lupakan Sejarah (Jas Merah) sorotan tajam datang dari Ketua Umum LSM Pemantau Kinerja Aparatur Negara (Penjara), Andi Halim.

Sekber Otonom Kota Cimahi Dinilai Berperan Besar dalam Lahirnya Kota Cimahi, Namun Tak Mendapat Apresiasi dalam Paripurna HUT ke-25.

Cimahi/secondnewsupdate.co.id – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Kota Cimahi yang berlangsung dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Cimahi semestinya menjadi momentum mengenang perjalanan panjang lahirnya kota yang kini berkembang pesat sebagai daerah otonom. 

Example 300x600

Namun, di tengah suasana perayaan tersebut, muncul kritik keras terkait minimnya penghormatan terhadap para tokoh yang berjasa memperjuangkan pendiri Kota Administratif (Kotif) menjadi Kota Cimahi Otonom.

Sorotan tajam datang dari Ketua Umum LSM Pemantau Kinerja Aparatur Negara (Penjara), Andi Halim. 

Ia menilai sambutan resmi yang disampaikan Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, dan Ketua DPRD Kota Cimahi Wahyu Widyatmoko, belum memberikan ruang yang memadai untuk mengangkat sejarah perjuangan para tokoh yang telah berjuang sejak era Kota Administratif (Kotif) Cimahi hingga akhirnya menjadi daerah otonom.

Menurut Andi, sejarah lahirnya Kota Cimahi tidak boleh dipisahkan dari perjuangan panjang para aktivis dan tokoh yang tergabung dalam Sekretariat Bersama (Sekber) Otonom Kota Cimahi. 

Mereka, kata dia, menjadi motor penggerak utama dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat agar Cimahi memiliki pemerintahan sendiri dan terlepas dari Kabupaten Bandung.

“Kami sangat menyayangkan dalam momentum bersejarah seperti HUT ke-25 Kota Cimahi, nama-nama pejuang pemekaran tidak mendapatkan penghormatan yang layak. Bahkan dalam pembukaan sidang paripurna, yang disapa hanya mantan Sekda dan mantan Ketua DPRD. Padahal para tokoh pendiri Cimahi Otonom hadir langsung di ruangan,” ujar Andi.

Ia menyebut sejumlah tokoh Sekber Otonom Kota Cimahi seperti Oland Siswanto, Glen Bakri, Asep Taryana, Saeful, Nirwan, dan sejumlah pejuang lainnya memiliki kontribusi besar dalam proses lahirnya Kota Cimahi sebagai daerah otonom.

“Kalau hari ini para pejabat bisa menikmati hasil pembangunan dan memimpin Kota Cimahi, itu semua tidak lepas dari perjuangan mereka. Kota Cimahi menjadi daerah otonom bukan hadiah, tetapi hasil perjuangan panjang. Jangan sampai kita terkena penyakit lupa sejarah. Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah,” tegasnya.

Andi menegaskan, peringatan hari jadi sebuah daerah bukan hanya tentang pencapaian pembangunan, pertumbuhan ekonomi, maupun keberhasilan program pemerintah. Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi sarana edukasi sejarah bagi masyarakat, terutama generasi muda, agar memahami bagaimana sebuah kota lahir melalui perjuangan kolektif.

Menurutnya, perjuangan mewujudkan Cimahi sebagai kota otonom melibatkan banyak elemen masyarakat, akademisi, tokoh daerah, organisasi kemasyarakatan, hingga aktivis yang bergerak secara konsisten memperjuangkan aspirasi pemekaran wilayah.

Perjuangan tersebut berlangsung melalui berbagai tahapan, mulai dari konsolidasi masyarakat, penyampaian aspirasi politik, hingga perjuangan administratif yang akhirnya membuahkan hasil dengan lahirnya Kota Cimahi sebagai daerah otonom.

“Sejarah adalah identitas daerah. Ketika para pejuang yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, dan waktunya masih hidup bahkan hadir dalam acara resmi pemerintah, sudah seharusnya mereka mendapat penghormatan dan apresiasi yang pantas,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya pelestarian memori sejarah sebagai bagian dari pembangunan karakter masyarakat. 

Menurutnya, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan sejarah perjuangan Kota Cimahi tetap hidup dan dikenal lintas generasi.

“Jangan sampai generasi penerus hanya menikmati hasil pembangunan, tetapi tidak mengetahui siapa yang berjasa memperjuangkannya. Menghormati sejarah adalah bentuk penghargaan terhadap pengorbanan para pendahulu,” ujarnya.

Meski demikian, Andi mengakui bahwa dalam rangkaian kegiatan tersebut Sekretaris Daerah Kota Cimahi, Maria Fitriana, sempat menyinggung perjalanan sejarah Kota Cimahi menuju daerah otonom. Namun menurutnya, penegasan mengenai perjuangan para tokoh pemekaran seharusnya juga disampaikan secara langsung dalam pidato resmi Wakil Wali Kota sebagai representasi pemerintah daerah.

Ia berharap peringatan Hari Jadi Kota Cimahi pada tahun-tahun mendatang tidak hanya berorientasi pada capaian pembangunan dan program pemerintahan semata, tetapi juga memberi ruang yang lebih besar untuk mengangkat jasa para pendiri dan pejuang otonomi daerah.

“Usia 25 tahun adalah perjalanan panjang yang dibangun oleh kerja keras banyak pihak. Karena itu, sejarah perjuangan para pendiri Kota Cimahi harus terus dihidupkan dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap peringatan hari jadi kota,” pungkasnya.

Polemik yang muncul dalam peringatan HUT ke-25 Kota Cimahi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah dan penghormatan terhadap sejarah harus berjalan beriringan. 

Sebab, tanpa penghargaan terhadap akar sejarahnya, sebuah daerah berisiko kehilangan identitas dan jati dirinya di tengah derasnya arus perkembangan zaman. (Bagdja)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600