Deli Serdang | secondnewsupdate.co.id – Dewan Pendidikan Kabupaten Deli Serdang mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan media sosial di tengah maraknya informasi yang dinilai berpotensi menyesatkan, memicu provokasi, dan memengaruhi pola pikir generasi muda.
Seruan tersebut disampaikan melalui H. Harun Lubis, dalam gerakan bertajuk “Gerakan Sigap Tolak Medsos Menyesatkan dan Merusak Pola Pikir Generasi Emas 2045”.
Gerakan ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun budaya bermedia sosial yang sehat, mengedepankan fakta, serta menjunjung tinggi etika dalam menyampaikan pendapat.
Menurut Harun, kebebasan berpendapat dan kritik terhadap pemerintah merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi.
Namun, kebebasan tersebut perlu diiringi tanggung jawab, keakuratan informasi, serta penggunaan bahasa yang santun.
“Pemberitaan yang menyesatkan dan narasi yang tidak didasarkan pada fakta dapat menjadi penghambat dalam upaya mewujudkan Generasi Emas 2045 yang cerdas, berpengetahuan, kritis, kreatif, inovatif, serta memiliki karakter dan akhlak mulia,” jelas Harun.
Ia menegaskan, generasi masa depan tidak cukup hanya dibekali kecerdasan intelektual. Mereka juga perlu memiliki karakter kuat, menjunjung kejujuran, disiplin, tanggung jawab, toleransi, serta menghormati perbedaan pendapat.
Karena itu, para pengguna media sosial maupun insan pers diharapkan senantiasa memeriksa kebenaran informasi sebelum memublikasikannya.
Penyebaran informasi yang belum terverifikasi, pemelintiran fakta, dan penggunaan bahasa yang berpotensi memicu kebencian perlu dihindari.
Kritik Konstruktif, Bukan Provokasi
Harun menekankan bahwa gerakan tersebut bukan dimaksudkan untuk membatasi kritik terhadap pemerintah.
Sebaliknya, kritik yang disampaikan berdasarkan data dan fakta diperlukan sebagai bagian dari kontrol sosial serta upaya memperbaiki kebijakan dan pelayanan publik.
“Kami tidak melarang kritik kepada pemerintah. Kritik yang sehat justru sangat diperlukan untuk memperbaiki program dan pelayanan publik. Namun, kritik harus dibangun berdasarkan data dan fakta, bukan melalui pemelintiran informasi, provokasi, maupun narasi yang menyesatkan,” demikian pesan utama dalam seruan tersebut.
Ia menilai media sosial memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan pola pikir masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda yang tengah menjalani proses pendidikan serta pembentukan karakter.
Informasi yang dikonsumsi setiap hari dapat memengaruhi cara pandang, sikap, dan perilaku seseorang. Oleh sebab itu, diperlukan keterlibatan bersama untuk menciptakan ruang digital yang edukatif, sehat, dan bermanfaat.
Perbedaan pandangan terhadap pemerintah maupun kebijakan publik, lanjutnya, merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat.
Perbedaan tersebut seharusnya disikapi melalui dialog, kedewasaan, dan semangat mencari solusi, bukan menjadi alasan untuk saling merendahkan atau mengadu domba.
Tabayun dan Etika Digital Perlu Diperkuat
Selain mengajak masyarakat lebih kritis dalam menerima informasi, Harun juga mendorong kebiasaan tabayun, yakni memeriksa kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya kepada orang lain.
Menurutnya, sikap tersebut penting untuk mencegah penyebaran kabar keliru sekaligus menjaga hubungan sosial di tengah masyarakat yang memiliki beragam pandangan.
Ia turut mengingatkan pentingnya mempertahankan nilai kesantunan sebagai bagian dari karakter masyarakat Indonesia.
“Sebagai orang Timur, kita diajarkan untuk saling menghormati dan tidak saling merendahkan. Penggunaan bahasa yang baik dan santun merupakan bagian dari karakter yang harus kita jaga bersama demi membangun generasi yang sehat, cerdas, dan religius,” demikian pesan dalam pernyataan tersebut.
Harun menegaskan, kritik, gagasan, dan pemberitaan melalui media sosial maupun media massa tetap memiliki peran penting dalam mengawasi jalannya pemerintahan. Namun, penyampaiannya perlu berlandaskan kebenaran, menjunjung etika, dan berorientasi pada perbaikan kepentingan publik.
Melalui gerakan tersebut, Dewan Pendidikan Kabupaten Deli Serdang mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat literasi digital, menjaga kondusivitas daerah, serta menciptakan lingkungan informasi yang mendukung tumbuh kembang anak-anak dan generasi muda.
“Mari kita kedepankan tabayun, jaga etika dalam bermedia sosial, dan utamakan kepentingan masyarakat. Perbedaan pendapat tidak harus berujung pada permusuhan. Kritik yang bertanggung jawab akan menjadi kekuatan untuk membangun Deli Serdang yang lebih baik sekaligus mempersiapkan Generasi Emas Indonesia 2045,” Tutup Harun.
Deli Serdang membutuhkan masyarakat yang kritis, terbuka terhadap perbedaan, dan berani menyampaikan kebenaran dengan tanggung jawab.
Penguatan literasi digital diharapkan menjadi salah satu langkah untuk membentuk generasi muda yang cerdas, berkarakter, serta berakhlak mulia. (Rizky)
















