BeritaRagam DaerahSejarah

Jelang Seabad Sumpah Pemuda, PMKRI Bongkar Ancaman Polarisasi Era Algoritma, Ajak Semua Pihak Sukseskan Rakernas Nasional

120
Menjelang satu abad Sumpah Pemuda pada 2028, tantangan menjaga persatuan bangsa semakin kompleks.

Medan, Sumut l secondnewsupdate.co.id – Menjelang satu abad Sumpah Pemuda pada 2028, tantangan menjaga persatuan bangsa semakin kompleks. 

Perkembangan media sosial dan dominasi algoritma dalam menyebarkan informasi dinilai berpotensi memperlebar polarisasi, membentuk ruang gema (echo chamber), hingga memengaruhi cara generasi muda memandang persoalan sosial dan politik.

Di tengah tantangan tersebut, mahasiswa dan organisasi kepemudaan dituntut tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga tampil sebagai kelompok kritis yang mampu merawat kebinekaan, memperkuat nasionalisme, serta melahirkan gagasan dan tindakan konkret demi mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Persoalan itu mengemuka dalam diskusi bertajuk “Menyongsong Seabad Sumpah Pemuda dan Tantangan Ruang Gema: Polarisasi Pemuda dan Merawat Persatuan di Era Algoritma” yang digelar di Medan.

Diskusi dipandu Rafael Sinaga, dengan menghadirkan Akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) A. Fattah Lubis, Komda PMKRI Sumut-NAD Sirdo Sagala, Ketua Agitasi dan Diplomasi Politik Viva Voce Kristoporus, serta Ketua Presidium PMKRI Cabang Medan Nicola Simarmata.

Forum tersebut menjadi ruang refleksi bagi kalangan akademisi dan aktivis mahasiswa untuk membahas bagaimana semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 tetap relevan di tengah perubahan teknologi, dinamika politik, dan derasnya arus informasi digital.

Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Sejarah, Generasi Muda Harus Bertindak

Akademisi USU, A. Fattah Lubis, menegaskan bahwa Sumpah Pemuda 1928 merupakan tonggak penting perjalanan bangsa karena lahir dari kesadaran generasi muda untuk mengesampingkan perbedaan latar belakang demi memperjuangkan cita-cita kebangsaan.

Menurutnya, semangat tersebut perlu diterjemahkan kembali ke dalam tindakan nyata. Generasi muda tidak cukup hanya mengandalkan kecakapan menggunakan gawai dan aktif di media sosial, tetapi juga harus membangun kebiasaan membaca, meningkatkan kepekaan sosial, serta memperkuat kemampuan menganalisis persoalan secara kritis.

Ia mengingatkan agar pemuda tidak terjebak pada kebiasaan mengkritik pemerintah maupun berbagai institusi tanpa disertai evaluasi terhadap diri sendiri.

“Jangan sampai kita hanya menyalahkan instansi dan pemerintah tanpa merefleksikan diri sendiri. Pemuda harus mampu menindaklanjuti gagasan yang dimiliki,” ujarnya.

Fattah juga mengingatkan pentingnya menggunakan media sosial secara selektif. Informasi yang beredar perlu disaring dan dikaji sebelum dipercaya atau disebarluaskan, sehingga ruang digital tidak justru menjadi tempat berkembangnya kesalahpahaman dan perpecahan.

PMKRI: Persatuan Harus Dibuktikan Lewat Karya Nyata

Senada dengan pandangan tersebut, Komda PMKRI Sumut-NAD, Sirdo Sagala, S.H., menekankan bahwa persatuan merupakan fondasi utama lahirnya Sumpah Pemuda. Nilai itu harus terus dijaga dan diperkuat, terlebih Indonesia tengah menghadapi tantangan sekaligus peluang bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.

Sirdo menilai generasi muda perlu memperkuat tiga hal mendasar, yakni kesadaran diri, keberanian, dan kemampuan menghasilkan karya nyata.

Baginya, persatuan tidak cukup dibangun melalui slogan atau seremoni peringatan. Persatuan harus tumbuh dari kesadaran atas persoalan bersama, kepedulian terhadap penderitaan masyarakat, dan keberanian memperjuangkan keadilan.

“Persatuan harus dibangun dari perasaan, keresahan, dan penderitaan yang sama. Sebagai generasi muda, kita juga harus menghadirkan tindakan konkret untuk memperjuangkan keadilan,” katanya.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, kalangan mahasiswa, dan organisasi kepemudaan untuk mengambil peran aktif dalam berbagai agenda positif yang mendorong kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Sirdo secara khusus mengajak semua pihak bergandengan tangan untuk mendukung dan menyukseskan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pengurus Pusat PMKRI Sanctus Thomas Aquinas yang akan digelar di Medan dalam waktu dekat.

Menurutnya, agenda nasional organisasi mahasiswa tersebut dapat menjadi ruang konsolidasi, pertukaran gagasan, dan penguatan kontribusi kader bagi masyarakat. Dukungan berbagai pihak diperlukan agar kegiatan tersebut dapat berjalan baik serta merepresentasikan semangat kemahasiswaan dan kepemudaan yang kritis, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan bersama.

Algoritma dan Politik: Ketika Arus Informasi Membentuk Persepsi Publik

Sementara itu, Ketua Agitasi dan Diplomasi Politik Viva Voce, Kristoporus, S.Sos., menyoroti pengaruh algoritma dalam dinamika politik dan pembentukan opini publik.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat menerima berita, membangun persepsi, hingga menentukan sikap terhadap isu tertentu. Dalam situasi tersebut, distribusi informasi tidak selalu berlangsung secara netral karena sistem algoritma turut menentukan konten yang muncul dan memperoleh perhatian pengguna.

Fenomena algokrasi memperlihatkan bagaimana algoritma dan sistem berbasis data semakin berperan dalam mengatur arus informasi serta memengaruhi perhatian publik. Kondisi ini juga membuka peluang bagi aktor politik untuk memanfaatkan konten digital sebagai sarana membangun citra dan memengaruhi pandangan masyarakat.

Jika tidak diimbangi dengan literasi digital yang memadai, pengguna media sosial berisiko terjebak dalam ruang gema, yakni situasi ketika seseorang lebih sering menerima informasi yang sejalan dengan keyakinannya sendiri.

Akibatnya, perbedaan pandangan dapat semakin sulit dijembatani, sementara dialog yang sehat berpotensi tergeser oleh prasangka dan pertentangan.

Karena itu, Kristoporus mendorong perluasan ruang diskusi agar mahasiswa memiliki perspektif yang lebih beragam dan tidak mudah menerima informasi secara mentah.

“Jadikan media sosial sebagai teman yang baik agar kita tetap kritis,” ujarnya.

Pesan tersebut menegaskan pentingnya menjadikan teknologi sebagai sarana memperluas wawasan dan memperkuat partisipasi publik, bukan sebagai alat untuk memperuncing perbedaan.

Nicola Simarmata: Jangan Biarkan Perbedaan Mengubur Gagasan Bersama

Ketua Presidium PMKRI Cabang Medan, Nicola Simarmata, S.Sos., menambahkan bahwa paparan informasi yang tidak diimbangi sikap kritis dapat memperbesar potensi perpecahan di tengah masyarakat.

Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk terus merawat nasionalisme dan menghidupkan kembali nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan Sumpah Pemuda, kata Nicola, tidak semestinya berhenti sebagai agenda tahunan yang hanya diisi kegiatan seremonial. Momentum tersebut harus menjadi kesempatan untuk mengevaluasi sejauh mana nilai persatuan benar-benar diwujudkan dalam perilaku, kebijakan organisasi, dan hubungan sosial.

Ia juga menekankan pentingnya menghidupkan nilai Bonum Commune, yang berarti kebaikan bersama sebagai orientasi dalam membangun kehidupan bermasyarakat.

Kebaikan bersama tidak dapat diwujudkan oleh satu kelompok saja. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak, keterbukaan terhadap perbedaan, serta kesediaan untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok.

Nicola mengajak organisasi kepemudaan melakukan evaluasi internal, membuka ruang partisipasi yang setara bagi seluruh anggota, dan memastikan setiap gagasan memperoleh kesempatan untuk dibahas serta dikembangkan.

Ia mengingatkan agar perbedaan latar belakang, pandangan, maupun kepentingan tidak menjadi penghalang bagi lahirnya gagasan dan tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dialog Interaktif, Persatuan Harus Menjawab Persoalan Nyata

Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi dua peserta, Luis dan Ardiansyah. Keduanya mengajukan pertanyaan mengenai cara membangun persatuan di kalangan mahasiswa serta langkah konkret yang dapat ditempuh untuk memperjuangkan keadilan.

Pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa isu persatuan bukan hanya persoalan wacana kebangsaan, melainkan juga menyangkut pengalaman nyata generasi muda ketika berhadapan dengan perbedaan pandangan, ketimpangan, dan persoalan sosial.

Para narasumber menekankan bahwa persatuan membutuhkan lebih dari sekadar seruan moral. Diperlukan kesediaan untuk mendengarkan, keberanian menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab, kemampuan memeriksa kebenaran informasi, serta komitmen untuk bekerja bersama dalam menyelesaikan persoalan.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat, mahasiswa juga dituntut mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan keterlibatan langsung di tengah masyarakat.

Dengan demikian, kritik tidak berhenti sebagai komentar di media sosial, melainkan berkembang menjadi gagasan yang terukur dan tindakan yang membawa manfaat.

Menuju Seabad Sumpah Pemuda, Saatnya Pemuda Memperkuat Kolaborasi

Menjelang peringatan satu abad Sumpah Pemuda pada 2028, refleksi yang mengemuka dalam diskusi tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan generasi muda telah berubah, tetapi kebutuhan untuk menjaga persatuan tetap sama pentingnya.

Jika pada 1928 para pemuda bersepakat melampaui perbedaan demi cita-cita kebangsaan, generasi sekarang menghadapi tantangan tambahan berupa banjir informasi, polarisasi digital, dan pengaruh algoritma terhadap cara berpikir masyarakat.

Karena itu, penguatan literasi digital, budaya dialog, solidaritas sosial, dan keberanian melahirkan karya nyata perlu menjadi bagian dari gerakan kepemudaan.

Dalam konteks tersebut, dukungan terhadap agenda nasional kemahasiswaan, termasuk Rakernas PP PMKRI Sanctus Thomas Aquinas di Medan, diharapkan menjadi momentum memperkuat konsolidasi organisasi serta memperluas kontribusi mahasiswa bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Persatuan tidak berarti menghapus perbedaan. Sebaliknya, persatuan menuntut kemampuan mengelola perbedaan secara dewasa, adil, dan bertanggung jawab.

Semangat itulah yang perlu terus dirawat agar generasi muda tidak sekadar menjadi penonton perubahan, tetapi tampil sebagai penggerak yang mampu menghadirkan solusi, memperjuangkan keadilan, dan menjaga Indonesia tetap utuh menuju cita-cita Indonesia Emas 2045. (Rizky)

Exit mobile version