Medan//secondnewsupdate.co.id– Opini yang dilontarkan Riza Fakhrumi Tahir bertajuk “Nasib Hendri Sitorus Makin Tak Jelas” kembali menuai kritik dari internal Partai Golkar Sumatera Utara. Tulisan tersebut dinilai bukan analisis objektif, melainkan upaya membangun kegaduhan politik di tengah proses konsolidasi partai menjelang Musyawarah Daerah (Musda).
Kritik kali ini disampaikan oleh Ir. Alpan Alpis, Pengurus Partai Golkar Deli Serdang sekaligus Sekretaris DPC Ormas MKGR Deli Serdang. Ia menilai narasi tentang “nasib” yang dibangun Riza terlalu emosional dan tidak didasarkan pada keputusan resmi organisasi.
“Ketika peluang politik di Musda tidak ada, sebagian orang memilih jalur opini untuk merusuh suasana. Ini bukan hal baru dalam politik,” ujar Alpan, Kamis. (8/1/2026).
Alpan menilai publik memahami posisi politik Riza yang selama ini berada dalam lingkaran Musa Rajekshah (Ijeck). Karena itu, opini bernada pesimistis tersebut dinilainya sarat kepentingan untuk mempertahankan pengaruh lama yang kini mulai menyempit seiring menguatnya arus regenerasi di tubuh Golkar Sumut.
“Musda itu forum resmi. Yang menentukan bukan loyalitas lama atau suara opini, melainkan mekanisme dan keputusan kolektif. Kalau tidak punya tiket maju, jangan mengubah politik jadi cerita horor,” sindirnya.
Ia menegaskan, hingga saat ini tidak ada satu pun keputusan resmi Partai Golkar yang menyatakan masa depan politik Hendri Yanto Sitorus berakhir atau berada dalam posisi tidak jelas.
Oleh karena itu, penggunaan istilah “nasib makin tak jelas” dinilai sebagai bentuk kekeliruan berpikir dalam politik.
“Golkar bukan panggung mistis. Tidak ada istilah ‘nasib’, yang ada adalah aturan. Kalau aturan tidak berpihak, jangan diganti dengan ramalan,” tegas Alpan.
Kritik juga diarahkan pada penggunaan diksi seperti “boneka” dan “oligarki” dalam tulisan Riza. Menurut Alpan, istilah tersebut lebih mencerminkan provokasi ketimbang analisis berbasis fakta.
“Semakin keras istilah yang digunakan, semakin terlihat ketiadaan pijakan argumennya. Ini agitasi, bukan analisis,” tambahnya.
Lebih jauh, Alpan mengingatkan posisi moral seorang senior dalam dunia politik agar memberi keteladanan, bukan ketakutan.
“Sudahlah Om Riza, di hari tua ini jangan lagi menanamkan hal-hal mistis dan rasa takut kepada generasi berikutnya,” ujarnya lugas.
Ia menambahkan, seorang senior seharusnya bersikap meneduhkan dan membangun optimisme.
“Di usia sepuh ini, seharusnya hati dipenuhi prasangka baik. Senior itu mestinya meneduhkan, bukan menghantui,” lanjutnya.
Menurut Alpan, proses regenerasi di Partai Golkar tidak pernah ditentukan oleh opini pesimistis atau loyalitas masa lalu, melainkan oleh kerja nyata serta kepatuhan terhadap mekanisme partai.
“Musda bukan audisi opini. Yang lolos bukan yang paling ribut, tetapi yang siap secara mekanisme. Ketika peluang maju tidak ada, merusuh dengan narasi bukanlah jalan yang terhormat,” pungkasnya. (Rizky)
