Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaInformatikaRagam Daerah

KDS Tegaskan Perang Melawan Stunting Tak Bisa Sendirian, PERSAGI Dituntut Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

123
×

KDS Tegaskan Perang Melawan Stunting Tak Bisa Sendirian, PERSAGI Dituntut Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

Sebarkan artikel ini
Bupati Bandung KDS mendapatkan penghargaan dari DPC Persagi kabupaten Bandung, disela pelantikan, Sabtu (10/10/2026)

Kabupaten Bandung, Jabar | secondnewsupdate.co.id – Bupati Bandung Dadang Supriatna (KDS) menegaskan, percepatan penurunan angka stunting membutuhkan komitmen kuat dan kolaborasi nyata dari berbagai sektor. 

Penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan Dinas Kesehatan, tetapi harus melibatkan keluarga, tenaga ahli gizi, dunia pendidikan, sektor pangan, hingga sanitasi.

Example 300x600

Penegasan tersebut disampaikan KDS saat menghadiri pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Ahli Gizi Indonesia (DPC PERSAGI) Kabupaten Bandung periode 2026–2031 di Gedung Mohamad Toha, Soreang, Sabtu (10/10/2026).

“Penanganannya pun tidak dapat dibebankan hanya kepada Dinas Kesehatan. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor,” tegas KDS.

Menurutnya, stunting bukan sekadar persoalan terhambatnya pertumbuhan fisik anak. 

Lebih dari itu, kondisi tersebut berkaitan erat dengan perkembangan kecerdasan, kemampuan belajar, serta kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kabupaten Bandung pada 2024 tercatat sebesar 24,1 persen. 

Angka tersebut menjadi pengingat bahwa upaya perbaikan gizi masyarakat masih membutuhkan perhatian serius melalui program yang terarah, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi keluarga.

KDS menilai, membangun generasi yang sehat dan berkualitas tidak cukup hanya dengan mengandalkan pelayanan kesehatan. 

Perubahan pola pikir, peningkatan kesadaran masyarakat, serta keterlibatan aktif seluruh elemen menjadi faktor penting untuk memastikan setiap anak memperoleh asupan gizi yang cukup dan seimbang sejak dini.

Karena itu, ia mendorong PERSAGI Kabupaten Bandung mengambil peran strategis dalam memperluas edukasi gizi, mendampingi keluarga yang berisiko mengalami stunting, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, serta mengoptimalkan pemanfaatan data agar intervensi pemerintah lebih tepat sasaran.

Pangan Aman dan Gizi Seimbang Jadi Kunci

Selain penanganan stunting, KDS turut menyoroti pentingnya keamanan pangan sebagai bagian integral dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa makanan yang terlihat menarik atau sekadar mengenyangkan belum tentu mampu memenuhi kebutuhan gizi tubuh. 

Demikian pula, makanan yang tampak baik belum tentu aman dikonsumsi.

“Makanan yang mengenyangkan belum tentu memenuhi kebutuhan gizi, dan makanan yang terlihat menarik belum tentu aman untuk dikonsumsi,” ujarnya.

Menurut KDS, edukasi mengenai pangan sehat, aman, dan bergizi perlu diperluas ke berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, sekolah, pesantren, rumah sakit, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ia juga mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber makanan bergizi yang terjangkau dan mudah diakses masyarakat.

Potensi pangan daerah, kata dia, perlu dioptimalkan agar pemenuhan gizi tidak bergantung pada produk tertentu, sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat.

KDS berharap sinergi antara pemerintah daerah, PERSAGI, puskesmas, posyandu, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha dapat diwujudkan melalui program konkret dengan sasaran yang jelas serta hasil yang terukur.

Dengan begitu, upaya menekan angka stunting tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi mampu menghasilkan perubahan nyata dalam pola konsumsi, perilaku hidup sehat, dan pemenuhan gizi keluarga.

Pergantian Kepengurusan Harus Perkuat Pengabdian

Sementara itu, Ketua DPC PERSAGI Kabupaten Bandung periode 2021–2026, Haris Nurdiana Sofyan, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh anggota yang telah mendukung berbagai program serta memperkuat organisasi selama masa kepemimpinannya.

Haris juga menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kekurangan, baik dalam pelaksanaan program maupun komunikasi selama menjalankan amanah organisasi.

Ia menegaskan, pergantian kepemimpinan merupakan bagian dari dinamika organisasi yang harus disikapi secara positif.

Menurutnya, perubahan kepengurusan bukan alasan untuk mengendurkan semangat pengabdian. 

Sebaliknya, momentum tersebut harus menjadi kesempatan untuk memperkuat peran para ahli gizi dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Melalui kepengurusan baru periode 2026–2031, PERSAGI Kabupaten Bandung diharapkan semakin aktif memperkuat edukasi gizi, mendukung percepatan penurunan stunting, serta membangun sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan demi mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan generasi masa depan yang berkualitas. (Apih)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600