BeritaBudayaEkonomiRagam Daerah

Kemarau 2026 Datang Lebih Cepat! DKP3 Majalengka Minta Petani Tancap Gas Tanam MT II

116
Para Petani di Majalengka, Percepat masa tanam MT II

Majalengka// secondnewsupdate.co.id – Musim kemarau tahun 2026 diprediksi datang lebih awal dan berpotensi berdampak pada sektor pertanian. 

Menyikapi hal tersebut, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka mengimbau para petani untuk mempercepat masa tanam Musim Tanam II (MT II).

Berdasarkan rilis dari Stasiun Klimatologi di Jawa Barat, musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung bertahap mulai Maret hingga Juni 2026.

Puncaknya, sebagian besar wilayah akan mulai memasuki kemarau pada Mei, dengan kondisi curah hujan di bawah normal.

Kepala DKP3 Majalengka, H. Gatot Sulaeman, menegaskan bahwa pihaknya telah menginstruksikan seluruh penyuluh pertanian lapangan untuk segera bergerak cepat berkoordinasi dengan kelompok tani.

“Saat ini belum semua petani panen MT I. Ada yang masih bersiap panen karena sebelumnya sempat terjadi keterlambatan tanam akibat curah hujan yang tidak merata,” ujar Gatot, Sabtu (11/4/2026).

Menurutnya, sejumlah wilayah seperti Jatitujuh, Ligung, hingga sebagian Kertajati mengalami kendala pasokan air irigasi. Kondisi ini berdampak langsung terhadap mundurnya jadwal tanam petani.

Untuk itu, percepatan tanam MT II menjadi langkah strategis agar petani masih bisa memanfaatkan sisa kelembapan tanah sebelum kemarau benar-benar mengeringkan lahan.

“Petugas lapangan sudah kami siagakan, khususnya di daerah sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan. Momentum ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin,” tegasnya.

Meski menghadapi tantangan iklim, capaian sektor pertanian Majalengka hingga Maret 2026 menunjukkan tren positif. Tercatat luas panen mencapai 31.253 hektare dengan total produksi mencapai 204.261 ton gabah sejak Januari hingga Maret 2026.

Di sisi lain, para petani menyambut imbauan tersebut dengan penuh pertimbangan. Dedi (45), petani asal Ligung, mengaku siap mempercepat masa tanam jika kondisi air masih memungkinkan.

“Kalau air masih ada, kami siap tanam lebih cepat. Tapi kalau sudah mulai kering, tentu jadi kendala. Harapannya ada solusi irigasi atau bantuan pompa,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ujang (50), petani di Jatitujuh. Ia menilai percepatan tanam adalah langkah tepat, namun harus dibarengi dengan kesiapan sarana produksi.

“Benih, pupuk, dan air harus tersedia. Kalau semua mendukung, kami optimis hasil tetap bagus meski kemarau datang lebih cepat,” katanya.

Dengan sinergi antara pemerintah dan petani, diharapkan sektor pertanian di Majalengka tetap tangguh menghadapi ancaman perubahan iklim. 

Percepatan tanam MT II pun menjadi kunci untuk menjaga produktivitas di tengah kemarau yang diprediksi lebih awal tahun ini. (Ast).

Exit mobile version