BeritaInformatikaPolitikRagam Daerah

Ketua DPRD Kabupaten Bandung Serukan Zero Waste 2026, Wajib Bawa Tumbler hingga Tekan Food Waste

111
Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Renie Rahayu Fauzi, menyerukan penerapan strategi Zero Waste dan Zero Food Waste di seluruh lingkungan DPRD pada 2026.

Kab Bandung/ secondnewsupdate.co.id – Komitmen pengurangan sampah di lingkungan pemerintahan terus diperkuat. Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Renie Rahayu Fauzi, menyerukan penerapan strategi Zero Waste dan Zero Food Waste di seluruh lingkungan DPRD pada 2026.

Ajakan tersebut disampaikan Renie saat ditemui wartawan di kantor DPRD Kabupaten Bandung, Senin (11/5/2026).

Ia menegaskan pentingnya perubahan perilaku sederhana namun konsisten sebagai langkah nyata mendukung program pengelolaan sampah Pemerintah Kabupaten Bandung.

Menurut Renie, salah satu langkah paling mendasar adalah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan kantor. Karena itu, seluruh anggota DPRD dan jajaran fraksi diminta mulai membiasakan membawa perlengkapan makan dan minum pribadi.

“Seluruh anggota DPRD saya minta membawa tempat makan dan tumbler sendiri agar bisa menekan penggunaan botol plastik serta kemasan makanan sekali pakai yang selama ini cukup mendominasi sampah kantor,” ujar Renie.

Ia menilai budaya praktis yang bergantung pada air minum kemasan dan bungkus makanan instan menjadi salah satu pemicu meningkatnya volume sampah anorganik.

Untuk mengatasinya, Renie mendorong setiap ruang fraksi, komisi, hingga unsur pimpinan DPRD menyediakan dispenser air minum dan gelas pakai ulang.

Langkah ini dinilai bukan sekadar kebijakan internal, melainkan bentuk edukasi lingkungan yang dimulai dari kantor pemerintahan.

DPRD Kabupaten Bandung diharapkan menjadi contoh konkret bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain dalam membangun budaya kerja yang lebih ramah lingkungan.

Tak hanya fokus pada sampah plastik, Renie juga menyoroti persoalan limbah makanan atau food waste yang masih kerap terjadi dalam agenda rapat dan kegiatan seremonial pemerintahan.

Menurutnya, masih banyak makanan tersisa yang akhirnya terbuang percuma, sementara di sisi lain kebutuhan pangan masyarakat masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah.

“Food waste ini sering dianggap hal kecil, padahal dampaknya besar. Kita harus mulai menghargai makanan sebagai bentuk rasa syukur, bukan sesuatu yang mudah dibuang,” katanya.

Melalui gerakan Zero Food Waste, DPRD Kabupaten Bandung ingin membangun kesadaran baru bahwa pengelolaan makanan juga menjadi bagian penting dari gaya hidup berkelanjutan.

Renie berharap strategi serupa dapat diterapkan lebih luas, tidak hanya di lingkungan DPRD, tetapi juga di seluruh kantor pemerintahan Kabupaten Bandung. Ia menilai persoalan sampah sudah menjadi isu serius yang membutuhkan keterlibatan kolektif lintas sektor.

“Lingkungan bersih tidak lahir dari slogan semata, tetapi dari kebiasaan yang dilakukan setiap hari. Kalau kita mulai dari hal kecil seperti membawa tumbler, mengurangi sampah, dan tidak membuang makanan, itu sudah menjadi investasi masa depan bagi generasi berikutnya,” tegasnya.

Dorongan penerapan Zero Waste di lingkungan pemerintahan ini menjadi salah satu langkah strategis Kabupaten Bandung dalam memperkuat budaya birokrasi hijau sekaligus menekan produksi sampah dari sumbernya. (Apih)

Exit mobile version