EkonomiInformatikaSosial

Kredit Perbankan Tembus Rp8.755 Triliun, OJK: Dunia Usaha Makin Agresif Berinvestasi

111
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi sampaikan dalam Konferensi pers bersama insan media, Jumat(5/6/2026). (Foto:Tangkapan layar youtube OJK)

Tasikmalaya/ secondnewsupdate.co.id – Kinerja perbankan nasional menunjukkan tren positif sepanjang 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit terus menguat dan menjadi salah satu motor penggerak aktivitas ekonomi riil di Indonesia.

Hingga April 2026, total penyaluran kredit perbankan mencapai Rp8.755 triliun atau tumbuh 9,98 persen secara tahunan (year on year). 

Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan kredit pada Maret 2026 yang berada di level 9,49 persen.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan peningkatan kredit tersebut mencerminkan semakin tingginya aktivitas investasi dan ekspansi usaha di berbagai sektor.

“Kredit investasi menjadi segmen dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 19,48 persen secara tahunan,” ujar Friderica dalam konferensi pers bersama media nasional, Jumat (5/6/2026).

Lonjakan kredit investasi tersebut dinilai sebagai sinyal kuat meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek perekonomian.

Perusahaan-perusahaan mulai kembali agresif melakukan ekspansi bisnis dan penambahan kapasitas produksi.

Dari sisi debitur, kredit korporasi juga mencatatkan performa impresif dengan pertumbuhan sebesar 15,51 persen secara tahunan.

Sementara itu, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Kredit UMKM tumbuh 0,16 persen secara tahunan, sedikit lebih baik dibandingkan posisi Maret 2026 yang tercatat 0,12 persen.

Berdasarkan kelompok bank, bank-bank milik pemerintah atau BUMN masih menjadi penopang utama pertumbuhan kredit nasional. 

Penyaluran kredit oleh bank BUMN tercatat meningkat 14,35 persen secara tahunan, tertinggi dibanding kelompok perbankan lainnya.

Di tengah laju ekspansi kredit, kualitas aset perbankan tetap terjaga. OJK mencatat rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross berada pada level 2,17 persen, sedangkan NPL net sebesar 0,84 persen.

Risiko kredit juga menunjukkan perbaikan. Rasio Loan at Risk (LaR) turun menjadi 8,82 persen dari sebelumnya 8,94 persen pada Maret 2026. 

Sementara itu, profitabilitas industri perbankan masih kuat dengan Return on Assets (ROA) mencapai 2,46 persen.

Dari sisi permodalan, industri perbankan nasional dinilai sangat solid. 

Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 23,97 persen setelah memperhitungkan pembagian dividen. 

Angka tersebut jauh di atas batas minimum yang ditetapkan regulator sehingga memberikan ruang yang cukup bagi perbankan untuk mendukung pembiayaan ekonomi.

Tak hanya perbankan, sektor jasa keuangan nonbank juga menunjukkan kinerja yang stabil.

Industri asuransi membukukan total aset sebesar Rp1.202,16 triliun pada April 2026 atau tumbuh 3,39 persen secara tahunan.

Pendapatan premi asuransi secara kumulatif mencapai Rp116,01 triliun. 

Sementara tingkat permodalan industri asuransi tetap berada pada level yang sangat kuat dengan Risk Based Capital (RBC) asuransi jiwa mencapai 476,11 persen dan asuransi umum sebesar 311,74 persen, jauh di atas ketentuan minimum 120 persen.

Pada sektor dana pensiun, total aset tercatat mencapai Rp1.690,64 triliun atau tumbuh 6,12 persen secara tahunan.

Program pensiun sukarela meningkat 5,63 persen, sedangkan program pensiun wajib tumbuh 6,65 persen.

OJK menilai berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa sistem keuangan nasional masih berada dalam kondisi sehat, stabil, dan memiliki daya tahan yang kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah dinamika serta ketidakpastian ekonomi global. (Krist)

Penulis: Kristianto Editor: Bama
Exit mobile version