Garut/secondnewsupdate.co.id – Di tengah meningkatnya tren kopi lokal di Indonesia, usaha kopi asal Kabupaten Garut bernama LS Kopi terus menunjukkan perkembangan signifikan.
Dirintis dari usaha kecil rumahan, kini LS Kopi mampu memproduksi hingga 1,5 ton kopi per hari dan memasarkannya ke berbagai daerah di Indonesia.
Pemilik LS Kopi, Asep Rahmat Hidayat Alimin Panca Saputra, mengatakan usaha yang dibangunnya telah berjalan selama kurang lebih sembilan tahun. Ia merintis bisnis kopi tersebut dari Kampung Pacet, Desa Tanjungjaya, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut.
“Awalnya saya mulai dari kecil, hanya 2 sampai 5 karung kopi. Satu karung beratnya sekitar 50 sampai 65 kilogram,” ujar Asep saat ditemui, Kamis (14/5/2026).
Asep menjelaskan, perkembangan signifikan mulai terasa sejak 2020. Seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap kopi lokal berkualitas, LS Kopi mulai memperluas kapasitas produksi dan jaringan distribusi.
Saat ini, LS Kopi memproduksi dua jenis unggulan, yakni kopi Arabika dan Robusta, dengan total produksi mencapai sekitar 1,5 ton per hari. Meski harga kopi di pasaran kerap mengalami fluktuasi, pihaknya memilih mempertahankan harga jual sebesar Rp19.000 per kilogram.
Menurut Asep, keputusan menjaga harga tersebut dilakukan demi keberlangsungan petani kopi dan kestabilan pasar.
“Kalau diturunkan lagi kasihan juga ke masyarakat dan petani. Jadi standarnya tetap Rp19.000 per kilo,” katanya.
Langkah tersebut dinilai menjadi salah satu komitmen LS Kopi dalam menjaga ekosistem kopi lokal agar tetap sehat, mulai dari petani, pengolah, hingga konsumen.
Kini, produk LS Kopi telah menjangkau berbagai daerah seperti Bandung, Jakarta, Pangalengan, Kawali, Indramayu, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Distribusi dilakukan dalam skala besar menyesuaikan permintaan pelanggan.
Tak hanya berkembang dari sisi pemasaran, LS Kopi juga mulai memperkuat operasional bisnis.
Saat ini usaha tersebut telah memiliki dua cabang dengan dukungan tiga tenaga kerja.
Dalam proses produksi, Asep menerapkan sistem over cherry, metode pengolahan yang dinilai lebih praktis dan efisien untuk menunjang kapasitas produksi yang terus meningkat.
Menariknya, nama LS Kopi bukan sekadar merek dagang. Asep menyebut nama tersebut memiliki filosofi kuat yang berkaitan dengan budaya Sunda dan sejarah panjang kopi di tanah Garut.
“Kopi Garut ini identik dengan budaya Sunda. Dari dulu leluhur Sunda juga dekat dengan kopi,” ungkapnya.
Baginya, kopi bukan hanya komoditas bisnis, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Sunda yang perlu terus dijaga dan diwariskan.
Asep berharap, ke depan kopi lokal asal Garut semakin dikenal luas dan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Harapannya usaha kopi lokal Garut bisa terus berkembang, membantu ekonomi masyarakat, sekaligus mengangkat nama kopi Garut di berbagai daerah,” pungkasnya. (Asan).
















