Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
EntertainmentGaya hidupRagam Daerah

Peringati HUT RI ke-81, Kades Kertawinangun Hadirkan Wayang Golek Semalam Suntuk, Budaya Sunda Jadi Napas Kemerdekaan

131
×

Peringati HUT RI ke-81, Kades Kertawinangun Hadirkan Wayang Golek Semalam Suntuk, Budaya Sunda Jadi Napas Kemerdekaan

Sebarkan artikel ini
Foto Kiri : Kepala Desa Kertawinangun H. Suparman saat memberikan sambutan di acara pagelaran wayang golek HUT Kemerdekaan RI ke 81 dan Foto Kanan : Kepala desa Kertawinangun H. bersama Ki dalang Yogaswara Sunandar Sunarya dan jajaran aparat pemerintahan desa Kertawinangun.

Jawa Barat, Majalengka l secondnewsupdate.co.id — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Kertawinangun, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, berlangsung meriah sekaligus sarat makna budaya.

Di tengah suasana malam yang hangat, ratusan warga memadati lapangan bola Desa Kertawinangun untuk menyaksikan pagelaran wayang golek semalam suntuk yang digelar Kepala Desa Kertawinangun, H. Suparman, sebagai bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Example 300x600

Pertunjukan semakin istimewa karena menghadirkan dalang ternama, Yogaswara Sunandar Sunarya, putra dari Giri Harja 3 Bandung. 

Pagelaran tersebut bukan sekadar tontonan hiburan, tetapi menjadi momentum untuk menanamkan kembali kecintaan terhadap seni dan budaya Sunda di tengah masyarakat.

Sejak malam mulai larut, warga dari berbagai kalangan berdatangan. Lansia, orang dewasa, hingga anak-anak tampak antusias memenuhi area pertunjukan. 

Mereka duduk berjejer menikmati alunan gamelan yang perlahan menghidupkan suasana malam.

Ketika kelir mulai dibuka, perhatian penonton pun tertuju ke panggung. 

Gerakan wayang yang dimainkan dalang berpadu dengan suara gamelan dan lantunan tembang Sunda, menciptakan suasana khas pagelaran wayang golek yang semakin jarang ditemui dalam kehidupan masyarakat modern.

Wayang Golek Jadi Media Menanamkan Nilai Kemerdekaan

Di balik pertunjukan, terselip pesan tentang kehidupan, persatuan, keberanian, kesetiaan, kebijaksanaan hingga semangat gotong royong.

Nilai-nilai tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan semangat kemerdekaan Indonesia. Sebab, kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai tanggung jawab bersama untuk menjaga persatuan, kebudayaan dan jati diri bangsa.

Suparman, mengatakan pemilihan wayang golek sebagai bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI memiliki alasan tersendiri.

Menurutnya, masyarakat khususnya generasi muda perlu terus diperkenalkan dengan seni dan budaya daerah agar tidak kehilangan identitas di tengah derasnya perkembangan teknologi dan budaya global.

“Di tengah gempuran zaman dan arus teknologi, kita jangan sampai melupakan akar budaya sendiri. Lewat wayang, kita berharap nilai-nilai luhur kemerdekaan dapat disampaikan dengan cara yang lebih menyentuh hati dan dirasakan bersama, dari tua hingga muda,” ujar Suparman.

Ia menegaskan, pagelaran wayang golek tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI.

Rencananya, kegiatan serupa akan kembali digelar setiap tahun sebagai bentuk komitmen Pemerintah Desa Kertawinangun dalam memberikan hiburan kepada masyarakat sekaligus ikut menjaga keberlangsungan seni budaya Sunda.

“Kegiatan seperti ini ke depan akan kita laksanakan setiap tahun. Selain memberikan hiburan kepada masyarakat, yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama melestarikan seni dan budaya Sunda agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus,” tambahnya.

Orang Tua Kenalkan Makna Wayang kepada Anak

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang pertunjukan. Tidak sedikit orang tua yang memanfaatkan momentum tersebut untuk mengenalkan tokoh-tokoh pewayangan kepada anak-anak mereka.

Di sela-sela pertunjukan, sejumlah orang tua tampak menjelaskan karakter dan filosofi tokoh wayang kepada anak-anaknya. Nilai tentang keberanian, kesetiaan, kepemimpinan, tanggung jawab dan kebijaksanaan menjadi bagian dari pembelajaran yang disampaikan secara sederhana.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pagelaran wayang golek bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga dapat menjadi ruang pendidikan budaya bagi generasi muda.

Lapangan bola Desa Kertawinangun malam itu pun berubah menjadi ruang kebersamaan. 

Masyarakat berkumpul tanpa sekat usia maupun latar belakang, menikmati hiburan tradisional yang sekaligus menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga warisan leluhur.

Kemerdekaan dan Budaya Tak Terpisahkan

Memasuki tengah malam hingga menjelang fajar, antusiasme warga tidak menunjukkan tanda-tanda surut. 

Suara dalang, tabuhan gamelan dan gerakan wayang terus mengiringi malam panjang perayaan kemerdekaan.

Bagi masyarakat Desa Kertawinangun, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tidak hanya diwujudkan melalui upacara bendera maupun berbagai perlombaan rakyat.

Kemerdekaan juga dirayakan dengan cara menjaga dan menghidupkan kembali budaya yang diwariskan para leluhur.

Pagelaran wayang golek tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa menjaga kebudayaan merupakan bagian dari menjaga identitas bangsa.

Ketika pertunjukan akhirnya berakhir menjelang fajar, warga membawa pulang lebih dari sekadar hiburan. Mereka membawa kembali pesan bahwa kemerdekaan dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling berkaitan.

Di Desa Kertawinangun, semangat kemerdekaan dirawat melalui kebersamaan, gotong royong dan kecintaan terhadap budaya sendiri.

Wayang boleh dimainkan semalam suntuk, tetapi nilai-nilai yang disampaikannya diharapkan terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Ast)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600