BeritaInformatikaRagam Daerah

Potensi Geothermal 2.711 MW, Kabupaten Bandung Tancap Gas Dukung Transisi Energi Bersih

115
Bupati Bandung KDS (ketiga dari kiri) berfoto bersama usai kunjungan pameran Geothermal di Jakarta, kemarin.

DKI, Jakarta l secondnewsupdate.co.id — Kabupaten Bandung menunjukkan komitmen serius dalam mendukung percepatan transisi energi nasional. 

Potensi panas bumi yang mencapai sekitar 2.711 megawatt (MW) menjadi modal strategis bagi daerah untuk terus berkontribusi dalam pengembangan energi baru dan terbarukan.

Komitmen tersebut ditegaskan melalui kehadiran Bupati Bandung Dadang Supriatna pada acara pembukaan Konvensi dan Pameran Internasional ke-12 Panas Bumi Indonesia (Indonesia Geothermal Convention and Exhibition/IGCE) 2026 yang digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Centre, Rabu (19/8/2026).

Forum internasional tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, investor, hingga berbagai pemangku kepentingan sektor panas bumi. Kehadiran Bupati Bandung menjadi sinyal kuat bahwa Kabupaten Bandung siap mengambil bagian lebih besar dalam pengembangan energi bersih sekaligus mendorong pemanfaatan potensi geothermal secara berkelanjutan.

Kabupaten Bandung selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan potensi panas bumi terbesar di Jawa Barat.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Bandung, potensi geothermal sekitar 2.711 MW tersebar di sejumlah kawasan strategis, di antaranya Kamojang, Wayang Windu, Darajat, Patuha, dan Cibuni.

Sebagian potensi tersebut telah dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan energi listrik nasional.

Namun, masih terdapat potensi besar yang terbuka untuk dikembangkan dengan pendekatan investasi, teknologi, serta tata kelola yang memperhatikan aspek lingkungan dan kepentingan masyarakat.

Kamojang, Titik Bersejarah Geothermal Indonesia

Salah satu kawasan yang memiliki nilai historis penting adalah Kamojang. Kawasan ini menjadi bagian dari sejarah panjang pengembangan energi panas bumi di Indonesia.

Pada 1926, pengeboran sumur panas bumi pertama di Indonesia dimulai di Kamojang. 

Seabad kemudian, kawasan tersebut masih menjadi salah satu pusat pemanfaatan energi geothermal sekaligus menjadi bukti bahwa panas bumi memiliki prospek jangka panjang sebagai sumber energi terbarukan.

Selain Kamojang, potensi geothermal Kabupaten Bandung juga berada di kawasan Wayang Windu, Pangalengan, Darajat, Patuha, Ciwidey/Pasirjambu, hingga Cibuni.

Di kawasan Patuha, pemanfaatan panas bumi telah dikembangkan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Patuha yang mulai beroperasi sejak 2014.

Pengembangan berbagai kawasan tersebut membuat Kabupaten Bandung memiliki posisi strategis dalam mendukung target peningkatan bauran energi baru dan terbarukan di Indonesia.

Namun, pengembangan geothermal tidak semata-mata berbicara mengenai kapasitas pembangkit. 

Pemerintah daerah juga dituntut memastikan bahwa investasi energi bersih memberikan dampak nyata terhadap perekonomian lokal, membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Bahlil: Transisi Energi Menyangkut Kedaulatan Negara

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya mempercepat transformasi dari energi fosil menuju energi bersih.

Menurut Bahlil, dinamika geopolitik global menjadi salah satu alasan Indonesia harus memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional. Ketergantungan terhadap energi fosil dinilai dapat menjadi tantangan apabila terjadi gejolak ekonomi maupun politik di tingkat global.

“Perubahan atau konversi energi fosil ke energi bersih bukan hanya menuju net zero emission, tetapi untuk meninggalkan warisan bumi yang lebih baik kepada anak cucu kita,” ujar Bahlil.

Pemerintah, lanjutnya, terus mendorong peningkatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan melalui berbagai sumber, mulai dari tenaga surya, panas bumi, tenaga air, hingga sumber energi lainnya.

Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya juga menjadi salah satu agenda yang terus didorong secara masif sebagai bagian dari transformasi sistem energi nasional.

Geothermal Jangan Hanya Jadi Pembangkit Listrik

Bahlil juga menekankan bahwa potensi panas bumi Indonesia tidak seharusnya hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik.

Menurutnya, geothermal memiliki peluang besar untuk menciptakan multiplier effect terhadap perekonomian. Energi panas bumi dapat dimanfaatkan untuk mendukung sektor industri, pertanian, pengeringan hasil perkebunan, serta berbagai aktivitas ekonomi produktif lainnya.

Indonesia sendiri memiliki sumber daya panas bumi yang sangat besar dan masuk dalam jajaran negara dengan potensi geothermal terbesar di dunia. Namun, besarnya potensi tersebut masih membutuhkan percepatan pengembangan.

Beberapa aspek yang dinilai penting antara lain penyederhanaan regulasi, pemberian insentif, penguatan iklim investasi, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi erat antara pemerintah dan dunia usaha.

“Tidak ada cara lain untuk melakukan percepatan implementasi geothermal supaya bisa menjadi listrik ataupun menjadi energi lain selain dengan kolaborasi antara pengusaha dan regulator (pemerintah),” tegas Bahlil.

Kabupaten Bandung Punya Peluang Besar

Bagi Kabupaten Bandung, besarnya potensi geothermal tersebut menjadi peluang strategis untuk memperkuat posisi daerah dalam agenda transisi energi nasional.

Pemanfaatan panas bumi secara optimal berpotensi tidak hanya memperkuat pasokan energi, tetapi juga membuka ruang investasi dan menciptakan efek ekonomi berantai bagi masyarakat di sekitar kawasan pengembangan.

Karena itu, pengembangan geothermal di Kabupaten Bandung diharapkan dilakukan dengan prinsip berkelanjutan, berwawasan lingkungan, melibatkan masyarakat, serta memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan bahwa momentum 100 tahun pengeboran panas bumi di Kamojang menjadi pengingat penting mengenai perjalanan panjang sekaligus besarnya potensi geothermal Indonesia.

Dengan sejarah panjang tersebut, Kabupaten Bandung kini tidak hanya menjadi saksi perkembangan panas bumi Indonesia, tetapi juga memiliki peluang untuk menjadi salah satu daerah penting dalam masa depan energi bersih nasional.

Potensi geothermal 2.711 MW menjadi aset strategis.

Tantangannya kini adalah bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan secara cepat, tepat, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi ketahanan energi sekaligus kesejahteraan masyarakat. (Apih)

Penulis: Apih Igun Ruhiyat Editor: Bama
Exit mobile version