PolitikRagam Daerah

Reses Unik Dede Yusuf dengan Konsep ‘Ngawangkong’, Soroti Maraknya Begal hingga Ajak Warga Hidupkan Lagi Siskamling

117
Dede Yusuf Bacan Efendi (tengah) berfoto bersama peserta reses usai acara di Baleendah, Rabu (5/8/2026)

Jawa Barat, Kab Bandung l secondnewsupdate.co.id – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Dede Yusuf Macan Effendi, menghadirkan suasana berbeda dalam kegiatan reses di Rumah Aspirasi Rancage, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (5/8/2026).

Mengusung konsep “Ngawangkong”, kegiatan tersebut dikemas santai tanpa sekat antara wakil rakyat dan masyarakat sehingga dialog berlangsung lebih terbuka, akrab, dan penuh makna.

Reses tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Saeful Bachri serta ratusan warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Bandung, khususnya Desa Malakasari, Kecamatan Baleendah.

Tanpa podium megah maupun suasana formal yang kaku, masyarakat duduk berdampingan bersama para wakil rakyat untuk menyampaikan beragam persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. 

Mulai dari keamanan lingkungan, pelayanan administrasi kependudukan, pertanahan, pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, hingga berbagai program bantuan sosial pemerintah.

Dalam forum tersebut, Dede dan Saeful mendengarkan secara langsung setiap aspirasi yang disampaikan warga sebagai bahan perjuangan dalam menjalankan fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran di parlemen.

Salah satu isu yang paling banyak mendapat perhatian adalah meningkatnya keresahan masyarakat terhadap maraknya aksi kriminalitas jalanan, khususnya kasus begal yang belakangan ramai diperbincangkan.

Keresahan itu disampaikan seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sali Al-Aitam (Unisal) yang mengaku kerap pulang larut malam setelah mengikuti aktivitas organisasi kampus.

“Sekarang viral aksi begal di Bandung. Harus bagaimana ya Pak?” tanyanya kepada Dede.

Menanggapi hal tersebut, Dede menilai persoalan kriminalitas tidak dapat diselesaikan hanya melalui penegakan hukum semata. Menurutnya, keluarga memiliki peran yang sangat penting sebagai benteng pertama dalam membentuk karakter generasi muda.

“Banyak pelaku begal itu anak di bawah umur. Mereka juga anak-anak negeri ini. Bisa jadi mereka terjerumus karena kurangnya pendidikan nurani di rumah,” ujar Dede.

Ia menambahkan, perubahan pola kehidupan di era digital turut memengaruhi perhatian orang tua terhadap perkembangan anak.

“Orang tuanya sibuk bermain HP, anaknya juga cukup dibelikan HP.

Akibatnya anak mencari lingkungan di luar rumah, bertemu kelompok yang salah, lalu akhirnya terjerumus ke tindakan kriminal,” katanya.

Meski demikian, Dede Yusuf menegaskan negara tetap harus hadir memberikan rasa aman kepada masyarakat melalui penegakan hukum yang tegas serta dukungan pemerintah daerah dalam memperkuat sistem keamanan lingkungan.

Menurutnya, pemasangan Penerangan Jalan Umum (PJU), CCTV di titik-titik rawan, serta penguatan koordinasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, RT, RW, dan masyarakat merupakan langkah yang harus terus diperkuat.

Ia juga mengajak masyarakat menghidupkan kembali budaya ronda malam atau Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling).

“Waktu kecil saya sering ikut ronda bersama bapak saya. Sekarang apakah masih ada ronda malam seperti dulu? Rasanya semakin jarang,” ungkapnya.

Dede menegaskan bahwa menjaga keamanan bukan hanya menjadi tugas aparat kepolisian, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

“Kalau ada aktivitas mencurigakan atau ada yang berkumpul hingga larut malam dan diduga mengonsumsi minuman keras, segera laporkan kepada RT, RW, kemudian diteruskan kepada aparat kepolisian,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Dede Yusuf juga menyoroti fenomena munculnya sayembara penangkapan begal yang belakangan ramai beredar di masyarakat. Menurutnya, langkah tersebut tidak tepat dan justru berpotensi memperkeruh keadaan.

“Ini berbahaya. Mereka adalah anak-anak kita juga, anak bangsa yang tersesat jalan hidupnya. Bisa jadi kondisi itu juga lahir dari kelalaian kita bersama. Karena itu penyelesaiannya harus menyentuh akar persoalan,” tuturnya.

Selain persoalan keamanan, warga juga menyampaikan berbagai aspirasi mengenai pelayanan administrasi kependudukan, pertanahan, kesempatan kerja, pendidikan, layanan kesehatan, hingga pelaksanaan berbagai program bantuan sosial pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Seluruh masukan tersebut akan menjadi bahan perjuangan Dede Yusuf di DPR RI agar kebijakan yang dihasilkan semakin tepat sasaran dan menjawab kebutuhan masyarakat.

Keunikan reses kali ini juga terlihat dari konsep “Ngawangkong” yang sengaja dibangun tanpa kesan formal. Suasana dialog berlangsung hangat, penuh kekeluargaan, sehingga masyarakat merasa lebih nyaman menyampaikan keluhan maupun gagasannya secara langsung.

Kebersamaan semakin terasa saat peserta menikmati aneka kuliner tradisional Sunda yang disediakan secara gratis, mulai dari bajigur, bandrek, batagor hingga lontong kari. 

Sajian sederhana tersebut menjadi simbol kedekatan antara wakil rakyat dan masyarakat yang diwakilinya.

Melalui konsep reses yang lebih membumi ini, Dede Yusuf berharap Rumah Aspirasi tidak hanya menjadi tempat menerima keluhan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi warga.

“Ketika wakil rakyat mendengar langsung suara masyarakat, maka kebijakan yang lahir akan lebih tepat sasaran dan kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif pun semakin kuat,” pungkasnya.(Apih)

Penulis: Apih Igun Ruhiyat Editor: Bama
Exit mobile version