Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaBudayaInformatikaRagam Daerah

Rudal Rapier Cimahi Tuai Pro-Kontra, Ketua LSM Penjara: Cimahi Itu Kota Militer, Bukan Kota Pewayangan!

3722
×

Rudal Rapier Cimahi Tuai Pro-Kontra, Ketua LSM Penjara: Cimahi Itu Kota Militer, Bukan Kota Pewayangan!

Sebarkan artikel ini
Icon tugu tiga rudal rapier di persimpangan jalan menuju perkantoran Pemkot Cimahi, Cihanjuang, dan Jalan Jati terus memicu perdebatan hangat.

Cimahi//secondnewsupdate.co.id – Keberadaan ikon tiga rudal Rapier di persimpangan jalan menuju perkantoran Pemkot Cimahi, Cihanjuang, dan Jalan Jati terus memicu perdebatan hangat. 

Di tengah desakan sebagian warga yang menginginkan ikon budaya seperti pewayangan, dukungan mengejutkan justru datang dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pemantau Kinerja Aparatur Negara (Penjara).

Example 300x600

​Ketua Umum LSM Penjara, Andi Halim, pasang badan membela kebijakan pembangunan tugu tersebut. 

Menurutnya, pemasangan rudal sebagai ikon kota adalah simbol kemajuan berpikir dan bentuk kejujuran atas identitas sejarah Kota Cimahi.

​Andi menilai, anggapan bahwa rudal terasa “seram” adalah pandangan yang tidak berdasar pada realitas zaman. Ia justru mengkritik pihak-pihak yang menginginkan ikon pewayangan sebagai langkah mundur.

​”Saya ingin mengedukasi masyarakat. Kita harus maju, bukan mundur. Sekarang zaman teknologi, dan rudal adalah simbol kecanggihan teknologi pertahanan. Cimahi harus punya ciri khas yang relevan dengan zamannya,” tegas Andi saat memberikan keterangan, Kamis (22/1/2026).

Ketua Umum LSM Penjara, Andi Halim, pasang badan membela kebijakan pembangunan rudal rapier tersebut.

​Ia bahkan melontarkan pernyataan tajam mengenai usulan ikon pewayangan. 

“Jangan malah mundur. Wayang itu budaya apa? Saya pikir kita harus berpikir jauh ke depan, bukan terjebak pada simbol-simbol yang bahkan secara historis mungkin bukan asli dari sini,” tambahnya.

​Bukan tanpa alasan Andi menyebut rudal sebagai identitas yang tepat. Sejarah mencatat, sejak zaman penjajahan Jepang, Cimahi memang telah didesain sebagai pusat pertahanan. Hingga kini, kota ini menampung 13 Pusat Pendidikan (Pusdik) militer, satu Batalion, satu Brigif, hingga Kodim.

​”Ciri khas Cimahi bukan kuliner atau pewayangan. Cimahi adalah Kota Militer. Keberadaan rudal Rapier, meriam, atau tank baja di ruang publik adalah penegasan bahwa identitas militer melekat kuat di kota ini,” jelas Andi.

​Ia mencontohkan keberadaan monumen tank di daerah Baros sebagai hal positif yang memperkuat karakter kota di benak wisatawan.

​Lebih jauh, Andi memandang ikon militer justru bisa menjadi daya tarik wisata yang unik bagi pelancong domestik maupun mancanegara. 

Ia berharap ke depannya, ikon-ikon berbau militer lainnya, termasuk teknologi drone, bisa lebih banyak ditampilkan di sudut-kota.

​”Dalam situasi global yang tidak menentu seperti sekarang, pemikiran kita harus futuristik. Jika orang lain sudah bicara rudal dan teknologi canggih, masa kita masih bicara panah Arjuna? Itu bukan ikon Cimahi,” cetusnya.

​Meski tetap mendukung pelestarian budaya Sunda melalui bahasa, untuk urusan estetika dan identitas kota, Andi tetap konsisten bahwa kemajuan teknologi militer adalah wajah masa depan Kota Cimahi yang harus diperjuangkan. (Bagdja)

Example 120x600