EntertainmentGaya hidupInformatikaRagam Daerah

Semarak Sumpah Pemuda! 73 Peserta Unjuk Bakat di Pasanggiri Jaipong Alus Igel Kabupaten Bandung, Seni Tradisi Jadi Kebanggaan Generasi Muda

115
Semangat Sumpah Pemuda tak hanya digaungkan melalui seruan persatuan, tetapi juga diwujudkan lewat pelestarian seni dan budaya Sunda.

Kabupaten Bandung, Jabar | secondnewsupdate.co.id — Semangat Sumpah Pemuda tak hanya digaungkan melalui seruan persatuan, tetapi juga diwujudkan lewat pelestarian seni dan budaya Sunda. 

Salah satunya melalui gelaran Pasanggiri Jaipong Tunggal Alus Igel yang diinisiasi Chintiya Project Event Organizer dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober.

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan, mengasah kepercayaan diri, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap seni tradisional Jawa Barat. 

Sebanyak 73 peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bandung turut ambil bagian dalam ajang yang menempatkan jaipong sebagai warisan budaya yang patut dijaga dan dikembangkan.

Suasana pasanggiri berlangsung dengan semangat kompetisi yang sehat. 

Para peserta berkesempatan menampilkan kemampuan terbaiknya di hadapan tim juri yang memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang seni tari, khususnya jaipong.

Ketua Panitia Pasanggiri Alus Igel, Chintiya, yang akrab disapa Nong, menjelaskan bahwa pemilihan momentum Sumpah Pemuda bukan tanpa alasan. 

Menurutnya, peringatan bersejarah tersebut memiliki keterkaitan erat dengan peran anak muda sebagai penerus bangsa, termasuk dalam menjaga eksistensi kebudayaan daerah.

Melalui kegiatan ini, pihaknya ingin memberikan ruang positif bagi generasi muda agar tidak hanya mengenal seni tradisional, tetapi juga berani tampil, berkompetisi, dan ikut melestarikannya di tengah perkembangan zaman.

“Pasanggiri ini sengaja kami selenggarakan bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda karena ada keterkaitan yang kuat dengan semangat kepemudaan. Kami berharap anak-anak dan generasi muda semakin mencintai seni budaya Sunda serta memiliki kesempatan untuk mengembangkan bakatnya,” ungkap Nong.

Libatkan Lima Kategori, Beri Ruang bagi Setiap Generasi

Dari total 73 peserta yang mengikuti perlombaan, panitia membagi kompetisi ke dalam lima kategori, yakni taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD) kelas 1–3, SD kelas 4–6, sekolah menengah pertama (SMP), serta sekolah menengah atas (SMA).

Pembagian kategori tersebut dirancang agar peserta dapat berkompetisi sesuai jenjang usia dan tingkat perkembangannya.

Dengan demikian, setiap peserta memiliki kesempatan untuk menunjukkan potensi secara lebih proporsional.

Panitia juga mengambil langkah dengan memisahkan kategori SMP dan SMA. 

Meski jumlah peserta pada kategori tertentu relatif terbatas, keputusan tersebut dinilai penting untuk memberikan motivasi sekaligus pengalaman kompetisi yang sesuai dengan jenjang masing-masing.

“Kami sengaja memisahkan kategori SMP dan SMA. Walaupun jumlah pesertanya tidak banyak, kami ingin tetap memberikan ruang dan semangat kepada mereka agar terus berlatih, berkembang, serta tidak kehilangan motivasi dalam menekuni seni jaipong,” jelasnya.

Langkah tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa pembinaan seni budaya tidak semata-mata diukur dari banyaknya peserta.

Kesempatan untuk tampil, memperoleh pengalaman, dan meningkatkan kemampuan juga menjadi bagian penting dalam membangun keberlanjutan seni tradisional.

Gandeng Juri Berpengalaman dari ISBI Bandung

Untuk menjaga kualitas penilaian, panitia menghadirkan dua juri dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, yakni Hani Hardiyanti dan Sri Nur Widiyaningsih.

Keduanya dipercaya menjadi bagian dari tim penilai karena memiliki pengalaman dalam menilai pasanggiri jaipong.

Kehadiran juri yang memahami bidang seni tari diharapkan dapat mendukung proses penilaian yang profesional dan memberikan pengalaman berharga bagi para peserta.

Ajang ini tidak hanya menjadi arena untuk memperebutkan hasil terbaik, tetapi juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk belajar, mengevaluasi kemampuan, dan meningkatkan kualitas penampilan mereka.

Melalui proses tersebut, generasi muda diharapkan semakin memahami bahwa seni jaipong membutuhkan latihan, kedisiplinan, penghayatan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan para pendahulu.

Apresiasi untuk Pendukung dan Mitra Kegiatan

Nong turut menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya Pasanggiri Jaipong Tunggal Alus Igel. Dukungan tersebut dinilainya menjadi bagian penting dalam menghadirkan ruang kegiatan seni yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Dinas Kebudayaan, Ketua KNPI Kabupaten Bandung Rifky Fauzi, Bank Mandiri, PT Bina Mugatri Mandiri, PT Bina Adigava Mandiri, Sambel Pajero, Voice Musicaa, serta para pimpinan media partner yang telah memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan menyukseskan pasanggiri jaipong ini. Terutama kepada Dinas Kebudayaan dan Ketua KNPI Kabupaten Bandung, Kang Rifky Fauzi, serta seluruh sponsor dan media partner. Semoga jalinan kerja sama yang telah terbangun dapat terus berlanjut,” tutur Nong.

Kolaborasi antara penyelenggara, pemangku kepentingan, mitra usaha, dan media tersebut diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi kegiatan kebudayaan yang melibatkan generasi muda.

Jaipong sebagai Identitas Budaya yang Harus Terus Hidup

Pasanggiri Jaipong Tunggal Alus Igel menjadi salah satu bentuk upaya menghadirkan seni tradisional lebih dekat dengan generasi penerus. 

Di tengah perubahan gaya hidup dan pesatnya perkembangan teknologi, ruang ekspresi seperti ini memiliki arti penting agar kesenian daerah tetap dikenal, dipelajari, dan diwariskan.

Lebih dari sekadar perlombaan, kegiatan tersebut membawa pesan bahwa pemuda memiliki peran strategis dalam menjaga identitas budaya bangsa.

Semangat Sumpah Pemuda dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk dengan mencintai produk kebudayaan sendiri dan memberikan ruang bagi tumbuhnya talenta-talenta baru.

Dengan keterlibatan puluhan peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bandung, Pasanggiri Jaipong Tunggal Alus Igel diharapkan dapat menjadi pemantik bagi kegiatan serupa pada masa mendatang.

Seni jaipong bukan hanya pertunjukan tari, melainkan juga bagian dari kekayaan budaya Sunda yang menyimpan nilai kreativitas, kedisiplinan, dan kebersamaan. 

Melalui pembinaan yang berkelanjutan serta dukungan berbagai pihak, warisan budaya tersebut diharapkan tetap lestari dan terus mendapat tempat di hati generasi muda. (Apih)

Exit mobile version