BeritaEkonomiInformatikaRagam Daerah

SMAK BPK Penabur Singgasana Bandung Latih Jiwa Wirausaha Siswa Lewat Food Bazaar Inovatif

49
SMAK BPK Penabur Singgasana Bandung, menggelar pameran karya siswa bertajuk Student Innovation in Practice, yang dikemas dalam konsep Food Bazaar, di Dining Hall BPK Penabur Singgasana Cibaduyut, Kota Bandung, Jumat (30/1/2026).

Kabupaten Bandung// secondnewsupdate.co.id – Upaya membekali generasi muda dengan keterampilan hidup dan jiwa kewirausahaan terus diperkuat SMAK BPK Penabur Singgasana. 

Sekolah tersebut menggelar pameran karya siswa bertajuk Student Innovation in Practice, yang dikemas dalam konsep Food Bazaar, di Dining Hall BPK Penabur Singgasana Cibaduyut, Kota Bandung, Jumat (30/1/2026).

Kegiatan ini menjadi implementasi nyata transformasi pembelajaran berbasis praktik. 

Seluruh siswa kelas XII diwajibkan terjun langsung menjalankan usaha, mulai dari merancang ide bisnis, memproduksi makanan dan minuman, hingga memasarkan produk kepada konsumen secara profesional.

Kepala Sekolah SMAK BPK Penabur Bram Yohanes Setiadi

Suasana pameran disulap menyerupai pusat kuliner modern. Puluhan stan kuliner tertata rapi dengan konsep visual menarik, kemasan kreatif, serta strategi promosi yang dirancang matang. Orang tua siswa, rekan pelajar, hingga masyarakat umum hadir sebagai pembeli sekaligus penilai kualitas produk.

Kepala SMAK BPK Penabur Singgasana, Bram Yohanes Setiadi, S.Si., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian integral dari mata pelajaran kewirausahaan yang masuk dalam kurikulum resmi sekolah.

“Ini bukan kegiatan tambahan. Pameran karya ini adalah bagian dari mata pelajaran entrepreneurship. Siswa kelas XII wajib membangun bisnis nyata dan memasarkannya langsung ke publik,” ujarnya.

Menurut Bram, kewirausahaan di SMAK BPK Penabur Singgasana memiliki bobot akademik dan menjadi salah satu penilaian penting. 

Bahkan, kegiatan Student Innovation in Practice ini sekaligus berfungsi sebagai ujian akhir semester bagi siswa kelas XII.

Ia menegaskan bahwa seluruh produk yang dipamerkan harus memiliki unsur kebaruan. Siswa tidak diperkenankan sekadar menjual produk yang sudah umum beredar tanpa inovasi yang jelas.

“Kalau mengembangkan produk yang sudah ada, harus ada pembaruan—baik dari rasa, konsep, kemasan, maupun cara pemasarannya. Inovasi menjadi syarat utama,” tegasnya.

Tak hanya kreativitas, profesionalisme juga menjadi penilaian utama. Setiap kelompok diwajibkan melakukan uji pasar, menentukan harga jual, menyusun strategi promosi, serta membuat laporan dan pembukuan keuangan secara sistematis.

Bram menyebut, tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pengalaman riil sebelum siswa lulus dan terjun ke masyarakat.

“Kami ingin mereka tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi pencipta lapangan kerja. Anak-anak kami dorong menjadi pionir yang mampu memberi dampak positif bagi lingkungan,” katanya.

Program Student Innovation in Practice telah menjadi agenda tahunan dan kini memasuki tahun keempat pelaksanaan.

Dampaknya pun mulai terasa. Sejumlah alumni diketahui masih melanjutkan usaha yang dirintis sejak duduk di bangku SMA.

“Memang skalanya belum besar, tapi ada alumni yang kuliah sambil tetap menjalankan bisnisnya. Itu menjadi indikator keberhasilan pembelajaran kami,” ungkap Bram.

Ia berharap pengalaman ini tidak berhenti sebagai tugas sekolah semata, tetapi menjadi bekal karakter dan mentalitas siswa di masa depan.

“Hidup bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi tentang kontribusi dan kebermanfaatan bagi sesama,” pesannya.

Apresiasi juga datang dari orang tua siswa. Jeni, salah satu wali murid, menilai kegiatan tersebut efektif melatih kemandirian dan keberanian anak menghadapi tantangan dunia nyata.

“Anak-anak jadi tahu banyak kemungkinan. Ada yang belajar memasak, ada yang berjualan, dan semua itu membentuk keterampilan dasar mereka,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini berperan penting dalam pembentukan karakter dan arah masa depan siswa karena memberi pengalaman langsung, bukan sekadar teori.

“Kalau bicara cita-cita, anak sudah punya dasar. Mereka sudah pernah mencoba dan merasakan prosesnya,” tambahnya.

Jeni juga menilai program ini mendorong siswa keluar dari zona nyaman dan mengasah kreativitas.

“Tidak semua anak terbiasa memasak atau berwirausaha. Tapi lewat kegiatan ini, mereka dipaksa belajar dan dari situlah kreativitas muncul,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam menanamkan nilai kemandirian sejak dini.

“Saya selalu bilang ke anak, suatu saat kamu harus bisa berdiri sendiri. Keterampilan hidup seperti ini sangat penting,” tuturnya.

Melalui sinergi tersebut, Student Innovation in Practice diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang unggul secara akademik, mandiri secara mental, serta siap bersaing di dunia nyata. (Apih)

Exit mobile version