Sumut//secondnewsupdate.co.id– Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) melaksanakan pendampingan pemulihan kesehatan fisik dan mental bagi masyarakat terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Sumatera Utara.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Tahun 2025 (Prioritas II) yang dikoordinasikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek).
Program tersebut menjadi bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam memperkuat respons pemulihan pascabencana secara terukur dan berkelanjutan, sekaligus mendukung agenda pemerintah dalam meningkatkan ketangguhan kesehatan masyarakat serta percepatan pemulihan wilayah terdampak di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pendampingan lapangan dilaksanakan pada Desember 2025 di sejumlah wilayah terdampak, dengan cakupan 12 titik layanan yang tersebar di lokasi pengungsian dan permukiman warga yang sempat terisolasi akibat terputusnya akses jalan.
Adapun pusat kegiatan berada di Desa Sibalanga, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, serta Desa Bona Dolok, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada 23–25 November 2025 diketahui berdampak signifikan terhadap rumah tangga warga serta akses layanan dasar.
Kondisi tersebut membuat upaya pemulihan kesehatan memerlukan penanganan yang cepat, konsisten, dan tepat sasaran.
Program ini dipimpin oleh Dr. dr. Yosephin Sri Sutanti, MS., Sp.Ok(K), SubSp.Psi.KO(K) selaku Ketua Tim (UKRIDA x Kemendikti Saintek), dengan dukungan tim multidisipliner berjumlah delapan orang yang terdiri dari dokter, perawat, mahasiswa koas, psikolog, serta tenaga optometris.
Dalam pelaksanaannya, tim menekankan pendekatan pemulihan yang mendorong kemandirian komunitas, melalui edukasi kesehatan, skrining sederhana, pencatatan dan triase untuk tindak lanjut, serta penguatan kapasitas lokal agar alur rujukan dapat berjalan efektif ketika dibutuhkan.
“Pada fase pascabencana, kebutuhan warga tidak hanya terkait keluhan akut, tetapi juga pemantauan penyakit kronis dan dukungan psikososial yang berkelanjutan. Karena itu, layanan kami dirancang untuk mendorong kemandirian pemulihan di tingkat komunitas,” ujar Dr. Yosephin Sri Sutanti kepada awak media, Rabu (14/1/2026).
Selama masa penugasan, layanan klinis difokuskan pada penanganan keluhan yang paling banyak ditemukan, seperti gangguan saluran pernapasan atas (ISPA), nyeri otot dan sendi, gangguan pencernaan, masalah kulit, serta skrining penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes.
Selain layanan medis, tim juga memberikan dukungan psikososial terstruktur, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, melalui relaksasi, psikoedukasi kebencanaan, terapi ekspresif ramah anak, hingga konseling sesuai kebutuhan.
Guna menjamin kesinambungan layanan, pendampingan diarahkan pada deteksi dini di tingkat komunitas dengan memanfaatkan alat kesehatan sederhana, seperti pengukuran tekanan darah, oksigenasi, suhu tubuh, serta skrining darah sederhana sesuai kebutuhan lapangan.
Dukungan logistik kesehatan bagi kelompok rentan, seperti penyaluran pampers dan susu, turut disalurkan di titik-titik komunitas.
Hasil pemantauan lapangan menunjukkan pola kebutuhan kesehatan yang relatif seragam di berbagai lokasi layanan, meliputi keluhan respiratorik akut, gangguan muskuloskeletal, masalah pencernaan, serta penyakit kulit. Di sisi lain, penyakit tidak menular tetap membutuhkan pemantauan rutin agar tidak mengalami perburukan, sementara beban psikologis pascabencana memerlukan dukungan yang sistematis dan berkelanjutan.
“Pemulihan yang mandiri akan tercapai ketika masyarakat memiliki pengetahuan dasar, akses skrining sederhana, serta pemahaman alur rujukan. Itulah yang kami dorong melalui kombinasi layanan medis, psikososial, dan edukasi,” tambah Dr. Yosephin.
Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Tahun 2025, perguruan tinggi diposisikan sebagai mitra strategis pemerintah dalam penanganan bencana berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Keterlibatan UKRIDA menjadi wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pendampingan pemulihan kesehatan fisik dan mental masyarakat terdampak dengan orientasi pada hasil yang terukur dan keberlanjutan layanan di tingkat komunitas.(TS/Megy)
