Kabupaten Garut/secondnewsupdate.co.id–Pengerjaan rabat beton di Jalan Sutan Sjahrir, Desa Cibatu, menuai keluhan warga. Proyek yang tidak dilengkapi saluran drainase tersebut menyebabkan rumah dan garasi warga kerap terendam banjir setiap kali hujan turun.
Merasa dirugikan, salah seorang warga, Enung Suryati, akhirnya mengambil inisiatif membangun saluran drainase menggunakan dana pribadi.
Langkah itu terpaksa dilakukan agar air hujan tidak lagi menggenangi rumahnya.
“Karena jalan tidak dibuatkan drainase, setiap hujan rumah dan garasi mobil saya selalu kebanjiran. Drainase ini saya buat supaya air hujan bisa mengalir ke gorong-gorong,” ungkap Enung, Rabu (14/1/2026).
Menurut Enung, seharusnya Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan pasca pengerjaan rabat beton. Ia juga mempertanyakan kualitas pengecoran jalan yang dinilai kurang maksimal.
Tak hanya membangun sendiri, Enung turut mengajak warga lain yang rumahnya berada di sepanjang jalan tersebut untuk bergotong royong.
Warga sepakat patungan membeli semen dan pasir guna membuat saluran drainase secara swadaya.
“Kalau menunggu, khawatir banjir terus terjadi. Akhirnya kami sepakat iuran supaya ada drainase,” ujarnya.
Keluhan warga juga mengarah pada metode pengerjaan rabat beton yang dilakukan pada malam hari dengan menggunakan mobil molen.
Di sekitar rumah Enung, hasil pengecoran disebut kurang padat, bahkan material pasir dan kerikil terlihat muncul ke permukaan jalan.
Menanggapi hal tersebut, Kasi Kesejahteraan Desa Cibatu, Nandi Sunandi, menyatakan bahwa pihak TPK telah melakukan perbaikan pada bagian rabat beton yang dinilai kurang padat.
“Bagian yang kurang padat sudah diperbaiki oleh TPK,” kata Nandi.
Ia juga mengaku telah meninjau langsung pembuatan drainase yang dilakukan warga secara swadaya.
Nandi berharap, keberadaan saluran air tersebut dapat mencegah banjir kembali terjadi di rumah-rumah warga sekitar.
“Semoga dengan adanya drainase ini, rumah warga tidak lagi terendam saat hujan,” pungkasnya. (Agung)
