BeritaPolitikRagam Daerah

90 Pasien Padati IGD RSUD dr. Slamet Garut, Yudha Soroti Minimnya Ruang Rawat Inap

112
Anggota Komisi IV DPRD Garut, Yudha Puja Turnawan, saat meninjau kondisi IGD RSUD dr. Slamet Garut, Senin (28/9/2026). Ia menyoroti kepadatan hingga 90 pasien dan mendorong penambahan ruang rawat inap serta penguatan fasilitas layanan kesehatan.

Garut, Jabar l secondnewsupdate.co.id – Kepadatan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Slamet Garut kembali menjadi sorotan. Saat Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Garut melakukan peninjauan, Senin (28/9/2026).

Tercatat sekitar 90 pasien berada di IGD rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Garut tersebut.

Kondisi itu dinilai tidak semata-mata disebabkan tingginya jumlah pasien yang datang, tetapi juga berkaitan dengan keterbatasan kapasitas ruang rawat inap. 

Pasien yang secara medis membutuhkan perawatan lanjutan belum seluruhnya dapat segera dipindahkan dari IGD karena ketersediaan tempat tidur masih terbatas.

Anggota Komisi IV DPRD Garut, Yudha Puja Turnawan, mengatakan persoalan kapasitas tempat tidur menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu segera mendapat perhatian pemerintah daerah.

“Bayangkan, di IGD tadi ada 90 pasien, padahal kapasitas sangat terbatas. Kenapa? Karena ruang rawat inapnya kurang,” ujar Yudha.

Menurutnya, kebutuhan tempat tidur rumah sakit di Kabupaten Garut saat ini diperkirakan mencapai sekitar 2.900 bed, sementara kapasitas yang tersedia baru sekitar 1.983 bed.

Kondisi serupa juga terlihat di RSUD dr. Slamet. Saat ini rumah sakit tersebut memiliki sekitar 383 tempat tidur rawat inap. Namun, Yudha menilai masih terdapat peluang untuk meningkatkan kapasitas dengan mengoptimalkan sejumlah ruangan yang dinilai potensial digunakan kembali. Salah satunya adalah Ruang Intan.

“RSUD dr. Slamet masih memungkinkan ada penambahan ruangan karena ada beberapa ruangan yang ideal, seperti Ruang Intan,” katanya.

Dibahas Bersama Dewan Pengawas dan TAPD

Persoalan tersebut kemudian dibahas bersama Dewan Pengawas RSUD dr. Slamet, Kepala BPKAD Garut serta anggota Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).

Hasil pembahasan tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada Bupati Garut Abdusy Syakur Amin sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan penganggaran, khususnya untuk memperkuat sektor pelayanan kesehatan.

Yudha berharap sumber pembiayaan pemerintah, mulai dari Dana Alokasi Umum (DAU) bidang kesehatan), Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) maupun sumber anggaran lainnya, dapat diarahkan untuk mendukung peningkatan fasilitas dan kapasitas pelayanan RSUD dr. Slamet.

Menurutnya, pengembangan rumah sakit tidak ideal apabila hanya mengandalkan pendapatan dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

“Harapan kita dari APBD ada peningkatan fasilitas di sini, termasuk penambahan ruang rawat inap,” tegasnya.

Kemenkes Siapkan Tambahan 80 Bed

Di tengah keterbatasan kapasitas tersebut, terdapat rencana penambahan sekitar 80 tempat tidur di RSUD dr. Slamet melalui dukungan Kementerian Kesehatan.

Apabila rencana tersebut terealisasi, kapasitas tempat tidur rawat inap RSUD dr. Slamet diproyeksikan meningkat dari sekitar 383 bed menjadi 463 bed.

Namun, Yudha mengingatkan bahwa penambahan tempat tidur tidak bisa hanya dihitung dari sisi jumlah. Kesiapan ruangan, fasilitas pendukung, tenaga medis hingga sarana pelayanan juga harus dipastikan.

“Kalau jadi ada penambahan dari Kemenkes, kapasitas RSUD dr. Slamet akan menjadi 463 bed rawat inap. Tentu harus disiapkan dulu ruangannya,” jelasnya.

Karena itu, Komisi IV DPRD Garut turut meninjau sejumlah ruangan yang dinilai berpotensi dikembangkan, termasuk Ruang Intan.

Yudha juga mendorong agar dukungan APBD diberikan untuk pembangunan dan pengembangan fasilitas rumah sakit. Dengan begitu, kebutuhan investasi sarana tidak seluruhnya dibebankan kepada pendapatan operasional BLUD.

Pasalnya, apabila anggaran pembangunan fasilitas terlalu besar diambil dari pendapatan rumah sakit, dikhawatirkan dapat memengaruhi ruang pembiayaan untuk kebutuhan pelayanan lainnya, seperti pengadaan obat-obatan dan bahan medis habis pakai.

Cath Lab Didorong Segera Dibangun

Tak hanya menyoroti persoalan kapasitas rawat inap, Yudha juga mendorong RSUD dr. Slamet meningkatkan kemampuan layanan spesialistik agar semakin banyak pasien dapat memperoleh penanganan di Garut tanpa harus dirujuk ke daerah lain.

Salah satu fasilitas yang dinilai penting adalah catheterization laboratory (cath lab) untuk mendukung pelayanan penyakit jantung, termasuk tindakan pemasangan ring jantung.

“Yang juga kita harapkan untuk mendongkrak pendapatan rumah sakit adalah percepatan catheterization laboratory, agar orang yang terserang jantung bisa dipasang ring jantung di sini,” ungkapnya.

Yudha menyebut pasien dengan serangan jantung selama ini masih banyak yang harus dirujuk ke Bandung karena keterbatasan fasilitas dan layanan spesialistik.

“Kenapa pendapatan rumah sakit tidak maksimal? Karena orang yang terkena serangan jantung larinya ke Bandung. Harapan kita, di sini bisa dilakukan operasi jantung dan banyak hal lagi,” katanya.

Selain pembangunan cath lab, penguatan layanan RSUD dr. Slamet juga membutuhkan dukungan tenaga medis, khususnya dokter spesialis, serta peralatan medis berteknologi tinggi seperti CT Scan dan MRI.

Menurut Yudha, penambahan kapasitas tempat tidur harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas layanan. Rumah sakit bukan hanya membutuhkan lebih banyak ruang untuk menampung pasien, tetapi juga harus memiliki tenaga kesehatan, peralatan dan layanan spesialistik yang memadai.

Dengan penguatan tersebut, RSUD dr. Slamet diharapkan mampu menjawab persoalan kepadatan pasien sekaligus meningkatkan kapasitasnya sebagai rumah sakit rujukan bagi masyarakat Kabupaten Garut. (Asan)

Exit mobile version