Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaEntertainmentGaya hidupInformatikaRagam DaerahTeknologi

Limbah Kayu Pantai Disulap Jadi Kerajinan Ekspor, Wayan Buka Lapangan Kerja dari Sampah Laut

121
×

Limbah Kayu Pantai Disulap Jadi Kerajinan Ekspor, Wayan Buka Lapangan Kerja dari Sampah Laut

Sebarkan artikel ini
Tumpukan kayu yang terbawa ombak dan terdampar di pesisir pantai kerap dianggap sebagai sampah yang mengganggu keindahan kawasan wisata Bali. Namun di tangan Wayan Sudira, limbah kayu laut justru berubah menjadi produk kerajinan bernilai ekspor tinggi.

Denpasar Bali/ secondnewsupdate.co.id – Tumpukan kayu yang terbawa ombak dan terdampar di pesisir pantai kerap dianggap sebagai sampah yang mengganggu keindahan kawasan wisata Bali. Namun di tangan Wayan Sudira, limbah kayu laut justru berubah menjadi produk kerajinan bernilai ekspor tinggi.

Melalui usaha yang dirintisnya, Ulu Sari Handicraft, Wayan berhasil mengolah kayu-kayu bekas yang terbawa arus laut menjadi aneka kerajinan dekorasi rumah dan furnitur artistik yang diminati pasar internasional.

Example 300x600

Berangkat dari keprihatinannya terhadap persoalan sampah pantai di Bali, khususnya di wilayah Tabanan dan sekitarnya, Wayan melihat peluang untuk menghadirkan solusi kreatif yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga ekonomi masyarakat.

“Dari kayu-kayu yang terbuang ini, saya melihat ada nilai yang bisa dihidupkan kembali. Tidak hanya menjadi karya, tetapi juga membuka penghasilan bagi banyak orang,” ujar Wayan, Minggu (17/5/2026).

Usaha tersebut sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin 14 mengenai perlindungan ekosistem laut.

Sejak bergabung sebagai nasabah PNM ULaMM pada 2017, Wayan mengaku mendapat dukungan pembiayaan dan pendampingan usaha yang konsisten. 

Akses modal tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan bisnisnya.

Kini, Ulu Sari Handicraft telah memiliki dua workshop yang berlokasi di Singaraja dan Tegallalang, Bali. Dari usaha yang bermula dari limbah kayu pantai, Wayan kini mampu menyerap 45 tenaga kerja.

Sebagian besar pekerja merupakan warga sekitar, anggota keluarga, hingga mantan pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja saat pandemi COVID-19.

“Awalnya hanya mencoba memanfaatkan kayu-kayu yang menumpuk di pantai. Tidak menyangka akhirnya bisa berkembang dan memberi manfaat untuk banyak keluarga,” katanya.

Menariknya, saat pandemi melumpuhkan banyak sektor UMKM, Ulu Sari Handicraft justru mengalami peningkatan permintaan dari luar negeri.

Produk-produk buatannya rutin dikirim ke berbagai negara seperti Selandia Baru, Australia, Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, hingga Amerika Serikat.

Bagi Wayan, keberhasilan ini bukan semata tentang bisnis, tetapi juga bentuk rasa syukur karena mampu mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang hidup.

“Semua ini saya yakini sebagai jalan Tuhan. Dari kayu yang terbuang, astungkara bisa menjadi rezeki untuk keluarga, karyawan, dan masyarakat sekitar. Yang terpenting adalah menjaga kepercayaan dan terus bekerja dengan sungguh-sungguh,” ungkapnya.

Kisah Wayan menjadi bukti bahwa pemberdayaan UMKM tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membawa perubahan sosial dan lingkungan.

Melalui dukungan pembiayaan dan pendampingan dari PNM, usaha mikro seperti Ulu Sari Handicraft mampu tumbuh lebih berdaya saing, membuka lapangan kerja, sekaligus berkontribusi dalam pengurangan sampah pantai.

Semangat ini sejalan dengan gerakan #PNMuntukUMKM dan #PNMPemberdayaanUMKM, di mana pertumbuhan usaha tidak hanya dirasakan pemilik, tetapi juga keluarga, lingkungan, dan masyarakat luas. (Krist)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600