Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
PeristiwaRagam DaerahTeknologi

Jeritan Pengemudi Ojol dan Kurir di Cimahi: Harga Pertamax Meroket, Pendapatan Ambyar Terkikis Bensin!

117
×

Jeritan Pengemudi Ojol dan Kurir di Cimahi: Harga Pertamax Meroket, Pendapatan Ambyar Terkikis Bensin!

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi masyarakat menjerit BBM Naik

Cimahi/secondnewsupdate.co.id – Gelombang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi per 10 Juni 2026 benar-benar mencekik leher para pekerja sektor informal di kawasan Bandung Raya. 

Para pengemudi ojek online (ojol) dan kurir logistik kini berada di ujung tanduk; biaya operasional melambung tinggi, sementara tarif dari pihak aplikator tak kunjung bergerak naik.

Example 300x600

​Kebijakan penyesuaian harga menempatkan Pertamax di angka Rp16.250 per liter dari yang sebelumnya Rp12.300. Sementara itu, varian Pertamax Green 95 meroket hingga menyentuh Rp17.000 per liter. 

Lonjakan drastis ini seketika memangkas ruang bernapas bagi para pekerja jalanan yang menggantungkan dapurnya pada perputaran roda kendaraan.

​Dampak nyata ini dirasakan langsung oleh Iqbal Muhammad Ramzani (27), seorang kurir ekspedisi asal Cihanjuang, Cibabat, Kota Cimahi. Pemuda yang sehari-hari berjibaku membelah kemacetan Bandung Raya ini mengaku dompetnya kian kempis sejak kebijakan baru tersebut diketuk.

​”Setiap hari saya harus keliling antar paket di Bandung Raya. Saat BBM naik, ongkos kirim tetap. Penghasilan bersih jadi berkurang. Kalau dulu bisa menyisihkan Rp100 ribu sampai Rp200 ribu sehari, sekarang paling sekitar Rp60 ribu,” keluh Iqbal saat ditemui pada Sabtu (13/6/2026).

​Iqbal menambahkan, sebagai kurir, dirinya tidak memiliki kemewahan untuk menyortir jarak pengiriman. 

Suka tidak suka, orderan jarak jauh wajib dieksekusi meski konsekuensinya adalah tangki bensin yang cepat mengering. 

Ia pun mendesak perusahaan tempatnya bernaung untuk segera mengevaluasi tarif pengiriman.

​“Kami ini ujung tombak layanan di lapangan. Kalau kondisinya terus merugi seperti ini, jangan kaget kalau nanti banyak kurir yang memilih mogok atau berhenti total,” tegasnya.

Demi bertahan hidup, Iqbal kini terpaksa memutar otak. Penggunaan Pertamax langsung dicoret dari anggaran hariannya. Ia memilih turun kelas ke Pertalite demi memangkas pengeluaran, meskipun konsekuensinya adalah waktu ekstra yang habis hanya untuk mengantre di SPBU. 

Namun, jika situasi darurat menghadang di tengah rute pengantaran, bensin eceran di pom mini menjadi pilihan terakhir yang pahit.

​Skenario serupa juga menimpa Virlana (33), seorang pengemudi ojol yang berbasis di Kota Cimahi.

Pria yang biasanya setia menggunakan Pertamax demi menjaga performa mesin motornya, kini terpaksa gigit jari melihat kenyataan harian di dompet digitalnya.

​“Penghasilan jelas berkurang drastis. Jumlah orderan yang masuk sebenarnya sama, tapi pengeluaran untuk bensin yang membengkak. Biasanya bisa kantongi bersih Rp200 ribu sehari, sekarang mentok di angka Rp150 ribu,” beber Virlana dengan nada lesu.

​Ia merinci, dalam sekali pengisian penuh (full tank), dirinya harus merogoh kocek tambahan hingga Rp15.000 dibanding hari-hari biasa. Guna mengamankan sisa pendapatan, Virlana terpaksa mengubah strategi kerja secara radikal: hanya fokus mengambil orderan jarak pendek dan memperpanjang jam narik hingga larut malam.

​Di sisi lain, ia melihat belum ada tanda-tanda dari perusahaan aplikasi ojol untuk menyesuaikan tarif menyusul naiknya harga BBM non-subsidi ini.

​“Harapan kami satu-satunya ya aplikasi bisa segera menaikkan tarif. Kalau dibiarkan begini, kami para driver yang boncos dan menanggung rugi sendirian,” katanya.

​Mengikuti jejak rekan seprofesinya, Virlana akhirnya ikut mengibarkan bendera putih dan beralih ke Pertalite. Realita di lapangan menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM telah memaksa para pelaku industri transportasi dan logistik lokal untuk menghitung ulang setiap rupiah yang keluar.

​“Kalau dipaksakan tetap pakai Pertamax, hasil narik seharian habis cuma buat beli bensin.

Makanya sekarang beralih ke Pertalite biar antrean panjang di pom bensin menguras waktu, atau kalau kepepet terpaksa beli eceran di pinggir jalan,” pungkasnya menutup obrolan.

(Bagdja)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600