Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaGaya hidupInformatikaRagam DaerahWisata

20 Tahun Tsunami Pangandaran, 880 Siswa Ikuti Simulasi Gempa dan Tsunami, Bupati Citra: Generasi Muda Harus Siaga Hadapi Bencana

105
×

20 Tahun Tsunami Pangandaran, 880 Siswa Ikuti Simulasi Gempa dan Tsunami, Bupati Citra: Generasi Muda Harus Siaga Hadapi Bencana

Sebarkan artikel ini
"Bupati Pangandaran Citra Pitriyami bersama para siswa mengikuti simulasi kesiapsiagaan gempa bumi dan tsunami dalam rangka peringatan 20 tahun Tsunami Pangandaran, sebagai upaya membangun budaya sadar bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan generasi muda."

Kab Pangandaran/ secondnewsupdate.co.id – Tepat dua dekade setelah tragedi tsunami yang mengguncang pesisir Pangandaran pada 17 Juli 2006, Pemerintah Kabupaten Pangandaran menggelar simulasi kesiapsiagaan gempa bumi dan tsunami secara serentak di berbagai sekolah. 

Kegiatan ini menjadi langkah nyata untuk menanamkan budaya sadar bencana kepada generasi muda agar lebih siap menghadapi potensi ancaman di masa depan.

Example 300x600

Pusat kegiatan berlangsung di SMA Negeri 1 Pangandaran, dengan melibatkan sekitar 880 siswa. Jumat (17/7/2026).

Suara alarm yang menggema menjadi tanda dimulainya simulasi. Seluruh siswa langsung menjalankan prosedur penyelamatan diri dengan berlindung di bawah meja, kemudian bergerak secara tertib menuju titik kumpul setelah kondisi dinyatakan aman.

Simulasi tersebut merupakan bagian dari peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran yang juga dilaksanakan serentak di berbagai sekolah di wilayah Kabupaten Pangandaran. 

Tujuannya bukan hanya mengenang salah satu bencana paling kelam dalam sejarah daerah itu, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, khususnya kalangan pelajar.

Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami, menegaskan bahwa peringatan dua dekade tsunami harus menjadi momentum membangun budaya mitigasi bencana sejak usia dini.

Menurutnya, gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 yang terjadi pada 17 Juli 2006 memang bukan yang terbesar di Indonesia, namun tsunami yang menyusul telah menimbulkan dampak luar biasa dan merenggut lebih dari 600 korban jiwa.

“Peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bahwa kesiapsiagaan masyarakat sangat menentukan dalam meminimalkan risiko bencana,” ujar Citra.

Ia berharap simulasi yang dilaksanakan secara serentak di seluruh sekolah mampu membekali peserta didik dengan keterampilan dasar menghadapi situasi darurat, mulai dari mengenali tanda bahaya, melakukan evakuasi mandiri, hingga memahami jalur penyelamatan apabila sewaktu-waktu terjadi gempa dan tsunami.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Pangandaran, Mulyana, menjelaskan simulasi dirancang menyerupai kondisi nyata, mulai dari saat gempa terjadi hingga proses evakuasi menuju lokasi aman sebagai antisipasi ancaman tsunami.

Ia menyebutkan bahwa pendidikan mitigasi bencana telah menjadi bagian dari program pembelajaran di sekolah melalui kerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran.

Meski demikian, Mulyana mengungkapkan sebagian besar siswa saat ini lahir setelah tragedi tsunami 2006 sehingga tidak memiliki pengalaman langsung maupun pemahaman menyeluruh mengenai bencana tersebut.

Karena itu, simulasi dinilai menjadi media edukasi yang efektif agar para pelajar memahami sejarah, mengenali risiko bencana di wilayah pesisir, sekaligus memiliki kemampuan bertindak cepat dan tepat ketika menghadapi kondisi darurat.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Pangandaran berharap lahir generasi yang tidak hanya mengenang tragedi masa lalu, tetapi juga memiliki kesadaran, pengetahuan, serta kesiapsiagaan yang kuat sehingga mampu melindungi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat apabila bencana kembali terjadi. (Asan)

Penulis: Asep Santika Editor: Bama
Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600