Jawa Barat, Bandung l secondnewsupdate.co.id – Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat dan Ketua Fraksi Partai NasDem, Drs. H. Mamat Rachmat, M.Si., menunjukkan komitmennya dalam mendorong peningkatan keterampilan dan kemandirian masyarakat melalui kegiatan Pelatihan Kerja Mandiri Provinsi Jawa Barat.
Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama lima hari, 10–14 Agustus 2026, tersebut menjadi momentum penting bagi para peserta untuk mengasah kemampuan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi peluang ekonomi yang semakin dinamis.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan melalui sejumlah kejuruan yang memiliki peluang cukup besar untuk dikembangkan menjadi usaha mandiri, yakni Tata Boga, Barista, dan Tata Kecantikan Rambut.
Mamat menegaskan, pelatihan bukan sekadar kegiatan untuk mendapatkan pengetahuan baru. Lebih dari itu, keterampilan yang diperoleh diharapkan mampu menjadi modal nyata bagi peserta untuk membangun masa depan yang lebih mandiri.
“Pelatihan adalah langkah, keterampilan adalah bekal, dan kemandirian adalah tujuan,” ujar Mamat dalam kesempatan tersebut. Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, dunia kerja dan kewirausahaan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kemauan, tetapi juga keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung.
Karena itu, kesempatan mengikuti pelatihan selama lima hari tersebut diharapkan tidak disia-siakan oleh para peserta. Setiap materi dan pengalaman yang diperoleh harus mampu diolah menjadi kemampuan yang produktif dan memiliki nilai ekonomi.
Mamat pun mengajak seluruh peserta mengikuti rangkaian pelatihan dengan penuh kesungguhan, disiplin, dan semangat.
Ia menekankan agar waktu lima hari tersebut dimanfaatkan secara maksimal untuk menyerap ilmu, memperbanyak pengalaman, serta membangun kepercayaan diri.
“Bapak-Ibu semua, laksanakan dengan semaksimal mungkin, seserius mungkin. Lima hari ini harus benar-benar dimanfaatkan,” pesannya.
Bukan Sekadar Pelatihan, Tapi Membuka Jalan Kemandirian
Pelatihan kerja mandiri tersebut dinilai memiliki arti strategis karena keterampilan yang diberikan dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk menciptakan peluang ekonomi secara mandiri.
Keahlian tata boga, misalnya, dapat dikembangkan menjadi usaha kuliner rumahan, katering, maupun berbagai produk makanan yang memiliki nilai jual.
Begitu pula keterampilan barista yang dapat menjadi bekal untuk membuka usaha minuman atau bekerja di industri kuliner.
Sementara keterampilan tata kecantikan rambut memiliki peluang luas seiring berkembangnya kebutuhan masyarakat terhadap jasa perawatan dan kecantikan.
Dengan bekal keterampilan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu berkembang menjadi pencipta lapangan pekerjaan.
Mamat berharap para peserta nantinya dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh setelah pelatihan selesai.
Menurutnya, keberhasilan sebuah pelatihan bukan hanya diukur dari terselenggaranya kegiatan, tetapi dari sejauh mana ilmu dan keterampilan tersebut benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga seluruh peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan maksimal, meningkatkan keterampilan yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat, serta membuka jalan menjadi entrepreneur yang mandiri dan sukses,” ungkapnya.
Mendorong Lahirnya Entrepreneur Baru di Jawa Barat
Lebih jauh, Mamat Rachmat mengajak peserta untuk terus belajar, berkembang, dan berani menciptakan peluang.
Ia menilai perubahan zaman menuntut masyarakat untuk terus beradaptasi.
Mereka yang memiliki keterampilan, kemauan belajar, serta keberanian mengambil peluang akan memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang secara ekonomi.
“Mari belajar, berkembang, dan menciptakan peluang,” tegasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi spirit dari pelaksanaan Pelatihan Kerja Mandiri Provinsi Jawa Barat.
Program ini diharapkan tidak berhenti pada pemberian materi, tetapi mampu melahirkan individu-individu yang memiliki kompetensi, produktif, kreatif, dan siap berdiri di atas kemampuan sendiri.
Mamat juga memberikan motivasi agar para peserta tidak memandang pelatihan sebagai kegiatan seremonial semata.
Menurutnya, kesempatan mendapatkan pembelajaran dan peningkatan keterampilan harus benar-benar dimanfaatkan sebagai investasi untuk masa depan.
Dengan demikian, lima hari pelatihan diharapkan menjadi awal dari perjalanan panjang menuju kemandirian ekonomi.
Bagi para peserta, pelatihan ini bukan sekadar belajar membuat produk, meracik minuman, atau meningkatkan keterampilan tata kecantikan.
Lebih jauh, kegiatan tersebut merupakan bekal untuk membangun kepercayaan diri, menciptakan peluang usaha, meningkatkan pendapatan, sekaligus membuka kemungkinan lahirnya entrepreneur-entrepreneur baru di Jawa Barat.
Semangat tersebut sejalan dengan harapan agar masyarakat semakin berdaya, memiliki keterampilan yang relevan, dan mampu mengambil peran dalam menggerakkan roda perekonomian.
Pada akhirnya, keterampilan yang diperoleh selama lima hari diharapkan tidak berhenti di ruang pelatihan.
Ilmu tersebut harus dibawa pulang, dipraktikkan, dikembangkan, dan bila memungkinkan menjadi usaha yang memberikan manfaat bagi keluarga maupun masyarakat luas.
Keterampilan adalah bekal. Dan kemandirian adalah tujuan. (Bagdja)
















