Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
ArtikelEntertainmentGaya hidupInformatikaPolitikRagam Daerah

Kang Rachmat “Bawa” Cepot Keliling Bandung-Cimahi, Wayang Golek Jadi Senjata Merawat Budaya Sunda di Era Gen Z

4514
×

Kang Rachmat “Bawa” Cepot Keliling Bandung-Cimahi, Wayang Golek Jadi Senjata Merawat Budaya Sunda di Era Gen Z

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Daerah Pemilihan (Dapil) 1 Kota Bandung dan Cimahi, Drs. Mamat Rachmat, M.Si, memilih jalan yang berbeda, saat memberikan sambutannya dihadapan ribuan penonton Wayang Golek

Jawa Barat, Bandung l secondnewsupdate.co.id — Di tengah derasnya arus globalisasi dan semakin kuatnya budaya populer yang digandrungi generasi muda, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Daerah Pemilihan (Dapil) 1 Kota Bandung dan Cimahi, Drs. Mamat Rachmat, M.Si, memilih jalan yang berbeda.

Politisi Fraksi Partai NasDem yang akrab disapa Kang Rachmat itu tidak sekadar menyapa masyarakat dengan agenda seremonial. 

Example 300x600

Ia membawa salah satu ikon budaya Pasundan, Wayang Golek, untuk kembali hadir di tengah kehidupan warga.

Melalui program “Dewan Menyapa Warga Berbasis Budaya”, Kang Rachmat secara rutin berkeliling ke berbagai wilayah di Bandung dan Cimahi. 

Salah satu kegiatannya digelar bersama masyarakat Kelurahan Sekepeer, Kota Bandung.

Di tengah masyarakat, pertunjukan Wayang Golek bukan hanya menjadi hiburan. Lebih dari itu, kesenian tradisional tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan generasi tua dan generasi muda dalam satu panggung kebudayaan.

Ribuan penonton tua dan muda banyak yang menggemari pertunjukan wayang golek yang disajikan oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari fraksi NasDem Drs Mamat Rachmat. M Si.

“Budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga harus terus dikenalkan dan diwariskan,” ujar Kang Rachmat.

Menurut dia, menjaga kebudayaan Sunda tidak cukup hanya dengan membicarakannya dalam forum resmi. Budaya harus dibawa kembali ke tengah masyarakat agar dapat dilihat, dinikmati, dipahami, dan dicintai oleh generasi penerus.

Karena itu, karakter Cepot yang sangat lekat dengan Wayang Golek menjadi salah satu pilihan Kang Rachmat dalam setiap kunjungannya.

“Jadi saya memang keliling. Ini program dari anggota DPRD. Saya mengambil Wayang Golek. Padahal banyak berbasis budaya lainnya, ada yang menjahit dan berbagai kegiatan lain. Tetapi saya memilih membawa wayang, termasuk Cepot, ke mana-mana,” katanya.

Cepot Menjadi Jembatan Generasi

Kang Rachmat menyadari tantangan pelestarian budaya Sunda tidak semakin ringan. Perkembangan teknologi digital membuat generasi muda memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai budaya dari seluruh dunia.

Di satu sisi, kondisi tersebut membuka peluang besar bagi kreativitas. Namun di sisi lain, terdapat kekhawatiran budaya lokal justru semakin jauh dari kehidupan generasi muda.

Karena itu, orang tua dan masyarakat dinilai memiliki peran penting untuk memperkenalkan kembali budaya daerah kepada anak-anak sejak dini.

“Budaya yang kita cintai ini jangan sampai hilang begitu saja. Di era globalisasi yang luar biasa ini, menjadi perhatian buat kita semua, terutama orang tua, bagaimana menjaga adik-adik kita tetap cinta terhadap budaya kita sendiri,” tuturnya.

Bagi Kang Rachmat, Wayang Golek bukan sekadar boneka kayu yang dimainkan dalang. Di dalamnya terdapat cerita, filosofi, humor, kritik sosial, hingga nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.

Karakter Cepot bahkan memiliki daya tarik tersendiri karena mampu menyampaikan pesan melalui humor yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Inilah yang kemudian ingin dijadikan Kang Rachmat sebagai pintu masuk agar budaya Sunda tidak hanya dikenal oleh generasi senior, tetapi juga kembali mendapatkan tempat di hati generasi milenial dan Gen Z.

Dewan Tak Hanya Datang Membawa Aspirasi

Program Dewan Menyapa Warga Berbasis Budaya juga memperlihatkan pendekatan berbeda dalam membangun komunikasi antara wakil rakyat dengan masyarakat.

Kang Rachmat menjelaskan, kegiatan tersebut dilaksanakan secara berkala, yakni sekitar tiga bulan sekali, dengan berkeliling ke wilayah Bandung dan Cimahi.

Bagi dirinya, bertemu masyarakat bukan semata-mata untuk menyerap aspirasi mengenai persoalan pembangunan.

Kehadiran wakil rakyat juga dapat menjadi momentum untuk membangun kebersamaan melalui kegiatan sosial dan kebudayaan.

“Dewan menyapa warga berbasis budaya ini dilakukan setiap tiga bulan sekali. Saya memang keliling di Bandung dan Cimahi,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga ditempatkan sebagai bagian penting dalam menjaga identitas dan karakter daerah.

Merawat Sunda, Merawat Identitas

Kang Rachmat berharap kegiatan seperti ini dapat menumbuhkan kembali rasa bangga masyarakat terhadap budaya Jawa Barat.

Ia ingin masyarakat tidak hanya mengenal budaya Sunda sebagai warisan masa lalu, tetapi melihatnya sebagai identitas yang tetap relevan di tengah perubahan zaman.

“Semoga melalui kegiatan seperti ini, kita semakin ingat, bangga dan cinta terhadap budaya Jawa Barat. Sekaligus terus menjaga agar warisan budaya tetap hidup di tengah masyarakat,” katanya.

Pesan tersebut kemudian dirangkum dalam satu ajakan sederhana namun sarat makna:

“Hayu urang ngamumule budaya Sunda!”

Ajakan itu menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, seniman maupun budayawan.

Menjaga budaya adalah pekerjaan bersama.

Sebab ketika sebuah generasi berhenti mengenal budayanya sendiri, yang perlahan hilang bukan sekadar sebuah kesenian, melainkan bagian dari identitas dan ingatan kolektif masyarakat.

Dan melalui Cepot yang kembali hadir di tengah warga, Kang Rachmat seolah ingin memastikan satu hal: budaya Sunda jangan sampai hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi harus tetap hidup, ditonton, dimainkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Bagdja)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600