Banten, Menes, Pandeglang l secondnewsupdate.co.id – Proyek revitalisasi gedung SDN Alaswangi 1, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, menuai sorotan.
Proyek yang menelan anggaran lebih dari Rp658 juta tersebut justru ditemukan menggunakan material kanal besi yang secara kasatmata tampak sudah pernah digunakan dan mengalami kerusakan cukup parah.
Temuan tersebut diketahui berdasarkan pantauan awak media di lokasi proyek pada Sabtu (29/8/2026).
Sejumlah kanal besi yang digunakan sebagai bagian dari rangka atap terlihat dalam kondisi berkarat, memiliki lubang di sejumlah titik, serta masih menyisakan bekas lubang baut yang mengindikasikan material tersebut pernah digunakan sebelumnya.
Kondisi tersebut sontak menimbulkan pertanyaan besar, mengingat proyek revitalisasi sekolah tersebut dibiayai melalui APBN Bantuan Pemerintah dalam program Revitalisasi, dengan nilai pekerjaan tercatat sebesar Rp658.196.751 dan waktu pelaksanaan selama 150 hari kalender.
Proyek tersebut tercantum dalam kegiatan P2SP SDN Alaswangi 1.
Penggunaan kanal besi dalam kondisi demikian menjadi perhatian serius karena rangka atap merupakan salah satu bagian penting yang berkaitan dengan kekuatan dan keselamatan bangunan.
Secara visual, material yang ditemukan di lokasi tampak mengalami korosi cukup parah. Beberapa bagian bahkan terlihat berlubang, sementara bekas lubang baut pada badan kanal masih tampak jelas.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai standar material yang digunakan dalam pekerjaan revitalisasi, termasuk apakah material tersebut sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan dalam dokumen pekerjaan.
Terlebih, bangunan yang direvitalisasi merupakan fasilitas pendidikan yang nantinya akan digunakan oleh para siswa dan tenaga pendidik.
Sempat Dipasang, Kemudian Dibongkar
Ketika kondisi material tersebut dikonfirmasi kepada mandor pelaksana di lapangan, awalnya disampaikan alasan bahwa material yang masih memungkinkan untuk digunakan akan dimanfaatkan kembali.
Namun, setelah kondisi kanal besi diperhatikan lebih lanjut dan kerusakannya dinilai cukup parah, mandor kemudian menginstruksikan para pekerja untuk membongkar kembali kanal besi tersebut.
Langkah pembongkaran itu menjadi perhatian tersendiri. Sebab, penggunaan material tersebut sebelumnya telah menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana proses pemeriksaan dan pengawasan kualitas material dilakukan sebelum dipasang pada konstruksi.
Pengawasan Proyek Dipertanyakan
Selain persoalan material, aspek pengawasan proyek juga ikut menjadi sorotan.
Di lokasi, keberadaan konsultan pengawas disebut tidak terlihat secara jelas. Bahkan, berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, mandor pelaksana mengaku tidak mengetahui secara pasti nama konsultan pengawas yang bertanggung jawab melakukan pengawasan terhadap pekerjaan tersebut.
Kondisi itu semakin menimbulkan tanda tanya mengenai mekanisme pengawasan proyek yang bersumber dari dana pemerintah tersebut.
Apalagi, pengawasan bukan hanya berkaitan dengan progres pekerjaan, tetapi juga memastikan material, metode pengerjaan, dan hasil konstruksi sesuai dengan spesifikasi teknis serta ketentuan yang telah ditetapkan.
Dinas Pendidikan Diminta Turun Tangan
Atas temuan tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang bersama instansi terkait didorong segera melakukan pemeriksaan langsung terhadap proyek revitalisasi SDN Alaswangi 1.
Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah material yang sempat digunakan tersebut memang sesuai dengan spesifikasi pekerjaan atau justru merupakan material bekas yang tidak memenuhi persyaratan teknis.
Masyarakat juga berhak mendapatkan kejelasan mengenai penggunaan anggaran negara yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah tersebut.
Jika benar ditemukan penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi, maka pihak yang berwenang perlu mengambil langkah sesuai ketentuan dan memastikan kualitas bangunan sekolah tetap memenuhi standar keamanan.
Jangan Sampai Keselamatan Siswa Jadi Taruhan
Proyek revitalisasi sekolah pada prinsipnya bertujuan menghadirkan fasilitas pendidikan yang lebih layak, aman, dan nyaman bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Karena itu, kualitas pekerjaan semestinya menjadi perhatian utama sejak pemilihan material hingga proses pembangunan selesai.
Penggunaan material yang secara kasatmata terlihat mengalami karat berat, berlubang, dan memiliki tanda-tanda pernah digunakan perlu mendapat penjelasan terbuka dari pihak pelaksana maupun pemangku kepentingan terkait.
Publik tentu tidak ingin anggaran negara yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki fasilitas pendidikan justru menghasilkan bangunan yang kualitasnya dipertanyakan.
Kini, perhatian tertuju kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang dan instansi berwenang untuk melakukan pengecekan menyeluruh, termasuk memeriksa dokumen kontrak, spesifikasi teknis, material yang digunakan, serta mekanisme pengawasan proyek.
Hingga berita ini disusun, pihak-pihak terkait masih perlu memberikan klarifikasi mengenai temuan material tersebut agar persoalan tidak berkembang menjadi polemik dan seluruh proses pembangunan dapat berjalan sesuai aturan.
Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak pelaksana proyek, konsultan pengawas, pihak sekolah, maupun instansi terkait untuk memberikan penjelasan secara berimbang mengenai persoalan tersebut. (Sanan)
















