Banten l secondnewsupdate.co.id — Babak baru Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat Banten (APKB) resmi dimulai. Sosok pengusaha muda, Frist Novelis Riesvandha, dipercaya memimpin APKB Banten dengan membawa semangat baru untuk memperkuat organisasi sekaligus meningkatkan pelayanan kepada para pelaku usaha di kawasan berikat.
Pergantian kepemimpinan tersebut tidak hanya menjadi perubahan di jajaran pimpinan, tetapi juga diarahkan sebagai momentum untuk memperkuat peran APKB sebagai wadah yang solid, profesional, responsif, serta mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam menciptakan kepastian, kemudahan, dan pertumbuhan usaha bagi anggotanya.
Pengusaha kelahiran Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, itu menetapkan enam pilar utama sebagai landasan gerak APKB Banten.
Keenam pilar tersebut meliputi penguatan persatuan dan komunikasi antaranggota, peningkatan respons pengurus terhadap berbagai persoalan anggota, membangun komunikasi konstruktif dengan Bea Cukai dan instansi pemerintah terkait, meningkatkan pemahaman anggota mengenai regulasi, kepatuhan, IT Inventory dan tata kelola kawasan berikat, memperjuangkan aspirasi anggota secara profesional, serta memperluas keanggotaan dan kolaborasi bisnis antaranggota.
“Kami tidak bisa lagi bergerak lambat. Dunia usaha berubah cepat, tantangannya datang setiap saat. Pelaku usaha butuh tempat yang tidak hanya mendengar, tapi segera bertindak,” ujar Frist Novelis melalui pesan WhatsApp.
Frist yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Mega Sumber Group dan Direktur Kawasan Industri Mega Sumber (KIMS) di Majalengka, Jawa Barat, menegaskan bahwa APKB Banten harus mampu bergerak mengikuti dinamika dunia usaha dan kebutuhan para anggotanya.
Tujuh Strategi Jadi Program Utama
Untuk menerjemahkan visi tersebut ke dalam kerja nyata, Frist menyiapkan tujuh strategi utama sebagai pijakan kerja APKB Banten.
Program pertama adalah Quick Response, yakni pembentukan tim respons cepat pengurus untuk menangani berbagai persoalan yang dihadapi anggota.
Kedua, Forum APKB–Bea Cukai Banten, yang direncanakan digelar setiap tiga bulan sebagai ruang komunikasi dan koordinasi mengenai berbagai persoalan kepabeanan serta kawasan berikat.
Ketiga, Regulatory Update, melalui penyediaan ringkasan perubahan regulasi, seminar, hingga workshop agar anggota dapat lebih cepat memahami ketentuan terbaru.
APKB Banten juga akan menghadirkan Klinik Kawasan Berikat, sebagai layanan konsultasi yang mencakup persoalan kepabeanan, IT Inventory, audit perpajakan, hingga implementasi regulasi.
Di bidang penguatan jejaring usaha, Frist menyiapkan Business Networking dengan mengelola database kemampuan dan bidang usaha anggota. Program tersebut diharapkan dapat membuka peluang business matching serta memperluas kerja sama antarperusahaan.
Sementara dari sisi internal organisasi, akan dijalankan program Goes to Member, di mana pengurus APKB Banten turun langsung mengunjungi perusahaan anggota untuk mengetahui kondisi dan persoalan yang mereka hadapi.
Strategi ketujuh diarahkan pada penguatan organisasi, melalui pemutakhiran data anggota dan peningkatan koordinasi antarwilayah.
“Bukan sekadar kenal, tapi saling memberi manfaat. Usaha yang tumbuh bersama akan lebih kuat bertahan,” kata Frist.
10 Persoalan Utama Dipetakan dalam 100 Hari
Tidak berhenti pada penyusunan program, Frist juga menyiapkan agenda kerja pada 100 hari pertama kepemimpinannya.
Dalam periode tersebut, APKB Banten memetakan sedikitnya 10 persoalan utama yang dihadapi perusahaan di kawasan berikat.
Selain itu, disusun pula kalender seminar dan berbagai kegiatan APKB Banten untuk satu tahun ke depan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan APKB Banten bukan hanya sebagai organisasi tempat berhimpun, tetapi juga sebagai wadah yang aktif membantu anggota menghadapi persoalan usaha.
Kepemimpinan Frist Novelis diharapkan membawa pendekatan yang lebih dekat dengan kebutuhan anggota.
Pengurus dan anggota pun menyambut kepemimpinan baru tersebut dengan harapan APKB Banten semakin solid dan mampu menjadi ruang bersama bagi para pengusaha untuk tumbuh, berkembang, serta mencari solusi atas berbagai tantangan usaha.
Dengan kepemimpinan baru, APKB Banten kini memasuki fase kerja yang menitikberatkan pada kecepatan respons, penguatan jaringan, kepatuhan terhadap regulasi, serta kolaborasi antara dunia usaha dan pemerintah.
Bagi Frist, kekuatan organisasi bukan hanya terletak pada struktur kepengurusan, tetapi pada seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada para anggotanya.
Satu langkah cepat, satu jaringan yang kokoh, dan satu harapan untuk tumbuh bersama. (Ast)
















