Cimahi, Jabar | secondnewsupdate.co.id – Komitmen menyapa masyarakat sekaligus menjaga kelestarian warisan budaya Sunda terus ditunjukkan anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai NasDem, Mamat Rachmat.
Tak sekadar menjalankan tugas sebagai wakil rakyat, ia menghadirkan pendekatan yang berbeda dengan menjadikan seni tradisional sebagai jembatan komunikasi, silaturahmi, dan kebersamaan bersama masyarakat.
Melalui program Dewan Menyapa Warga Berbasis Budaya, Mamat Rachmat secara konsisten menghadirkan pagelaran Wayang Golek di wilayah daerah pemilihannya, yakni Kota Bandung dan Kota Cimahi.
Kegiatan tersebut digelar secara berkala, kurang lebih setiap tiga bulan sekali, sebagai bentuk perhatian terhadap pelestarian seni budaya Jawa Barat.
Setelah sebelumnya menyapa masyarakat melalui pagelaran Wayang Golek di Lapangan Poral, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, kali ini Mamat kembali menghadirkan pertunjukan kesenian tradisional tersebut di Lapangan Kademangan, Jalan Pojok Tengah, RW 16, Kelurahan Setiamanah, Kecamatan Cimahi Tengah, Sabtu (31/10/2026)
Suasana kebersamaan dan antusiasme masyarakat mewarnai kegiatan yang menjadi ruang pertemuan antara wakil rakyat dengan konstituennya.
Hadir dalam kesempatan tersebut Mamat Rachmat, didampingi Ketua DPD Partai NasDem Kota Cimahi, Ivan Ade Sofiyan, beserta jajaran pengurus Partai NasDem Kota Cimahi.
Wayang Golek Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Warisan Budaya yang Harus Dijaga
Mamat Rachmat menjelaskan, pagelaran Wayang Golek tersebut merupakan bagian dari program Dewan Menyapa yang bersumber dari kegiatan DPRD Provinsi Jawa Barat dengan pendekatan berbasis budaya.
Menurutnya, pemilihan Wayang Golek bukan tanpa alasan, karena kecintaannya terhadap kesenian tradisional Sunda menjadi salah satu motivasi untuk terus menghadirkan pertunjukan tersebut di tengah masyarakat.
Ia mengungkapkan, dirinya telah beberapa kali berkeliling menyelenggarakan pagelaran seni budaya di Kota Cimahi.
Melalui kegiatan ini, ia ingin memastikan kesenian tradisional tidak hanya menjadi kenangan generasi terdahulu, tetapi tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus.
“Ini merupakan bagian dari program Dewan Menyapa berbasis budaya. Karena saya menyukai Wayang Golek, maka kesenian inilah yang terus saya bawa untuk menyapa masyarakat,” ungkap Mamat.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pelestarian budaya Sunda membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Terutama dalam memperkenalkan kesenian tradisional kepada generasi milenial dan Generasi Z yang saat ini tumbuh di tengah derasnya perkembangan teknologi dan budaya modern.
Baginya, jangan sampai generasi muda hanya mengenal budaya luar, sementara kekayaan seni dan tradisi yang diwariskan para leluhur justru semakin jauh dari kehidupan mereka.
Karena itu, pagelaran Wayang Golek diharapkan menjadi sarana edukasi budaya yang dikemas secara menarik, sehingga anak-anak muda dapat mengenal, memahami, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya daerahnya.
Dekatkan Wakil Rakyat dengan Masyarakat, Hidupkan Ekonomi Lokal
Lebih dari sekadar pertunjukan seni, kegiatan Dewan Menyapa Warga Berbasis Budaya juga memiliki dimensi sosial yang kuat.
Kehadiran masyarakat dalam satu ruang kegiatan menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, membangun komunikasi, serta memperkuat kedekatan antara wakil rakyat dan warga.
Di sisi lain, kegiatan yang menghadirkan keramaian masyarakat tersebut juga membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal untuk menggerakkan aktivitas ekonominya.
“Dengan demikian, satu kegiatan menghadirkan beragam manfaat sekaligus: budaya tetap terpelihara, hubungan sosial semakin erat, dan ekonomi kerakyatan memperoleh ruang untuk tumbuh,” imbuh Rachmat.
Langkah Mamat Rachmat ini memperlihatkan bahwa pendekatan kepada masyarakat tidak harus selalu dilakukan melalui forum formal.
Seni dan budaya justru dapat menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai kalangan, lintas usia, dan latar belakang.
Melalui konsistensi menghadirkan Wayang Golek di Kota Cimahi dan Kota Bandung, Mamat berharap kesenian tradisional Sunda semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat, khususnya generasi muda.
Sebab, menjaga budaya bukan semata-mata mempertahankan peninggalan masa lalu, melainkan memastikan identitas dan jati diri masyarakat Sunda tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Menyapa warga, merawat budaya, menggerakkan ekonomi.
Itulah semangat yang ingin terus dibangun melalui program Dewan Menyapa Warga Berbasis Budaya.(Bagdja)
















