Pandeglang, Banten l secondnewsupdate.co.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kali ini, buah pisang yang dibagikan kepada siswa SD Malnu, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, diduga dalam kondisi tidak layak konsumsi karena kulitnya terlihat menghitam.
Kondisi tersebut terungkap melalui sebuah video yang memperlihatkan dua kantong plastik berwarna merah berisi buah pisang dengan tampilan kulit menghitam. Diduga, kondisi buah tersebut membuat sejumlah anak enggan mengonsumsinya.
Temuan ini pun memunculkan perhatian terhadap kualitas bahan pangan yang didistribusikan dalam program MBG, khususnya terkait proses pemilihan, penyimpanan, hingga pendistribusian makanan kepada para siswa sebagai penerima manfaat.
Menanggapi dugaan tersebut, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (KSPPG) Menes 3, Wahyu, memberikan klarifikasi. Ia membantah bahwa pisang yang dibagikan kepada para siswa dalam kondisi busuk.
Menurut Wahyu, perubahan warna yang terlihat hanya terjadi pada bagian kulit pisang, bukan menunjukkan bahwa buah tersebut telah membusuk.
“Sebetulnya bukan busuk, tapi hanya item kulitnya saja,” kata Wahyu saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis (5/11/2026).
Ia menjelaskan, sebelum didistribusikan kepada para penerima manfaat, pihaknya terlebih dahulu melakukan pemilahan untuk memastikan buah yang diberikan merupakan buah dengan kondisi baik.
“Kita pilah dulu buahnya, yang bagus kita pakai, yang jelek kita buang. Terus pas didistribusikan juga oke. Cuma tadi buahnya jadi kayak gitu,” ujarnya.
Meski demikian, munculnya dokumentasi buah pisang dengan kulit menghitam tersebut menjadi perhatian tersendiri.
Kualitas makanan yang disalurkan melalui program MBG dinilai penting untuk terus dijaga agar tujuan pemenuhan gizi bagi anak-anak sekolah dapat tercapai secara optimal.
Klarifikasi dari pihak KSPPG Menes 3 menjadi bagian penting dalam pemberitaan ini. Namun, kondisi fisik buah yang dipersoalkan juga perlu menjadi perhatian agar kualitas dan kelayakan pangan yang diterima para siswa benar-benar terjamin.
Publik tentu berharap pelaksanaan program MBG tidak hanya berorientasi pada pemenuhan distribusi makanan, tetapi juga memastikan setiap bahan pangan yang diberikan kepada anak-anak memenuhi standar kualitas dan keamanan pangan. (Sanan)
















