AgamaPendidikanRagam Daerah

Bupati Garut Soroti 40 Ribu Anak Putus Sekolah, Pesantren Didorong Jadi Benteng Pendidikan

109
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin saat menyampaikan sambutan di hadapan jamaah, santri, dan masyarakat dalam Tabligh Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus peresmian Asrama Putra Ponpes Bidayatul Faizin. Suasana kegiatan berlangsung khidmat dan penuh antusias.

Jawa Barat, Garut l secondnewsupdate.co.id — Persoalan pendidikan masih menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Garut. 

Di tengah kuatnya peran lembaga pendidikan keagamaan, masih terdapat ribuan anak yang belum melanjutkan pendidikan formal karena berbagai faktor sosial dan ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, saat menghadiri Tabligh Akbar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus peresmian Asrama Putra Pondok Pesantren Bidayatul Faizin di Kampung Babakan Negla, Desa Cipangramatan, Kecamatan Cikajang, Selasa (15/9/2026).

Dalam kesempatan itu, Syakur mengapresiasi keberadaan Pondok Pesantren Bidayatul Faizin yang telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan keagamaan masyarakat Garut selama puluhan tahun.

Menurutnya, pesantren tersebut memiliki nilai historis karena dirintis sejak 1975 oleh para sesepuh di tengah kondisi wilayah yang kala itu masih relatif jauh dari pusat perkotaan dan memiliki keterbatasan akses.

Bagi Syakur, keberadaan pesantren di kawasan yang jauh dari pusat pemerintahan justru menunjukkan besarnya semangat masyarakat dalam menghadirkan pendidikan agama bagi generasi muda.

“Pesantren memiliki peran penting dalam membimbing dan memberikan pendidikan keagamaan kepada masyarakat, termasuk di wilayah yang jauh dari pusat kota,” ujarnya.

Namun, Syakur mengingatkan bahwa penguatan pendidikan agama perlu berjalan beriringan dengan pendidikan umum.

Keduanya dinilai dapat menjadi fondasi penting untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga karakter dan moral yang kuat.

Ia bahkan mengungkapkan masih adanya sekitar 40 ribu warga Garut yang berhenti sekolah. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari persoalan ekonomi hingga memilih bekerja dan menikah pada usia sekolah.

“Aya 40 rebu urang Garut anu liren sakola. Sebagian besar karena dambel, karena nikah. Apapun itu urang kedah ngadorong supados murangkalih urang sadayana tiasa sakola,” tegas Syakur.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian penting di tengah upaya pemerintah daerah meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, anak-anak Garut harus mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang layak, baik melalui jalur pendidikan umum maupun pendidikan keagamaan.

Syakur juga menilai pesantren memiliki posisi strategis dalam menjawab tantangan tersebut.

Pesantren bukan hanya tempat memperdalam ilmu agama, tetapi juga dapat menjadi ruang pembentukan karakter dan pengembangan kapasitas generasi muda.

“Sakola teu kedah sakola umum hungkul, tapi oge sakola agama oge sae pami tiasa duanana,” tandasnya.

Peresmian Asrama Putra Pondok Pesantren Bidayatul Faizin pun diharapkan semakin memperkuat kapasitas pesantren dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada para santri.

Bagi Pemerintah Kabupaten Garut, kolaborasi antara pemerintah, pesantren, keluarga, dan masyarakat menjadi salah satu kunci agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan hanya karena keterbatasan ekonomi maupun persoalan sosial lainnya. (Asan)

Penulis: Asep Santika Editor: Bama
Exit mobile version