Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
InformatikaKesehatanRagam Daerah

Cimahi Gaspol Kejar Imunisasi! Ngatiyana Bidik Tak Ada Anak Tertinggal dari Perlindungan Penyakit

765
×

Cimahi Gaspol Kejar Imunisasi! Ngatiyana Bidik Tak Ada Anak Tertinggal dari Perlindungan Penyakit

Sebarkan artikel ini
Walikota Cimahi Ngatiyana sangat peduli terhadap balita warga yang diimunisasi, gercep Ngatiyana ikut meneteskan obat imunisasi kepada salah satu balita seorang warga Cimahi

Jawa Barat, Cimahi l secondnewsupdate.co.id — Kemerdekaan bagi anak-anak bukan sekadar tumbuh tanpa rasa takut. 

Lebih jauh, kemerdekaan juga berarti mendapatkan hak untuk hidup sehat, tumbuh optimal, dan memperoleh perlindungan dari berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.

Example 300x600

Semangat itulah yang kini didorong Pemerintah Kota Cimahi melalui gerakan Sepekan Mengejar Imunisasi (PENARI).

Program yang berlangsung pada 10–16 Agustus 2026 tersebut menjadi langkah akselerasi untuk mengejar anak-anak yang belum memperoleh imunisasi secara lengkap sesuai jadwal.

Di tengah momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, imunisasi ditempatkan bukan hanya sebagai agenda kesehatan rutin, tetapi sebagai investasi untuk menyiapkan generasi Cimahi yang lebih sehat dan tangguh.

Wali Kota Cimahi Ngatiyana menegaskan, perlindungan kesehatan anak tidak boleh bergantung pada kondisi sosial maupun tempat tinggal. 

Setiap anak, menurutnya, memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan kesehatan.

“Imunisasi bukan hanya melindungi satu anak, tetapi juga membentuk kekebalan masyarakat. Semakin tinggi cakupan imunisasi, semakin kecil risiko penyebaran penyakit menular,” ujar Ngatiyana saat menghadiri Gebyar PENARI tingkat Kota Cimahi di Kecamatan Cimahi Utara, Rabu (12/8/2026). Kemarin.

Menurut Ngatiyana, momentum kemerdekaan menjadi pengingat bahwa pembangunan manusia harus dimulai sejak usia dini. Anak-anak yang sehat merupakan modal penting bagi masa depan daerah sekaligus bangsa.

Karena itu, ia mengajak orang tua tidak menganggap imunisasi sebagai perkara sepele. 

Jadwal imunisasi anak perlu diperiksa dan dilengkapi apabila masih terdapat dosis yang terlewat.

“Menjaga kesehatan anak adalah tanggung jawab bersama. Kami mengajak para orang tua untuk memastikan putra-putrinya memperoleh imunisasi sesuai jadwal agar tumbuh sehat, cerdas, dan menjadi generasi penerus yang mampu membawa Indonesia semakin maju,” katanya.

Kejar Anak yang Belum Lengkap Imunisasi

Program PENARI menyasar balita usia 0–59 bulan serta anak usia sekolah yang status imunisasinya belum lengkap.

Pemerintah Kota Cimahi memasang target ambisius. Dari total 15 kelurahan, sedikitnya 14 kelurahan atau sekitar 93 persen diharapkan mampu mencapai tingkat cakupan yang mendukung terbentuknya kekebalan kelompok.

Target tersebut tidak sekadar mengejar angka cakupan imunisasi. 

Di baliknya terdapat upaya untuk menemukan anak-anak yang selama ini luput dari layanan imunisasi rutin.

Pelaksanaan PENARI dilakukan secara serentak melalui berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas, posyandu, rumah sakit, klinik, praktik dokter mandiri, praktik bidan hingga jejaring layanan kesehatan lainnya.

Tenaga kesehatan bersama kader Posyandu dan unsur kewilayahan juga bergerak melakukan penelusuran aktif ke lingkungan permukiman. 

Langkah ini penting agar anak yang belum lengkap imunisasinya tidak hanya menunggu datang ke fasilitas kesehatan, tetapi justru dapat ditemukan dan diarahkan mendapatkan layanan.

Dengan pola jemput bola tersebut, Pemkot Cimahi ingin mempersempit celah terjadinya anak yang tidak mendapatkan perlindungan imunisasi secara optimal.

Bukan Hanya Balita, Anak Sekolah Juga Diburu

Penguatan imunisasi di Cimahi tidak berhenti melalui PENARI. Sepanjang Agustus 2026, Dinas Kesehatan juga menjalankan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Tahap I di SD, SMP, dan sederajat.

Sasarannya cukup luas. Siswa kelas 1 SD mendapatkan imunisasi Campak-Rubela (MR). Sementara siswi kelas 5 SD menjadi sasaran vaksin Human Papillomavirus (HPV) sebagai bagian dari upaya pencegahan kanker serviks.

Bagi siswi yang belum memperoleh vaksin HPV ketika duduk di kelas 5 SD, imunisasi kejar juga diberikan kepada siswi kelas 6 SD dan kelas 9 SMP sesuai sasaran program.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa perlindungan imunisasi tidak berhenti ketika seorang anak melewati usia balita. Perlindungan kesehatan terus diperkuat sesuai kebutuhan dan kelompok usia.

Ngatiyana Dorong Gotong Royong Jaga Anak Cimahi

Pemkot Cimahi menyadari bahwa mengejar cakupan imunisasi tidak bisa hanya dibebankan kepada tenaga kesehatan.

Orang tua, kader Posyandu, sekolah, fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah kewilayahan hingga masyarakat memiliki peran yang saling berkaitan.

Semakin cepat anak-anak yang belum lengkap imunisasinya ditemukan dan dilayani, semakin besar peluang Kota Cimahi membangun perlindungan masyarakat yang lebih kuat terhadap penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.

Bagi Ngatiyana, semangat tersebut sejalan dengan nilai gotong royong yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Di usia kemerdekaan yang ke-81, pemerintah ingin memastikan tidak ada anak Cimahi yang kehilangan kesempatan memperoleh perlindungan kesehatan hanya karena imunisasinya terlewat.

Jika cakupan imunisasi dapat terus ditingkatkan, risiko munculnya kejadian luar biasa akibat penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi pun diharapkan semakin rendah.

Kemerdekaan akhirnya bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu. Di Cimahi, semangat kemerdekaan juga diterjemahkan menjadi perjuangan memastikan anak-anak hari ini tumbuh sehat, terlindungi, dan siap menjadi generasi yang menentukan masa depan Indonesia. (Bagdja)

Penulis: Bagdja Sukmana Editor: Sinta Sukmana
Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600