InformatikaLingkungan HidupRagam Daerah

Cimahi Menuju ‘Zero to TPA’: World Bank Turun Tangan Pantau Revolusi Sampah di TPST Sentiong

2387
Wakil Walikota Cimahi Adithia Yudistira menyambut langsung tim global dari World Bank. Delegasi World Bank bersama tim Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP) menyambangi TPST Sentiong dan Lebaksaat. Pada Rabu (21/1/2026).

Cimahi//secondnewsupdate.co.id – Di tengah ancaman krisis sampah yang membayangi kawasan Bandung Raya akibat overloadnya TPA Sarimukti, Pemerintah Kota Cimahi mengambil langkah berani dengan mempercepat transformasi pengelolaan limbah perkotaan. 

Tak tanggung-tanggung, komitmen ini dipantau langsung oleh tim global dari World Bank.

​Delegasi World Bank bersama tim Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP) menyambangi TPST Sentiong dan Lebaksaat. Pada Rabu (21/1/2026). 

Kunjungan ini merupakan bagian dari Implementation Support Mission (ISM) untuk memastikan bahwa teknologi dan sistem yang dibangun di Cimahi benar-benar mampu memutus rantai ketergantungan pada TPA.

​Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, yang menyambut langsung tim misi tersebut, menegaskan bahwa kehadiran lembaga donor internasional ini adalah bentuk kepercayaan strategis bagi Cimahi.

​”Kehadiran Tim ISM bukan sekadar monitoring rutin, melainkan ruang bagi kami untuk memastikan program ISWMP berjalan tepat sasaran. Ini adalah jawaban atas keterbatasan wilayah kami dan kondisi TPA Sarimukti yang sudah sangat kritis,” ungkap Adhitia.

​Cimahi kini tengah menggenjot kebijakan Zero to TPA. Strategi ini tidak hanya mengandalkan mesin, tetapi juga revolusi perilaku masyarakat melalui pemilahan di hulu.

​Beberapa poin kunci yang menjadi fokus Pemkot Cimahi meliputi:

Pemisahan Otoritas: 60% pengelolaan sampah kini didelegasikan ke tingkat kelurahan, sementara 40% sisanya dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup.

Optimalisasi TPST Sentiong: Mengatasi dampak sosial operasional, termasuk bagi sekolah di sekitarnya (SDN Pambudi Dharma), agar tetap ramah lingkungan.

Penguatan Regulasi: Penetapan Rencana Induk Pengelolaan Sampah (RIPS) sebagai kompas jangka panjang.

​“Perubahan perilaku adalah kunci. Sampah akan menjadi berkah jika dipilah di tingkat sumber,” tegas Adhitia.

Meskipun infrastruktur telah berdiri, Pemkot Cimahi tidak menutup mata terhadap kendala di lapangan. 

Dalam diskusi bersama World Bank, terungkap bahwa sejumlah peralatan belum beroperasi pada kapasitas maksimal.

Sebagai langkah solusi, Pemkot Cimahi menyatakan kesiapannya untuk melakukan peningkatan hingga penggantian peralatan

Targetnya ambisius: TPST harus mampu mengolah hingga 85 ton sampah per hari

Jika kapasitas ini tercapai, ketergantungan Cimahi terhadap pengiriman sampah keluar daerah akan berkurang drastis secara berkelanjutan.

Program ISWMP yang didanai melalui pinjaman World Bank dan dikelola Kementerian Pekerjaan Umum ini diharapkan menjadi blueprint nasional bagi kota-kota metropolitan lainnya. 

Dengan dukungan pembangunan dua TPST baru, Cimahi optimis mampu meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan secara signifikan.

Kunjungan Tim World Bank, CPMU, dan CPIU ini menjadi momentum penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. 

Kota Cimahi membuktikan bahwa meski wilayahnya terbatas, inovasi dan keberanian dalam mengelola sampah dapat menjadi percontohan bagi kota lain di Indonesia. (Bagdja)

Exit mobile version