Jakarta//secondnewsupdate.co.id – Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), salah satu kawasan konservasi tertua di Indonesia, tengah menghadapi ancaman serius yang berpotensi merusak fungsi ekologisnya.
Alih-alih menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati Jawa Barat, kawasan ini kini dibayangi krisis lingkungan akibat akumulasi sampah pendaki yang kian tak terkendali.
Kondisi tersebut mendapat sorotan tajam dari Aktivis sekaligus Pengamat Lingkungan, Putri Nabila Damayanti, SH, yang menyampaikan keprihatinannya terhadap degradasi lingkungan di wilayah konservasi tersebut. Hal itu disampaikannya kepada awak media, di Jakarta. Jumat (30/1/2026).
Menurut Putri, persoalan yang terjadi di TNGGP bukan lagi sekadar isu kebersihan, melainkan telah berubah menjadi ancaman sistemik terhadap keberlanjutan ekosistem pegunungan.
“Setiap kali menginjakkan kaki di TNGGP, hati saya bergejolak. Bukan karena keindahannya, melainkan karena ‘monumen’ plastik yang terus meninggi di kawasan konservasi,” ungkap Putri.
Gunung Gede yang selama ini dikenal sebagai paru-paru alami Jawa Barat, dinilai mulai kehilangan identitasnya.
Jalur pendakian yang ikonik, khususnya kawasan Alun-Alun Suryakencana, kini dipenuhi sampah plastik, kaleng bekas logistik, hingga sisa perlengkapan pendaki yang ditinggalkan begitu saja.
Putri menegaskan, meskipun kampanye “bawa turun sampahmu” telah lama digaungkan, fakta di lapangan menunjukkan lemahnya pengawasan serta minimnya edukasi berkelanjutan.
“Ini bukan semata kesalahan pendaki. Ada kegagalan sistemik dalam pengelolaan, pengawasan, dan penegakan aturan,” ujarnya.
Lebih jauh, Putri menjelaskan bahwa sampah plastik yang tertimbun di tanah pegunungan dapat mengganggu daya resap air, mencemari tanah, serta mengancam satwa liar yang berpotensi mengonsumsi sisa makanan atau material plastik tersebut.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, TNGGP dikhawatirkan akan kehilangan daya tarik alaminya dalam waktu dekat.
“Kita tidak mewarisi alam ini dari nenek moyang, tetapi meminjamnya dari anak cucu kita. Jangan kembalikan dalam keadaan hancur,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Putri yang juga aktif di PP AMPG mendesak otoritas pengelola TNGGP untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap sistem perizinan pendakian dan pengelolaan sampah, termasuk evaluasi jumlah pendaki, pengawasan lapangan, serta sanksi tegas bagi pelanggar.
“Yang dibutuhkan bukan sekadar spanduk imbauan, tetapi aksi nyata dan kebijakan tegas untuk menyelamatkan kawasan konservasi ini,” pungkasnya. (Megy)
