BeritaBudayaInformatikaRagam DaerahSejarah

Dedi Mulyadi Kembalikan Mahkota Binokasih ke Museum Prabu Geusan Ulun, Dorong Penataan Kawasan Keraton di Jabar

126
Gubernur Provinsi Jawa Barat Dedi Mulyadi (belakang nomor tiga dari kiri) saat disambut upacara adat pengembalian Mahkota Binokasih ke Museum Prabu Geusan Ulun

Usai kirab budaya keliling 9 daerah, pusaka peninggalan Kerajaan Sunda kembali disimpan di Sumedang.

Sumedang/ secondnewsupdate.co.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi resmi mengembalikan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake ke Museum Prabu Geusan Ulun, setelah pusaka tersebut dibawa dalam rangkaian Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda ke sembilan kota dan kabupaten di Jawa Barat. Senin (18/5/2026).

Prosesi pengembalian berlangsung khidmat di Gedung Negara Sumedang dan disambut oleh unsur pemerintahan daerah, tokoh budaya, serta masyarakat.

Mahkota Binokasih yang dikenal sebagai salah satu simbol penting warisan Kerajaan Sunda itu kembali ditempatkan di museum sebagai bagian dari pelestarian sejarah dan budaya Sunda.

Menurut Dedi, rangkaian kirab budaya yang digelar beberapa waktu terakhir memberi dampak nyata, tidak hanya dalam aspek budaya, tetapi juga pada pergerakan ekonomi daerah.

Usai kirab budaya keliling 9 daerah, pusaka peninggalan Kerajaan Sunda kembali disimpan di Sumedang.

Ia menyebut tingkat hunian hotel di sejumlah wilayah meningkat selama kegiatan berlangsung. Selain itu, arus kunjungan masyarakat ke berbagai daerah di Jawa Barat juga mengalami kenaikan.

“Hotel-hotel penuh, kunjungan ke Jawa Barat meningkat, dan sejumlah daerah mulai terlihat lebih bersih,” ujar Dedi.

Namun, ia menegaskan peningkatan kunjungan wisata bukan tujuan utama yang harus dikejar dalam waktu dekat. Fokus utama, kata dia, justru ada pada pembenahan tata kota, kebersihan lingkungan, serta penataan kawasan budaya.

Dedi menyoroti kondisi kawasan keraton di wilayah Cirebon yang dinilainya masih menghadapi persoalan tata ruang. Banyak bangunan baru berdiri terlalu rapat di sekitar area keraton sehingga mengurangi nilai visual dan ruang terbuka kawasan bersejarah tersebut.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu mulai menata ulang bangunan di sekitar kawasan budaya agar memiliki keselarasan arsitektur dengan bangunan utama.

“Bangunan di sekitar keraton harus selaras. Kalau kawasan tertata, otomatis akan memunculkan minat publik untuk datang,” katanya.

Ia pun mengajak seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Barat agar tidak semata-mata mengejar label destinasi wisata, melainkan lebih dulu memperbaiki kualitas lingkungan di wilayah masing-masing.

“Jangan buru-buru berpikir soal wisata atau kunjungan. Urus dulu kampung, tata dulu kota, bersihkan lingkungan. Setelah itu, manfaatnya akan datang sendiri,” tutur Dedi.

Mahkota Binokasih dikembalikan ke Museum Prabu Geusan Ulun, untuk mendorong Penataan Kawasan Keraton di Jabar

Mahkota Binokasih sendiri merupakan pusaka bersejarah peninggalan abad ke-14 yang memiliki nilai simbolik tinggi dalam perjalanan peradaban Sunda.

Keberadaannya di Museum Prabu Geusan Ulun selama ini menjadi salah satu daya tarik wisata sejarah di Kabupaten Sumedang. (Burhan)

Exit mobile version