PolitikRagam Daerah

Dialog Lintas Iman di Garut, Persada 212 Gaungkan Toleransi dan Kemanusiaan Jelang Tahun Politik

113

Garut, Jabar | secondnewsupdate.co.id – Merawat keberagaman dan menjaga kerukunan antarumat beragama menjadi pesan utama dalam Dialog Multikultural bertajuk “Menegakkan Kemanusiaan dan Keluhuran Moral Lintas Iman” yang digelar Dewan Tahfidzi Kabupaten (DTK) Persaudaraan Alumni 212 (Persada 212) Garut di Gedung Pendopo, Kecamatan Garut Kota, Selasa (13/10/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan tokoh lintas agama, elemen masyarakat, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Garut. 

Dialog ini menjadi ruang bersama untuk memperkuat toleransi, merawat kebinekaan, dan mencegah polarisasi di tengah masyarakat, khususnya menjelang momentum politik lokal.

Staf Ahli Bupati Garut Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM), Maskut Farid, menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan fisik. 

Kerukunan, keamanan, dan kenyamanan masyarakat juga menjadi fondasi penting untuk mewujudkan kehidupan yang damai dan sejahtera.

Menurutnya, Pemkab Garut menaruh perhatian terhadap pemeliharaan kerukunan karena pembangunan tidak akan berjalan optimal apabila masyarakat hidup dalam ketidakharmonisan dan minim toleransi.

“Pemerintah Kabupaten Garut sangat konsen terhadap hal-hal yang menyangkut masalah kerukunan. Bagaimanapun, kalau kita membangun dengan baik, tetapi masyarakatnya tidak harmonis dan tidak ada toleransi, hal itu juga kurang,” ujar Maskut.

Ia menambahkan, pendekatan radikal yang disertai kekerasan bukanlah jalan yang produktif untuk menyelesaikan persoalan sosial. 

Sebaliknya, dialog terbuka antarkelompok masyarakat menjadi langkah konstruktif untuk membangun pemahaman dan memperkuat persatuan.

Maskut berharap dialog lintas iman tersebut dapat menciptakan suasana kondusif sekaligus memperkokoh kebersamaan dalam membangun Garut.

“Dengan adanya dialog seperti ini, diharapkan tercipta kondisi yang baik agar kita bisa bersama-sama membangun, memberikan rasa aman dan nyaman, serta mengusahakan kehidupan yang lebih baik sehingga terwujud masyarakat yang damai dan makmur,” tuturnya.

Kemenag: Keberagaman Garut Harus Dirawat Bersama

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Garut, Hamzah Rukmana, mengapresiasi penyelenggaraan dialog multikultural tersebut. 

Ia menilai kerukunan merupakan modal sosial yang harus terus dijaga melalui kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat.

Hamzah menyebut Garut memiliki kekayaan agama, kepercayaan, serta tradisi yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. 

Keberagaman tersebut tidak hanya tercermin dari kehidupan umat Islam, tetapi juga keberadaan umat Katolik, Kristen, Konghucu, Buddha, serta penganut kepercayaan Sunda Wiwitan.

“Sebagaimana kita ketahui, Kabupaten Garut ini bisa dikatakan sebagai episentrum terkait dengan kekayaan dan keragaman agama,” ungkap Hamzah.

Menurutnya, upaya menjaga kerukunan tidak boleh berhenti pada hubungan baik antarumat beragama. Pelestarian tradisi, seni, dan budaya lokal juga perlu mendapat perhatian agar keberagaman menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat.

Karena itu, Kemenag bersama para tokoh lintas agama dan pemerintah berkomitmen memperkuat sinergi dalam menjaga kerukunan secara berkelanjutan.

Hamzah menegaskan, tradisi dan kebudayaan lokal merupakan bagian dari kekayaan daerah yang perlu dirawat bersama, sejalan dengan upaya membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.

Persada 212 Ajak Tokoh Agama Jadi Penyejuk, Bukan Alat Politik

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum DTK Persada 212 Garut, Aam Moh. Jalaludin, menyampaikan komitmen organisasinya untuk terus mendorong penguatan nilai kemanusiaan dan toleransi di Kabupaten Garut.

Ia mengajak para kiai, ulama, romo, pendeta, biksu, rohaniwan, serta tokoh adat untuk menyatukan langkah dalam menjaga persaudaraan dan mencegah munculnya konflik yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Aam juga mengingatkan pentingnya menjaga independensi moral tokoh agama agar tidak terjebak dalam politik praktis, termasuk menjadi bagian dari kampanye hitam maupun upaya pembunuhan karakter yang membawa-bawa identitas agama.

Menurutnya, tokoh lintas iman memiliki tanggung jawab sosial untuk menghadirkan kesejukan, menjaga persatuan, dan memastikan seluruh masyarakat merasa aman tanpa memandang latar belakang keyakinannya.

“Tugas kita sebagai tokoh lintas agama bukan menjadi alat politik praktis. Tugas kita adalah menjadi penyejuk, menjadi jangkar moral agar Garut tetap menjadi kota toleran, kota yang aman untuk semua anak-anak,” pungkasnya.

Dialog multikultural tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat komunikasi lintas iman sekaligus meneguhkan komitmen bersama untuk menjaga Garut tetap damai, toleran, dan menghargai keberagaman.

Di tengah dinamika sosial dan politik, pesan yang mengemuka dari forum tersebut jelas: perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun kehidupan bersama yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan keluhuran moral. (Agung)

Exit mobile version