Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaLingkungan HidupRagam Daerah

Kali Ciasin Kerap Meluap, DBMSDA Tangerang Kerahkan Alat Amphibi Keruk Sedimentasi Sepanjang 625 Meter

303
×

Kali Ciasin Kerap Meluap, DBMSDA Tangerang Kerahkan Alat Amphibi Keruk Sedimentasi Sepanjang 625 Meter

Sebarkan artikel ini
Minah petani sayur mayur yang ladangnya kerap kebanjiran akibat Meluap saluran pembuang ciasin kp. Gaga Penjin, desa Gempol sari

Banten, Kabupaten Tangerang l  secondnewsupdate.co.id – Ancaman banjir yang kerap merendam lahan pertanian warga di Kampung Gaga Penjin, Desa Gempol Sari, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, mendapat perhatian serius Pemerintah Kabupaten Tangerang.

Melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA), khususnya UPTD Sumber Daya Air (SDA) Wilayah 5, pemerintah daerah melakukan normalisasi sekaligus pengerukan lumpur sedimentasi di saluran pembuang Kali Ciasin.

Example 300x600

Pekerjaan tersebut dilakukan untuk mengembalikan fungsi saluran air yang mengalami pendangkalan cukup parah sehingga tidak mampu menampung debit air, terutama saat intensitas hujan meningkat.

Kegiatan mobilisasi dan pekerjaan mekanis telah dilakukan sejak pertengahan Agustus hingga awal September 2026. Pada Senin (1/9/2026), proses normalisasi dan pengerukan masih terus berlangsung di hilir Kali Ciasin.

Penanganan dilakukan menggunakan alat berat jenis amphibi yang dinilai sesuai untuk kondisi medan dan karakteristik saluran.

Kepala UPTD SDA Wilayah 5 DBMSDA Kabupaten Tangerang, Agung Rumedi, mengatakan pekerjaan tersebut merupakan tindak lanjut atas usulan masyarakat, khususnya para petani di Kampung Gaga Penjin.

Menurutnya, saluran pembuang Ciasin selama ini kerap meluap akibat sedimentasi yang membuat kapasitas tampung air berkurang.

“Pekerjaan ini dilakukan di hilir Kali Ciasin atas usulan masyarakat petani di Kampung Gaga Penjin.

Saluran pembuang Ciasin kerap meluap karena sedimentasi, sehingga tidak mampu menampung debit air,” ujar Agung.

Ia menjelaskan, normalisasi dilakukan dengan memperlebar saluran yang sebelumnya memiliki lebar sekitar enam meter menjadi delapan meter.

“Untuk normalisasi, kita melakukan mobilisasi mekanis menggunakan alat jenis amphibi. Awalnya lebar saluran sekitar enam meter, kemudian dinormalisasi menjadi delapan meter dengan panjang pekerjaan mencapai 625 meter,” jelasnya.

Normalisasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas saluran sehingga debit air dapat tertampung lebih banyak dan aliran menjadi lebih lancar.

Tak hanya melakukan pengerukan, lumpur hasil sedimentasi juga dimanfaatkan untuk memperkuat tanggul di sisi kiri dan kanan saluran pembuang Ciasin.

Agung mengatakan, keberadaan tanggul tersebut diharapkan dapat mencegah air meluber ke areal pertanian warga ketika debit air meningkat.

“Lumpur hasil pengerukan kita manfaatkan sebagai tanggul di sisi kiri dan kanan saluran pembuang Ciasin agar air tidak meluap ke lokasi pertanian milik warga,” katanya.

Menariknya, tanggul tersebut nantinya juga dapat dimanfaatkan sebagai badan jalan bagi masyarakat, khususnya para petani.

“Selain berfungsi sebagai tanggul, badan jalan tersebut nantinya bisa digunakan sebagai akses warga dan petani dalam melakukan mobilisasi hasil pertanian,” tambah Agung.

Petani Sebut Banjir Bisa Setinggi Satu Meter

Banjir yang selama ini terjadi di kawasan tersebut menjadi persoalan serius bagi masyarakat, terutama para petani yang menggantungkan penghasilan dari lahan pertanian.

Salah seorang warga, Minah, mengungkapkan bahwa setiap musim hujan, areal pertanian warga kerap terendam karena saluran pembuang Ciasin tidak lagi mampu menampung debit air.

“Kalau musim hujan, lokasi pertanian warga kebanjiran karena saluran pembuang Ciasin sudah tidak bisa menampung air sehingga meluap ke lahan pertanian. Kalau banjir di sini sudah seperti laut, tingginya bisa sampai satu meter,” ungkap Minah.

Ia berharap normalisasi dan pengerukan sedimentasi yang dilakukan pemerintah dapat menjadi solusi terhadap persoalan banjir yang selama ini menghantui para petani.

“Mudah-mudahan dengan dilakukan pengerukan lumpur dan dibuat tanggul di sisi kiri dan kanan saluran, banjir tidak terjadi lagi,” harapnya.

Kecamatan Dukung Normalisasi Kali Ciasin

Sementara itu, Camat Sepatan Timur, Miftah Shuritho, membenarkan bahwa normalisasi saluran pembuang Ciasin merupakan bagian dari aspirasi masyarakat.

Menurutnya, warga Kampung Gaga Penjin, Desa Gempol Sari, memang selama ini menghadapi persoalan banjir pada lahan pertanian setiap musim hujan.

“Ya, ini sesuai dengan usulan warga Kampung Gaga Penjin, Desa Gempol Sari, yang lahannya kerap kebanjiran saat musim hujan. Banyak saluran-saluran kecil pembuangannya bermuara ke Kali Ciasin, sehingga ketika debit air meningkat tidak semuanya dapat tertampung,” ujar Miftah.

Ia menilai normalisasi dan pengerukan sedimentasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan kapasitas saluran pembuang Ciasin.

“Sesuai keinginan masyarakat, saluran pembuang Ciasin dilakukan normalisasi dan pengerukan lumpur sedimentasinya,” katanya.

Miftah berharap pekerjaan tersebut dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama dalam mengurangi risiko banjir yang kerap menggenangi areal pertanian.

“Kami berharap dengan dilakukannya pengerukan sedimentasi dan normalisasi saluran Ciasin, banjir dapat diminimalisir. Mudah-mudahan upaya ini dapat membantu menanggulangi bencana banjir sehingga ke depan banjir di Desa Gempol Sari tidak terjadi lagi,” pungkasnya.

Normalisasi sepanjang 625 meter dengan pelebaran saluran dari 6 meter menjadi 8 meter tersebut diharapkan mampu mengembalikan fungsi optimal saluran pembuang Kali Ciasin sekaligus memberikan perlindungan lebih baik bagi lahan pertanian masyarakat di Kecamatan Sepatan Timur. (Dia)

Penulis: DianaEditor: Bama
Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600