Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaBudayaInformatikaRagam DaerahSejarahWisata

KDM Dukung Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih, Ubah Perspektif dari Mistis ke Sejarah

121
×

KDM Dukung Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih, Ubah Perspektif dari Mistis ke Sejarah

Sebarkan artikel ini
Gubernur Provinsi Jawa Barat Dedi Mulyadi saat menghadiri Diskusi Kecagarbudayaan bertajuk “Prasasti Batu Tulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake” di Museum Pajajaran, Jalan Batu Tulis Blok Sekolah No.37, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Kamis (14/5/2026).

Kota Bogor/secondnewsupdate.co.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan dukungannya terhadap penyusunan kajian akademik komprehensif mengenai Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.

Langkah ini dinilai penting untuk menggeser cara pandang masyarakat dari nuansa mistis menuju pemahaman berbasis sejarah dan kebudayaan Sunda.

Example 300x600

Pernyataan tersebut disampaikan Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, saat menghadiri Diskusi Kecagarbudayaan bertajuk “Prasasti Batu Tulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake” di Museum Pajajaran, Jalan Batu Tulis Blok Sekolah No.37, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Kamis (14/5/2026).

“Batutulis nanti harus memiliki buku akademik yang mengkaji secara komprehensif, mulai dari tanggal pembuatan, bahan, pembuat, makna tulisan, hingga konteks sejarahnya. Begitu juga Mahkota Binokasih Sanghyang Pake harus dikaji dengan pendekatan ilmiah,” ujar KDM.

Menurutnya, keberadaan Prasasti Batutulis tidak hanya menjadi simbol peninggalan sejarah biasa, tetapi juga penanda penting kejayaan Kerajaan Sunda di bawah kepemimpinan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

KDM menegaskan, Kota Bogor merupakan pusat Kerajaan Pakuan Pajajaran yang harus diposisikan sebagai ruang edukasi sejarah. 

Kajian akademik yang tersusun nantinya diharapkan dapat menjadi landasan pembangunan tata ruang, tata bangunan, sistem pendidikan, hingga kebijakan kebudayaan di Jawa Barat.

KDM Dukung Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih, Ubah Perspektif dari Mistis ke Sejarah

“Sejarah masa lalu harus menjadi fondasi pembangunan masa depan. Ada kesinambungan identitas budaya dalam tata kelola kehidupan masyarakat Jawa Barat,” katanya.

Ahli epigrafi Titi Surti Nastiti dalam forum tersebut menjelaskan bahwa Prasasti Batutulis dibuat atas perintah Raja Surawisesa sebagai bentuk penghormatan kepada pendahulunya, Prabu Siliwangi, yang dinilai berjasa besar dalam membangun dan menata Pakuan Pajajaran sebagai ibu kota Kerajaan Sunda.

Namun, seiring perjalanan waktu dan perubahan politik di Pulau Jawa, banyak jejak fisik Kerajaan Sunda yang menghilang. Salah satu artefak penting yang masih bertahan adalah Mahkota Binokasih yang kini disimpan secara turun-temurun di Keraton Sumedang Larang.

Berdasarkan naskah kuno Carita Parahyangan, Mahkota Binokasih dibuat di Kerajaan Galuh sebagai simbol legitimasi kekuasaan raja-raja Sunda. 

Setelah runtuhnya Kerajaan Sunda, mahkota tersebut diserahkan kepada penguasa Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun, oleh empat utusan Pajajaran.

Ahli arkeometalurgi BRIN, Harry Octavianus Sofian, mengungkapkan Mahkota Binokasih memiliki keterkaitan erat dengan konsep kosmologi Sunda Tritangtu yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

“Mahkota ini dirancang merepresentasikan tiga unsur kepemimpinan Sunda, yakni Rama, Ratu atau Prabu, dan Resi,” jelas Harry.

Ia memaparkan, bagian atas mahkota melambangkan Rama atau pemimpin spiritual, ditandai bentuk stupa dan ornamen bunga teratai sebagai simbol kebijaksanaan dan kemanfaatan.

Bagian tengah merepresentasikan Ratu atau Prabu, dengan desain segitiga dan ornamen Garuda Mungkur yang melambangkan keberanian, perlindungan, dan kepemimpinan ksatria.

Sementara bagian bawah melambangkan Resi, yakni kelompok intelektual dan penasihat yang memberi pertimbangan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, terinspirasi dari ajaran Kasundaan Bunisora Suradipati.

Karena nilai historis dan filosofisnya yang tinggi, Mahkota Binokasih selama ini dijaga ketat oleh Keraton Sumedang Larang.

Namun dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda, mahkota tersebut dibawa berkeliling ke sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat sebagai bagian dari napak tilas sejarah Pajajaran.

Momentum ini dinilai menjadi kesempatan penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal lebih dalam akar sejarah, budaya, dan identitas Sunda. (Burhan)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600