BeritaKesehatanRagam Daerah

Kemenkes Gaspol Cegah Ancaman KLB di Bandung Barat! Imunisasi Jadi Benteng Utama Lindungi Anak dari Penyakit Berbahaya

115

KBB, Jabar l secondnewsupdate.co.id – Ancaman Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) menjadi perhatian serius pemerintah. 

Untuk memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus menggencarkan edukasi dan sosialisasi pentingnya imunisasi sebagai langkah strategis mencegah penyebaran penyakit berbahaya, khususnya pada bayi dan anak-anak.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Pencegahan Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) di wilayah yang dinilai rentan terhadap potensi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Kegiatan yang dipusatkan di Kabupaten Bandung Barat (KBB) ini dilaksanakan oleh Direktorat Imunisasi Kemenkes RI, dengan Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah setempat sebagai lokus penyelenggaraan.

Dalam kegiatan yang berlangsung di Aula HBS Cimareme, Kecamatan Ngamprah, KBB. KBB, Rabu (4/11/2026).

Yana Mulyana, menegaskan bahwa imunisasi merupakan salah satu instrumen penting dalam membangun kekebalan tubuh sekaligus mengurangi risiko penyebaran penyakit yang dapat mengancam keselamatan anak.

Sosialisasi tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Cimareme, mulai dari kader kesehatan, tokoh masyarakat, hingga Kepala Desa Cimareme.

Keterlibatan berbagai elemen ini diharapkan mampu memperluas jangkauan edukasi hingga ke lingkungan masyarakat paling bawah.

Yana menjelaskan, kerentanan terhadap penyakit PD3I bukan hanya menjadi persoalan Kabupaten Bandung Barat.

Potensi ancaman serupa juga terdapat di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat sehingga diperlukan perhatian dan keterlibatan bersama.

Menurutnya, meskipun imunisasi tidak menjamin perlindungan hingga 100 persen, tingginya cakupan imunisasi tetap menjadi langkah strategis dan efektif untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak.

Dengan semakin banyak anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal, risiko penularan penyakit diharapkan dapat ditekan sehingga potensi terjadinya KLB dapat diminimalkan.

“Imunisasi adalah salah satu upaya terbaik kita agar anak-anak terlindungi. Dengan cakupan yang tinggi, diharapkan kasus pada bayi dapat ditekan seminimal mungkin,” ujarnya.

Luruskan Persepsi Keliru, Edukasi Imunisasi Harus Diperkuat

Di sisi lain, Yana juga menyoroti masih adanya hambatan dalam pelaksanaan imunisasi di tengah masyarakat. 

Salah satunya adalah munculnya persepsi keliru yang menganggap vaksinasi bertentangan dengan ajaran agama.

Menurutnya, pemahaman tersebut perlu diluruskan melalui pendekatan edukatif, dialogis, dan persuasif dengan melibatkan tokoh agama serta tokoh masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa menjaga kesehatan dan memberikan perlindungan kepada anak merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua. 

Dalam penjelasannya, ia mengaitkan pentingnya perlindungan generasi penerus dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 9, yang mengingatkan umat agar tidak meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah.

“Upaya kita adalah memberikan kekebalan kepada mereka melalui imunisasi. Bahayanya sangat nyata jika tidak diimunisasi, mulai dari risiko stunting, kecacatan, hingga kematian pada anak,” tegasnya.

Karena itu, masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru mengenai vaksinasi. 

Edukasi berbasis informasi kesehatan yang benar perlu terus diperluas agar orang tua memahami manfaat imunisasi bagi perlindungan dan tumbuh kembang anak.

Kader dan Tokoh Masyarakat Jadi Ujung Tombak

Lebih jauh, Yana berharap para peserta sosialisasi tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu berperan sebagai agent of change atau agen perubahan di lingkungan masing-masing.

Para kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan perangkat desa dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran warga, menghilangkan keraguan, sekaligus mendorong orang tua agar memenuhi jadwal imunisasi anak.

Ia juga mengapresiasi tingginya antusiasme peserta selama kegiatan berlangsung. Respons positif tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat pelaksanaan program imunisasi di Kabupaten Bandung Barat.

“Merespons kegiatan ini, antusiasme peserta terlihat sangat tinggi. Hal ini menjadi sinyal positif dan pertanda baik bagi kelancaran serta kesuksesan program imunisasi di Kabupaten Bandung Barat ke depannya,” ucapnya.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, Kemenkes berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen warga.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mengoptimalkan cakupan imunisasi, sehingga anak-anak memperoleh perlindungan kesehatan yang lebih baik.

Dengan demikian, upaya pencegahan PD3I tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan tenaga medis, tetapi juga gerakan bersama masyarakat demi melindungi generasi penerus bangsa dari ancaman penyakit berbahaya serta mencegah terjadinya KLB di masa mendatang. (Hendra)

Exit mobile version