Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaInformatikaRagam Daerah

Manfaatkan Area Brandgang, Lapas Majalengka Sukses Panen 36 Kg Lele dan 65 Butir Telur Puyuh

120
×

Manfaatkan Area Brandgang, Lapas Majalengka Sukses Panen 36 Kg Lele dan 65 Butir Telur Puyuh

Sebarkan artikel ini
Kalapas Majalengka Rian Firmansyah bersama jajaran strukturalnya ikut memanen ikan lele hasil budidaya Warga binaan Lapas Kelas IIB Majalengka.

Majalengka/secondnewsupdate.co.id – Kreativitas dan inovasi terus ditunjukkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Majalengka dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. 

Area brandgang yang selama ini dikenal sebagai jalur pengamanan dan zona steril di lingkungan lapas, kini disulap menjadi lahan produktif yang menghasilkan panen ikan lele dan telur puyuh.

Example 300x600

Keberhasilan tersebut terlihat saat Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIB Majalengka, Rian Firmansyah, bersama jajaran struktural dan petugas pembinaan kegiatan kerja melakukan peninjauan langsung ke lokasi ketahanan pangan pada Sabtu (6/6/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Rian turut menyaksikan sekaligus mengikuti proses panen hasil budidaya yang dikelola oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). 

Hasilnya cukup menggembirakan. Dari lahan yang terbatas, warga binaan mampu menghasilkan 36 kilogram ikan lele segar dan 65 butir telur puyuh.

Program pemanfaatan area brandgang ini menjadi bukti bahwa keterbatasan ruang bukanlah hambatan untuk menciptakan kegiatan produktif.

Dengan pengelolaan yang terencana dan pengawasan ketat, area yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai jalur keamanan kini memberikan manfaat ekonomi sekaligus sarana pembelajaran bagi warga binaan.

Rian, mengungkapkan rasa syukur atas capaian yang diraih para warga binaan melalui program pembinaan kemandirian tersebut.

“Alhamdulillah, hari ini warga binaan Lapas Kelas IIB Majalengka berhasil memanen hasil budidaya ikan lele dan ternak puyuh. Walaupun hanya memanfaatkan lahan yang terbatas, mereka mampu menghasilkan 36 kilogram ikan lele hidup dan 65 butir telur puyuh. Untuk sementara, hasil panen ini akan dimanfaatkan guna memenuhi kebutuhan konsumsi warga binaan,” ujar Rian.

Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa warga binaan memiliki semangat, disiplin, dan ketekunan dalam mengembangkan keterampilan di bidang perikanan dan peternakan.

Program ini sekaligus menjadi bagian dari pembinaan yang berorientasi pada pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Selain mendukung program ketahanan pangan nasional, kegiatan budidaya ini juga sejalan dengan visi pemerintah dalam memperkuat kemandirian bangsa melalui sektor pangan. 

Lapas Majalengka berupaya menghadirkan pembinaan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memberikan keterampilan nyata yang dapat dimanfaatkan warga binaan setelah menjalani masa pidana.

Lebih lanjut, program tersebut juga mendukung pelaksanaan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang mendorong seluruh lembaga pemasyarakatan menjadi institusi yang produktif, mandiri, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Rian menegaskan bahwa ukuran keberhasilan program tidak semata-mata dilihat dari banyaknya hasil panen yang diperoleh. 

Yang lebih penting adalah manfaat jangka panjang yang dirasakan warga binaan dalam proses pembinaan.

“Keberhasilan ini bukan hanya soal jumlah panen, tetapi bagaimana warga binaan mendapatkan keterampilan praktis yang dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat. Harapannya, mereka mampu mandiri secara ekonomi dan memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti,” pungkasnya.

Melalui pemanfaatan area brandgang sebagai lahan budidaya produktif, Lapas Kelas IIB Majalengka membuktikan bahwa pembinaan yang inovatif mampu menghasilkan manfaat ganda, yakni mendukung ketahanan pangan sekaligus membentuk warga binaan yang lebih siap, terampil, dan produktif saat kembali berintegrasi dengan masyarakat. (Ast)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600