PendidikanRagam Daerah

PCI Serial Lecture Hadirkan Guru Besar UPI, Siswa SMP PCI Dikenalkan Konsep Smart Museum

143
SMP Prima Cendekia Islami (PCI) Baleendah, Kabupaten Bandung, kembali menggelar salah satu program unggulannya, PCI Serial Lecture, sebuah agenda bulanan yang menghadirkan guru besar, akademisi, birokrat, dan praktisi untuk memberikan kuliah umum kepada para siswa.

Kabupaten Bandung// secondnewsupdate.co.id – SMP Prima Cendekia Islami (PCI) Baleendah, Kabupaten Bandung, kembali menggelar salah satu program unggulannya, PCI Serial Lecture, sebuah agenda bulanan yang menghadirkan guru besar, akademisi, birokrat, dan praktisi untuk memberikan kuliah umum kepada para siswa.

Pada edisi kali ini, PCI Serial Lecture menghadirkan Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd., Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekaligus Kepala Museum Pendidikan Nasional Indonesia. Kegiatan berlangsung pada Senin (26/1/2026).

Dalam kuliah umumnya, Prof. Leli memperkenalkan konsep Smart Museum kepada para siswa. Mereka dibekali pemahaman mengenai sejarah pendidikan, dunia permuseuman, hingga transformasi museum di era digital.

Menurut Prof. Leli, pembelajaran dari masa lalu tidak hanya bersumber dari buku dan arsip tertulis, tetapi juga dari artefak sejarah yang tersimpan di museum.

Dalam kuliah umumnya, Prof. Leli memperkenalkan konsep Smart Museum kepada para siswa. Mereka dibekali pemahaman mengenai sejarah pendidikan, dunia permuseuman, hingga transformasi museum di era digital.

“Museum saat ini telah bermetamorfosa, dari yang dulu dipersepsikan sebagai gudang artefak, menjadi sumber inspirasi, imajinasi, dan digitalisasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Museum Pendidikan Nasional UPI yang berada di bawah naungan Universitas Pendidikan Indonesia terus dikembangkan dengan menampilkan diorama, artefak, miniatur, serta koleksi langka dari masa prasejarah hingga modern.

Sebagai museum pendidikan, pengunjung diajak menelusuri evolusi pendidikan dari masa kuno hingga era modern.

“Kita tidak boleh hanya terpaku pada masa lampau, tetapi juga berorientasi ke masa depan. Museum Pendidikan Nasional menjadi bukti bahwa sejarah masa lalu dapat dinikmati dan diapresiasi untuk masa kini dan masa depan,” ungkap pakar museologi asal Ciamis tersebut.

Prof. Leli menambahkan, kehadiran Museum Pendidikan Nasional UPI bertujuan mengubah citra museum yang selama ini terkesan kuno dan hanya menyimpan barang antik, menjadi institusi yang dirindukan, menyenangkan, serta menghadirkan komunikasi interaktif antara masa lalu dan masa kini.

Transformasi tersebut diwujudkan melalui pengembangan Smart Museum, yakni museum pintar yang memanfaatkan teknologi terkini untuk meningkatkan pengalaman pengunjung sekaligus pelestarian artefak.

Saat ini, Museum Pendidikan Nasional UPI mulai mengadopsi berbagai teknologi canggih, di antaranya Augmented Reality (AR) untuk menghidupkan objek statis, seperti rekonstruksi digital atau pemulihan warna asli artefak.

Selain itu, teknologi Virtual Reality (VR) juga digunakan untuk memungkinkan pengunjung “bepergian” ke lokasi bersejarah atau ke era asal artefak.

Ke depan, interaktivitas digital akan terus diperkuat, termasuk pengembangan galeri digital yang memungkinkan banyak pengguna mengakses arsip museum secara bersamaan, serta penerapan gamifikasi, seperti berburu harta karun digital, guna meningkatkan keterlibatan anak-anak dan remaja.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, Museum Pendidikan Nasional UPI berencana menjalin kerja sama dengan Fakultas Arkeologi Universitas Kairo (Cairo University Faculty of Archaeology) serta The National Museum of Egyptian Civilization (NMEC), museum terbesar di dunia yang menampilkan sejarah peradaban Mesir secara komprehensif.

“Museum tidak lagi sekadar tempat pameran benda kuno, tetapi menjadi jembatan antara masa lalu dan era digital,” pungkas Prof. Leli(Apih)

Exit mobile version