Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
InformatikaPeristiwaRagam Daerah

Polda Banten Gercep Ungkap Hasil Identifikasi Korban Kapal Arupadhatu 1

258
×

Polda Banten Gercep Ungkap Hasil Identifikasi Korban Kapal Arupadhatu 1

Sebarkan artikel ini

Serang, Banten | secondnewsupdate.co.id – Misteri salah satu korban kapal Arupadhatu 1 yang hilang kontak di perairan Selat Sunda saat melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai terungkap.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri secara Gerak cepat (Gercep) berhasil mengidentifikasi satu jenazah yang sebelumnya ditemukan di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.

Example 300x600

Jenazah laki-laki tanpa identitas atau Mr X tersebut dipastikan merupakan SU, salah satu Anak Buah Kapal (ABK) Arupadhatu 1.

Pengungkapan hasil identifikasi tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang dipimpin Kapolda Banten Irjen Pol Hengki, Rabu (23/9/2026). 

Kegiatan itu turut dihadiri Gubernur Banten Andra Soni, Kabasarnas Banten Al Amrad serta unsur Lanal Banten.

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan, proses identifikasi dilakukan melalui koordinasi antara Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Banten dan Biddokkes Polda Bengkulu, kemudian dilanjutkan oleh tim DVI Pusdokkes Polri.

“Setelah menerima informasi adanya penemuan jenazah di wilayah Pulau Enggano, kami berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk dilakukan proses identifikasi dan pencocokan dengan data antemortem dari keluarga korban kapal Arupadhatu 1,” ujar Hengki.

Identifikasi dilakukan menggunakan metode ilmiah dengan mencocokkan data primer, meliputi sidik jari, data gigi, serta pemeriksaan DNA keluarga dengan jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA oleh Operasi DVI Pusdokkes Polri, jenazah Mr X tersebut secara genetis teridentifikasi sebagai SU yang merupakan ABK kapal Arupadhatu 1 dan salah satu korban hilang kontak saat kapal tersebut melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau,” jelasnya.

Hasil identifikasi ini menjadi bagian penting dalam penanganan kasus hilangnya kapal Arupadhatu 1 sekaligus memberikan kepastian identitas terhadap salah satu korban.

Berangkat dari Carita, Hilang Kontak di Laut

Kapal Arupadhatu 1 sebelumnya bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB.

Kapal tersebut membawa lima jurnalis dan tiga kru dengan tujuan kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi.

Namun, sehari kemudian, Selasa, 8 September 2026 pukul 13.55 WIB, informasi mengenai hilangnya kontak dengan kapal diterima Kapolsek Carita Iptu Supandi dari seorang jurnalis Antara Banten.

Sejak laporan diterima, operasi pencarian langsung dilakukan bersama unsur gabungan. Wilayah pencarian kemudian dibagi menjadi sejumlah sektor untuk memperluas penyisiran.

Memasuki hari ke-10 pencarian, sebanyak 24 kapal dikerahkan untuk menyisir 11 sektor pencarian.

Dalam operasi tersebut, petugas menemukan sejumlah benda yang diduga berkaitan dengan aktivitas pelayaran, di antaranya life jacket, pelampung botol, helm plastik, jeriken, terpal dan galon air.

Operasi SAR Diperpanjang Tiga Hari

Kabasarnas Banten Al Amrad menjelaskan, pelaksanaan operasi pencarian dilakukan sesuai ketentuan operasi SAR selama tujuh hari dan kemudian diperpanjang tiga hari berdasarkan evaluasi kondisi di lapangan.

“Secara aturan, pencarian kami terlaksana selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, kami lakukan perpanjangan selama tiga hari. Pada pelaksanaan tujuh hari tersebut kami mendapatkan informasi adanya penemuan jenazah pada tanggal 12, kemudian sampai tanggal 14 kami lakukan evaluasi dan kami perpanjang tiga hari,” ujar Al Amrad.

Namun, selama masa perpanjangan tiga hari tersebut, tim gabungan tidak kembali menemukan tanda-tanda korban lainnya.

“Dari tiga hari pelaksanaan perpanjangan yang kami laksanakan, tidak ada tanda-tanda korban yang kami temukan selain objek-objek yang sudah kami sampaikan pada saat di lapangan. Karena itu, kami melakukan tindak lanjut evakuasi dan penghentian operasi pencarian,” jelasnya.

Basarnas Tetap Pantau Wilayah Pesisir

Meski operasi pencarian resmi dihentikan, Basarnas tetap melakukan tindak lanjut melalui koordinasi dengan sejumlah Kantor SAR dan unsur terkait di wilayah yang diperkirakan memiliki keterkaitan dengan area pencarian.

Al Amrad mengatakan koordinasi dilakukan dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung, termasuk dengan nelayan yang berada di kawasan pesisir.

“Hingga saat ini kami sudah melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung untuk wilayah pesisir, termasuk dengan para nelayan yang ada di sekitar wilayah tersebut,” katanya.

Khusus wilayah Bengkulu, tim gabungan masih melakukan penyisiran berdasarkan informasi yang diterima, termasuk di sekitar Pulau Enggano.

“Untuk wilayah Bengkulu sampai saat ini teman-teman dari tim gabungan masih melakukan penyisiran dengan informasi-informasi yang kami terima. Tindakan yang saat ini kami lakukan adalah koordinasi, termasuk edukasi kepada instansi terkait, nelayan dan masyarakat yang berada di wilayah pesisir, termasuk di sekitar Pulau Enggano,” ujarnya.

Al Amrad menegaskan, langkah tersebut merupakan tindak lanjut setelah operasi pencarian resmi dihentikan berdasarkan hasil evaluasi dan ketentuan operasi SAR.

Pencarian kapal Arupadhatu 1 sebelumnya melibatkan unsur gabungan dari berbagai instansi dengan cakupan wilayah perairan yang luas, mulai dari Banten, Lampung hingga Bengkulu.

Hingga kini, koordinasi antara Polri, Basarnas, unsur terkait dan masyarakat pesisir terus dilakukan untuk menindaklanjuti setiap informasi yang berpotensi berkaitan dengan keberadaan korban maupun benda yang diduga berasal dari kapal Arupadhatu 1. (Sanan)

Example 120x600
Example 300x600
Example 300x600